WATES – Ancaman hukuman 15 tahun penjara yang membayangi pelaku pembunuhan berantai di Kulonprogo, Nurma Andika Fauzy (22) alias Dika, dinilai keluarga korban belum setimpal. Perbuatan Dika menghabisi nyawa dua gadis yang menjadi korbannya, Dessy Sri Diantary (22) warga Gadingan Wates dan Takdir Sunaryati (22) alias Dadik, gadis difabel berkaki palsu warga Paingan Sendangsari Pengasih dinilai sadis dan keji sehingga layak dijatuhi hukuman lebih berat.
Dihubungi Senin (5/4), kakak korban Dessy, Raka Perdana Putra, merasa geram dengan perbuatan Dika yang tega menghabisi nyawa adiknya. Apalagi, Dessy dibunuh dengan cara yang keji. Ia dicekoki oplosan maut yakni minuman bersoda yang dicampur tiga butir obat sakit kepala. Dalam kondisi tidak berdaya, Dika membenturkan kepala Dessy ke lantai hingga tewas. Cara yang sama juga dilakukan Dika saat membunuh Dadik.
Raka sudah mendengar informasi bahwa pembunuh adiknya telah tertangkap. Namun hingga kini, ia belum diberi kesempatan untuk bertemu dengan pembunuh berdarah dingin warga Tawangsari Pengasih tersebut.
“Sudah tahu kalau (pembunuhnya) ketangkap, tapi ngga dibolehin ketemu,” ucapnya seperti diberitakan harianmerapi.com.
Mendengar ancaman hukuman 15 tahun penjara yang dimungkinkan akan diterapkan terhadap Dika, Raka merasa tidak terima. Sebab karena perbuatan keji Dika, adiknya kini telah tiada. Ia pun meminta agar polisi bertindak tegas, menghukum Dika dengan hukuman mati.
“Kalau dari keluarga saya, mintanya dihukum seberat-beratnya, yang setimpal sama perbuatan dia (hukuman mati), nyawa dibalas nyawa,” katanya.
Raka menyebut, dari keluarga Dika tidak ada iktikad baik, berkunjung ke keluarga Dessy untuk meminta maaf. Raka bahkan sempat mendatangi rumah Dika, namun pintunya selalu tertutup.
“Sama sekali ngga ada keluarga sana (pelaku) yang datang ke kami. Saya bahkan sudah ke sana sendirian, tapi pintunya tutup terus,” kata Raka.
Ditanya terkait hubungan Dessy dengan pelaku, Raka mengaku tidak tahu. Ia dan keluarga sama sekali tidak mengenal Dika, bahkan tidak familiar dengan wajahnya ketika melihat foto pembunuh berantai itu. Dika juga disebutnya belum pernah main ke rumah Dessy.
“Dessy juga nggak pernah cerita sama sekali tentang pelaku. Pacarnya Dessy bukan itu. Malah pas hari H peristiwa itu, pacarnya nyari Dessy kesana kemari tapi nggak ketemu,” imbuhnya.
Hingga dua pekan kepergian Dessy, Raka seolah masih belum percaya bila adiknya sudah tiada. Ia merasa begitu dekat dengan Dessy, karena selalu pergi berdua. Dessy kerap pergi diantar Raka, namun saat kejadian, adiknya itu minta izin pergi sendiri.
“Tiap lewat jalan yang biasa dilalui bareng, saya masih sering bilang, Ya Alloh masak kamu nggak balik-balik dek,” ujarnya sedih.
Di mata keluarga, Dessy dinilai sebagai gadis yang riang dan humoris. Anak bungsu dua bersaudara dari pasangan Sunarko dan Boikem itu pintar memecah suasana, kerap mengajak bercanda hingga seluruh anggota keluarganya tertawa.
“Misalnya pas lagi makan, tiba-tiba dia nyeletuk bilang apa gitu yang lucu, bikin saya sama ibu bapak ketawa. Saya kangen sekali sama Dessy,” pungkas Raka. (Unt/harianmerapi.com)











Komentar