Sleman – Kasus Covid-19 di wilayah Kabupaten Sleman terus bertambah dan menimbulkan klaster klaster baru. Kali ini, sebuah kasus Covid-19 muncul di sebuah destinasi wisata di wilayah Kapanewonan Sleman, Kampung Flory. Belasan orang terpapar Covid-19 di Restoran sekaligus destinasi wisata Kampung Flory.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo saat dikonfirmasi awak media, Jumat (2/4/2021) membenarkan adanya kasus positif Covid-19 yang datang dari tempat kuliner Bali Ndeso, Kampung Flory di Tlogoadi, Mlati, Sleman. Setidaknya ada 17 karyawan Kampung Flory yang dinyatakan positif Covid-19 .
Terpaparnya belasan karyawan kampung Flory tersebut bermula ketika seorang karyawan resto tersebut yang tidak masuk kerja alasannya karena sakit. Gejala yang dirasakan oleh karyawan yang sakit tersebut mirip dengan Covid-19 . Sehingga karyawan tersebut berinisiatif memeriksakan diri di Fasilitas Kesehatan setempat.
“Kemudian karyawan tersebut melakukan swab antigen mandiri tanggal 26 Maret 2021 dan ternyata positif Covid-19 ,” terangnya.
Karena ada salah satu karyawan yang dinyatakan positif maka Puskesmas setempat berinisiatif melakukan tracing terharap yang melakukan kontak erat dengan karyawan yang positif tersebut. Tak hanya karyawan, namun juga keluarga karyawan yang dilakukan tracing.
Joko menyebut setidaknya ada 100 orang yang masuk tracing dari Puskesmas setempat. Dan akhirnya ada 17 orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dari resto Bali Ndeso Kampung Flory tersebut. Dari jumlah tersebut semuanya merupakan karyawan resto tersebut.
“Semuanya tidak memiliki gejala. Oleh sebab itu, mereka hanya melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing,” tambahnya.
Akhirnya Tim Satgas Covid-19 setempat memutuskan untuk melakukan penutupan sementara Kampung Flory. Penutupan sementara itu diimbau untuk diperpanjang dari tanggal 1 April – 14 April 2021 mendatang. Untuk selanjutnya bagi karyawan yang terkonfirmasi positif Covid-19 diimbau untuk tetap menjalani isolasi mandiri. Serta resto pun akan tetap dilakukan penyemprotan disinfektan.
Joko menambahkan, sampai saat ini tracing kontak terus dilakukan oleh petugas Puskesmas setempat. Dan tidak menutup kemungkinan nantinya pengunjung kampung Flroy juga akan menjadi sasaran tracing covid19. Karena dikhawatirkan juga ada pengunjung yang terpapar.
“Tidak menutup kemungkinan nanti pengunjung kampung Flory dalam kurun waktu tertentu akan ditracing juga,” ujarnya.
Hanya saja, untuk tracing kepada pengunjung membutuhkan kerjasama dari masyarakat luas. Sebab, sampai saat ini baik pengelola ataupun Dinas Kesehatan tidak mengantongi data siapa saja pengunjung Kampung Flory. Oleh karena itu, ia meminta kepada pengunjung Kampung Flory untuk melaporkan diri.
Kendati merupakan salah satu destinasi wisata, namun Joko masih enggan jika penyebaran Covid 19 di Kampung Flory adalah klaster desttinasi wisata. Ia masih berkata klaster kampung Flroy belum bisa digenralisir sebagai klaster destinasi wisata.
“Menurut saya belum bisa digeneralisir sebagai klaster destinasi wisata,” tandasnya. (*/cr4)
Sumber : kumparan.com











Komentar