oleh

Keluarga Korban Berharap Pelaku Dihukum Mati

 

WATES – Kepergian Takdir Sunaryati (22) alias Dadik, gadis difabel berkaki palsu warga Paingan Sendangsari Pengasih yang menjadi korban pembunuhan berantai di Kulonprogo, meninggalkan luka mendalam bagi keluarganya. Keluarga Dadik menuntut agar pelaku pembunuhan yakni Nurma Andika Fauzy (22) alias Dika dihukum seberat-beratnya, bahkan bila mungkin hukuman mati.

“Iya (hukuman mati). Dihukum seberat-beratnya pokoknya. Harus sesuai sama perbuatannya,” kata kakak Dadik, Novianti (35), saat ditemui di kediamannya, Sabtu (3/4).

Ibunda Dadik, Ratikem, nampak terpukul dengan kepergian putri bungsunya. Untuk berjalan pun, ia harus dipapah sejumlah kerabat dan tetangga. Perempuan paruh baya itu sesekali menangis dan pandangan matanya kosong. Noviani dan keluarga lainnya memang begitu geram dengan perbuatan Dika yang tega menghabisi nyawa Dadik di Dermaga Wisata Pantai Glagah, Temon, demi bisa menguasai barang berharganya. Apalagi diketahui, Dadik bukanlah korban pertama. Ada Dessy Sri Diantary (22) warga Gadingan Wates yang terlebih dahulu dibunuh Dika di Wisma Sermo, Kedungtangkil Karangsari Pengasih.

Sambil bergetar menahan amarah, Noviani mengaku tidak rela, nyawa adik bungsunya dihabisi Dika. Ia meminta agar pihak berwajib bertindak tegas memproses hukum lelaki bejat itu.
“Nggak rela pokoknya, nggak terima,” kata Novi dengan mata berkaca-kaca.

Baca Juga  Dinkes Sleman Atur Strategi Cegah Kerumunan, 1.000 ASN Sleman Divaksin

Luapan emosi Novi wajar adanya. Sebab selama ini, Dika sudah mengenal baik keluarga Dadik. Warga Tawangsari Pengasih itu kerap berkunjung ke rumahnya, lantaran Dika merupakan teman suami Novi, kakak ipar Dadik. Beberapa kali, Dadik juga berkesempatan pergi bersama Dika, meminta tolong diantarkan ke suatu tempat untuk menyelesaikan keperluan. Meski demikian, Novi membantah adanya hubungan asmara antara Dika dengan Dadik.
“Bukan (pacarnya). Dika itu sudah punya istri. Istrinya Dika itu temannya Dadik. Pacar Dadik dulu juga temannya Dika, jadi mereka sudah saling kenal,” kata Novi seperti diberitakan harianmerapi.com.

Namun, keluarga Dadik kemudian menjaga jarak dengan Dika setelah mengetahui bahwa laki-laki itu beberapa kali tersandung kasus kriminalitas. Dika disebut Novi sering melarikan diri ke sana ke mari dan sempat dua kali masuk penjara. Informasi terakhir yang diterima Novi, Dika terlibat kasus pencurian emas. Sejak itulah, keluarga Dadik kerap mendiamkan Dika saat ia datang ke rumah.
Seolah tak merasa, Dika tetap sering berkunjung ke rumah Dadik. Beberapa hari sebelum kejadian pembunuhan Dadik, Dika bahkan ada di rumah Dadik dalam waktu lama.

“Hari Rabu (24/3), dia di sini lama, sehari. Lalu Kamis (25/3) sore pas Maghrib juga ke sini,” ungkap Novi.

Baca Juga  PENDIDIKAN TINGGI: SMSI Dukung Pendirian Universitas Negeri Tapanuli Raya

Novi kemudian bercerita, sebelum kejadian pembunuhan itu Dadik meninggalkan rumah sekira pukul 17.00 WIB. Ia pamit pergi sebentar ke rumah temannya yang menjadi saksi dalam kasus ini, yakni Septi Arini (22) di Kepek Pengasih. Dadik mengendarai motor namun tidak menggunakan helm.
Tiga jam kemudian, sekira pukul 19.00 WIB, Novi merasa resah karena Dadik belum juga pulang. Ia sempat bertanya ke suaminya, dan dijawab Dadik pergi ke rumah Septi. Kegelisahan Novi semakin bertambah ketika menghubungi Septi, diketahui Dadik ternyata pergi bersama Dika. Apalagi, Dika juga sempat bilang ke suami Novi bahwa dirinya akan pergi ke Sumatera.

“Kata Septi, Dadik diajak pergi Dika karena mau perpisahan. Dika mau pergi ke Sumatera. Tapi Dadik nggak boleh ngomong sama keluarga kalau mau pergi sama Dika,” imbuh Novi.

Betapa terkejutnya keluarga Novi ketika sekira pukul 21.30 WIB salah satu saudara memberitahukan informasi adanya penemuan mayat wanita muda tanpa identitas di Dermaga Wisata Pantai Glagah. Novi seketika lemas saat melihat pakaian dan asesoris jam tangan yang dikenakan mayat wanita muda tersebut. Ia yakin, mayat itu adalah adiknya.

“Baju dan jam tangan itu punya Dadik.Seketika, kami langsung menduga bahwa pembunuhnya adalah Dika,” tegas Novi.

Baca Juga  Sambut Nataru 2020, Basarnas Yogyakarta Siagakan 50 Personel

Ditanya terkait keseharian Dadik, menurut Novi, adiknya adalah pribadi yang ceria dan suka bercanda. Ia kerap bersikap riang, namun mendadak jadi pendiam sebelum kepergiannya. Dadik tiba-tiba tak banyak bicara.

Sebelum meninggal, Dadik bekerja di sebuah pabrik arang tak jauh dari rumahnya. Putri bungsu dari pasangan Ratikem dan almarhum Paimin itu merupakan penyandang disabilitas dengan kekurangan fisik pada bagian kaki dan tangan sejak lahir. Karenanya, Dadik menggunakan kaki palsu di bagian kiri. Pembunuhan terhadap gadis difabel itupun mengundang keprihatinan publik. Banyak masyarakat yang mengecam tindakan bejat Dika menghabisi nyawa Dadik. Pihak keluarga juga mengaku sudah mendengar tentang cara Dika membunuh Dadik.
“Katanya dikasih minuman soda yang dicampur sama obat sakit kepala, jadi mulutnya berbusa,” ucap Novi.

Di rumah duka, cukup banyak pelayat yang datang untuk ikut berbela sungkawa atas kepergian Dadik. Sebelum diserahkan ke pihak keluarga, jenazah Dadik terlebih dahulu diotopsi pihak berwajib. Meninggalnya Dadik yang menjadi korban pembunuhan jelas mengejutan warga. Gadis tersebut selama ini dikenal ramah, mau menyapa siapa saja tetangga yang ditemuinya di jalan. (Unt/harianmerapi.com)

 

Komentar

News Feed