Prof Ir Panut Mulyono MEng Deng IPU ASEAN Eng
Rektor UGM
PANDEMI Covid-19 yang menyebabkan terhentinya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara luring telah mendorong adaptasi dan upaya resiliensi di bidang pendidikan tinggi. UGM merespons secara cepat kondisi darurat tersebut dengan menerapkan KBM secara daring penuh sejak 16 Maret 2020 dengan diterbitkannya Surat Edaran Rektor Nomor 1606/UN.1.P/HKL/TR/2020 tentang Tanggap Darurat Covid-19 di Lingkungan UGM dan Surat Edaran Rektor No. 1683/UN.1P/HKL/TR/tanggal 20 Maret 2020 tentang Pembatasan Maksimal Kegiatan di Kampus. Kebijakan tersebut diikuti oleh berbagai kebijakan turunannya hingga panduan kegiatan akademik menuju kenormalan baru.
Penerapan KBM daring menjadi pendorong implementasi pemanfaatan teknologi digital dalam pembelajaran yang sebenarnya telah diakselerasi sejak tahun 2018 melalui kebijakan penerapan pembelajaran secara bauran. Kebijakan tersebut memberikan bekal yang cukup bagi dosen dan mahasiswa dalam mengimplementasikan KBM daring pada masa pandemi. Hasil survei pada awal pandemi menunjukkan sebesar 85% mahasiswa menyatakan bahwa kemampuan dosen untuk melaksanakan pembelajaran tatap maya (daring) sudah baik. Pelaksanaan KBM daring tersebut juga telah meningkatkan pemahaman mahasiswa dalam penguasaan materi yang diberikan oleh dosen.
Ketika awal pandemi dan KBM daring dilaksanakan, mayoritas mahasiswa masih ada di Yogyakarta sehingga aksesibilitas terhadap koneksi internet yang berkualitas mencukupi untuk mendukung pembelajaran daring. Namun, ketika mahasiswa kembali ke kampung halaman, sebesar 48% mahasiswa menyatakan kesulitan terhadap pulsa internet dan koneksi internet yang berkualitas untuk mengikuti KBM daring pada Semester Gasal Tahun Ajaran 2020/2021.
Permasalahan itu telah terbantu oleh program dari internal UGM melalui kebijakan pemberian subsidi pulsa internet dan dilanjutkan oleh program serupa dari Kemendikbud. Setidaknya, bantuan pulsa internet dapat meringankan biaya kebutuhan internet mahasiswa. Namun, kualitas koneksi internet tetap menjadi kendala signifikan. Survei kesiapan mengikuti KBM daring pada Semester Gasal 2020/2021 menunjukkan bahwa sebesar 76% mahasiswa tinggal bersama orang tua dan 60% lebih berada di luar DIY.
Dalam mengikuti kuliah daring, sebesar 50% lebih mahasiswa menyatakan bahwa kualitas koneksi internet di daerah masing-masing tergolong tidak stabil hingga lemah sehingga pelaksanaan KBM daring pada Semester Gasal 2020/2021 akan terkendala bagi mahasiswa, terutama pada kegiatan sinkron tatap maya yang membutuhkan kualitas koneksi internet yang stabil. Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala tersebut adalah melakukan harmonisasi aktivitas pembelajaran sinkron dan asinkron, menguatkan aktivitas pembelajaran asinkron, dan mendorong mahasiswa menjadi seorang pembelajar mandiri (self learner).
UGM, sejak tahun 2004, telah mengembangkan sistem manajemen pembelajaran (Learning Management System) eLisa yang kemudian pada tahun 2017 dikembangkan menjadi LMS baru, eLOK, yang berbasis moodle untuk meningkatkan kualitas pembelajaran asinkron, menfasilitasi kolaborasi antar-perguruan tinggi, dan akses pembelajaran terbuka bagi masyarakat luas. Pemanfaatan LMS dalam KBM daring telah mengalami peningkatan yang luar biasa pesat. Hal ini ditunjukkan dengan akses ke eLOK mencapai 6.000 pengguna lebih setiap jam.
Hasil survei kepada dosen juga menunjukkan 74% dosen mengharapkan pada Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021 dapat dilaksanakan secara bauran (blended). Kebutuhan ini didasarkan pada evaluasi internal atas kebutuhan pencapaian target Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) yang tetap membutuhkan interaksi pembelajaran secara luring terbatas. Jadi, UGM telah menyiapkan kebijakan dan panduan implementasi KBM Bauran bagi program studi di UGM dengan prinsip keselamatan dan kesehatan sebagai prioritas utama dalam kegiatan pembelajaran. (*/Bersambung)











Komentar