oleh

Bakul Bakmi Mbah Gito Bangun Maha Karya Joglo Tri Yakso

YOGYAKARTA – Mbah Gito, seorang bakul bakmi di Yogyakarta, berhasil membangun kawasan bernuansa budaya Jawa dengan tiga buah joglo besar di tanah kelahirannya Dusun Karanglor, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Maha karya ini diberi nama Joglo Tri Yakso Mbah Gito.

Joglo Tri Yakso Mbah Gito dilengkapi dengan Sasono Seni Budoyo Ndesane Mbah Gito, pawon Jowo, rumah limasan khas Jawa, dan tempat pertemuan. Pengunjung bisa menikmati kuliner tempo dulu dan menonton pentas wayang, seni tari, dan seni kerawitan yang dibawakan oleh warga desa.

Pembangunan Joglo Tri Yakso dikerjakan dengan manual. Mbah Gito dibantu oleh puluhan tukang kayu dan tukang batu mendirikan joglo dengan perhitungan wong ndeso. “Saya ini wong bodo, tapi cukup ngerti soal bangunan,” ujar Mbah Gito saat ditemui wartawan Wiradesa.co di Dusun Karanglor, Rabu (2/9/2020).

Mbah Gito bersama wartawan Wiradesa.co (Foto: Ono/Wiradesa.co)

Hampir semua bangunan terbuat dari kayu. Cagak di joglo menggunakan kayu munggur (trembesi) yang usianya ratusan tahun. Untuk mendirikan bangunan dilakukan dengan derek dan didorong puluhan orang. Pemasangan cagak memakai sistem cakar ayam versi Mbah Gito. Cara menyambung kayu juga khas bakul bakmi ini.

Baca Juga  Meski Lansia, Witarsih Produktif Bekerja

Bangunan Joglo Tri Yakso Mbah Gito di Bejiharjo, dirancang untuk tempat kuliner bernuansa budaya Jawa. Baik bangunan, masakan, para penyaji, dan pengisi hiburan semuanya bernuansa budaya Jawa.

Bangunan di atas tanah seluas 9.500 m2 terdiri dari tiga joglo besar, masing-masing berukuran sekitar 17 meter kali 17 meter. Susunan bangunan disesuaikan dengan pakem Jawa, ada linkring, joglo, dan limasan. Sebelahnya ada gandok dan pawon. “Linkring untuk pertemuan dengan tamu yang tidak lama, joglo untuk pertemuan warga besar, dan limasan untuk keluarga khusus atau pribadi,” ujar Mbah Gito.

Saat ditemui wartawan Wiradesa, Mbah Gito yang nama aslinya Sugito terkenal dengan juragan Bakmi Mbah Gito di Yogyakarta, sedang mlatoki kayu untuk membuat dingklik. Tempat duduk dari kayu itu yang nantinya dipergunakan para pengunjung untuk duduk sambil menikmati kuliner rumahan khas Jawa jadhul.

Mbah Gito sedang membuat dingklik (Foto: Ono/Wiradesa.co)

Mbah Gito memang suka utak-atik. Semua bangunan yang ada di Joglo Tri Yakso dirancang dan dikerjakan oleh Mbah Gito sendiri dan dibantu 30 orang tukang kayu dan bangunan. Rancang bangun Joglo Tri Yakso unik khas Mbah Gito. Saka atau cagaknya kayu-kayu besar yang dibiarkan sesuai dengan aslinya.

Baca Juga  DIY Siap Menuju Era Quality Tourism

Cara memasang cagak, blandar, dan usuk juga di luar pakem. Pemasangan cagak-cagak besar, semuanya menggunakan pantek atau dikunci di bawah. Caranya seperti sistem cakar ayam yang biasa dipakai para lulusan teknik sipil saat membangun bangunan gedung. “Aku iki wong bodo. Tapi tak jamin bangunan ini tahan dengan goncangan gempa 7,5 SR,” ujar Mbah Gito.

Selain tiga bangunan joglo besar, Joglo Tri Yakso juga dilengkapi dengan sarana ibadah, panggung pementasan seni budaya Jawa, pawon, dan delapan rumah budaya ndeso di area belakang. Halaman di belakang bisa menampung 40 bus. Sedangkan seluruh bangunan bisa menampung 5.000 pengunjung.

Mbah Gito bersama andhongnya (Foto: Ono/Wiradesa.co)

Pada joglo utama terpasang lima andhong dan gambar-gambar wayang, serta tulisan Jawa yang sarat akan makna. Seperti Nyebar Godong Koro Sabar Sak Untoro. Ono Rego Ono Rupo Ono Roso. Becik Ketitik Olo Ketoro. Pada panggung kesenian tertulis Sasono Seni Budoyo Ndesone Mbah Gito.

Di kanan kiri panggung kesenian terdapat dua perangkat gamelan terbuat dari perunggu, Kemudian tergelar kelir dan jejeran wayang. “Wayang yang dipasang ini terbuat dari kertas. Sedangkan wayang yang terbuat dari kulit ada di kotak ini,” ujar Mbah Gito sambil menunjuk sebuah kotak di depan kelir.

Baca Juga  NU CARE-LAZISNU DIY Gulirkan Program Bantuan Siswa Kader Berkarakter

Mbah Gito berkeinginan agar kebudayaan Jowo nDeso ora ilang. Ojo mung jenenge, tapi ora ono wujude. Untuk mewujudkan cita-citanya, Mbah Gito melibatkan grup karawitan, grup tari, dan wayang kulit untuk tampil menghibur pengunjung Joglo Tri Yakso. Grup karawitan ada 40 orang, grup tari ada 65 orang, dan grup wayang kulit ada 15 orang. Pokoknya budaya Jawa jangan sampai hilang. (Ono/Wiradesa.co)

Komentar

News Feed