oleh

Ketika Perempuan Buruh Gendong Pasar Giwangan Berkesempatan Mengikuti Penguatan Karakter Religius

YOGYAKARTA – Para perempuan buruh gendong anggota Paguyuban Sayuk Rukun Pasar Giwangan Yogyakarta mendapat penyuluhan pendampingan dalam program pengabdian masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Tim pengabdi Fitriah M Suud, Azam Syukur Rahmatullah, dan Mariah Kibtiyah dari Program Studi Psikologi Pendidikan Islam UMY menuturkan, program dilaksanakan lebih kurang selama 6 bulan dari Februari hingga September 2020 dengan 4 kali pertemuan tiap bulannya.

Dijelaskan Fitriah, program penguatan karakter religius bagi para perempuan buruh gendong tersebut dilaksanakan melalui sejumlah tahapan. Tahap awal berupa identifikasi berapa jumlah perempuan buruh gendong yang belum mampu membaca Alquran dan buta aksara. Selain itu juga mengidentifikasi jam kerja mereka. Tahap berikutnya peneliti memberi penyuluhan karakter dengan bahasa ringan dibumbui cerita hikmah diambil dari kisah budaya Jawa agar mudah diterima dan dipahami. Tak lupa tim berupaya membangkitkan motivasi agar mereka bersedia dengan senang hati mengikuti pengajian, mengikuti pendampingan dan pelatihan praktik membaca Alquran sesuai waktu yang dimiliki, khususnya bagi para buruh gendong yang belum mampu membaca Alquran.

Baca Juga  BMKG Ingatkan 5 Provinsi Ini Siaga Banjir Dua Hari Mendatang
Fitriah M Suud (kanan) menyerahkan Alquran bagi ibu-ibu buruh gendong Pasar Giwangan (Foto: Sukron/Wiradesa)

Dalam kegiatan tersebut ada beberapa target capaian yakni, meningkatnya pencerahan, pemahaman dan pemaknaan perempuan buruh gendong terhadap pentingnya belajar membaca Alquran dan kewajiban menjalankan rutinitas ibadah kepada Allah Swt. Target lain menciptakan suasana pasar tradisional yang religius dan ramah perempuan di Kota Yogyakarta, serta menciptakan kebiasaan menyisihkan waktu di tempat kerja untuk melaksanakan kegiatan keagamaan bagi para pekerja.

Dari pengabdian masyarakat tersebut, diungkapkan Fitriah, beberapa solusi telah berhasil didapatkan. Berupa penyuluhan rutin tentang pemahaman keagamaan bagi para perempuan buruh gendong di pasar. Pemahaman agama pun dapat disampaikan secara komprehensif tak semata persoalan ibadah tetapi juga memberi penguatan untuk meningkatkan kesadaran kebermaknaan hidup. Berikutnya, memberi pelatihan membaca Alquran dan baca tulis secara rutin sesuai waktu yang dapat dimanfaatkan di sela pekerjaan para buruh gendong. Program ini diharapkan dapat terus berlanjut sehingga semua perempuan buruh gendong di pasar Giwangan dapat membaca Alquran dengan baik. Apalagi program pelatihan bersifat pengkaderan sehingga buruh gendong yang sudah mampu membaca Alquran akan mendampingi rekannya yang masih belum lancar membaca Alquran.

Baca Juga  Belasan Ular Piton Teror Pemukiman Warga Gunungkidul

Fitriah menambahkan, para perempuan buruh gendong Pasar Giwangan sebagaimana para perempuan buruh gendong di pasar tradisional lain, sehari-hari bekerja dari pagi hingga pukul 24.00 mengangkat beban gendongan 60-120 kg, merupakan pekerjaan penuh risiko tetapi sejak 2013 setelah mendapat pendampingan dan advokasi Yayasan Annisa Swasti, setidaknya mereka punya tempat untuk mengadu, menyampaikan keluhan. Lepas dari persoalan ekonomi, kesehatan, dan risiko pelecehan seksual, para perempuan buruh gendong hampir semuanya muslimah. Karena kesibukan bekerja bertahun-tahun dari survei awal tim, banyak diantara mereka belum mampu membaca Alquran dan buta aksara. Dan tim peneliti merasa terpanggil untuk melakukan pendampingan. Setelah berlangsung pendampingan, lanjut Fitriah, tak sedikit yang merasa senang bisa belajar, membantu teman belajar. Rasa hampa dalam keseharian akibat semua waktu tersita buat mencari nafkah dengan sentuhan pengajian mereka merasakan hidupnya lebih bermakna. (Sukron/wiradesa.co)

Komentar

News Feed