Jogja.siberindo.co – Angkringan dengan menu khas nasi kucing sambal teri, sambal tomat, sate telur puyuh, lauk gorengan ati ayam, gorengan tempe, aneka baceman, sate usus, sate kerang ditambah aneka minuman es tape ketan, jahe susu, kopi dan teh panas legi kenthel, tak pernah kehilangan pelanggan. Warung angkringan biar pun bermenu sederhana, tempat duduk lesehan ala kadarnya, ada pula yang memakai kursi dan meja di sekitar gerobak selalu menarik bagi khalayak. M Helmi Rakhman, pelaku usaha angkringan di Yogya mengakui, bisnis angkringan selalu berkembang.
“Angkringan memang tak pernah surut. Bahkan model bisnisnya bisa menyesuaikan. Mau dikelola tradisional oke, dibikin kontemporer bisa, mau ala kafe pun tak masalah,” terang Helmi beberapa waktu lalu ditemui di Angkring Jogja Helmi Office, Jalan Bimosari Tahunan Umbulharjo, Kota Yogya.
Helmi berkisah, bisnis angkringan yang digelutinya berkembang dinamis. Tak hanya terpaku pada jualan makanan, dia pun sejak awal sudah menjual gerobak, menyewakan gerobak, membangun sistem kerja sama, buka angkringan pada event tertentu, investasi perorangan pada bisnis angkringan, franchise, bikin merchandise tematik Jogja dan angkringan juga pengembangan aplikasi angkring.
Gerobak dilepas Helmi Rp3,5 juta dibikin dari kayu berkualitas sehingga awet. Bagi yang berat beli gerobak, dibuka peluang sewa gerobak per bulan Rp300 ribu. “Sewa sudah sama alat seperti ceret, kursi, terpal, anglo, gelas standar angkring. Pokoknya siap dipakai jualan,” tutur Helmi.


Helmi memahami, tak semua orang yang berminat buka angkringan termasuk orang yang pandai dan punya waktu buat memasak. Bagi yang menginginkan kepraktisan, buka angkringan tanpa ribet, dia tawarkan sistem kerja sama. Ada kerja sama tempat, kerja sama makanan, minuman, sewa gerobak dan investasi. Dengan sistem yang terus dibangun dan diperkuat Helmi kini mengelola 72 unit warung angkringan tersebar di sejumlah wilayah di Yogya.
“Yang dikelola sendiri 72 unit. Yang sistem franchise ada 12,” ucapnya kalem. Helmi menceritakan, sebagai pelaku usaha angkringan, dia tak berangkat dari kondisi berkecukupan. Kondisi sulit memaksa Helmi buka usaha. Ketika ia merampungkan kuliah Teknik Mesin UGM beberapa tahun lalu ayahnya Amrulloh Suparno terserang stroke. Sementara ibundanya Kusbandiyah menyandang tuna netra. Lama menunggui sang ayah dirawat di rumah sakit, Helmi mulai putar otak. Mau mencari kerja mesti meninggalkan orang tua rasanya tak tega. Singkat cerita, Helmi nekat jualan jagung bakar di pinggir jalan di kawasan Kusumanegara. Niatnya tulus, tak sekadar iseng jualan sembari menanti masa lulus kuliah.
Kenekatan dan keseriusan Helmi jualan jagung bakar membawa hikmah. Ide jualan angkringan justru ia peroleh dari tempat jualan jagung bakar. Banyak pembeli jagung bakar cari minuman di angkringan sebelahnya. Dari tukar pikiran dengan pemilik angkringan, Helmi memulai babak baru dengan cara yang cukup ekstrem. Pasalnya, duit yang ia pakai buat modal diambil dari tabungan beasiswa yang dikumpulkan. Uang tabungan sebesar Rp10 juta dipakai bikin 10 unit gerobak angkringan. Dua unit laku terjual Rp7 juta dipakai buat tambahan modal.
Dibanding dahulu, sudah tentu kini Helmi lebih kuat dalam hal permodalan. Jumlah unit warung angkring terbukti terus bertambah. Jaring kerja sama makin luas. Sosok Helmi sebagai pribadi pun sudah identik dengan bisnis angkringan. Orang banyak mengenal sosok Helmi karena ia berkecimpung di bisnis angkringan meski di bidang lain Helmi berprestasi termasuk dalam hal pemberdayaan masyarakat sekitar tempat tinggal lewat usaha angkringan. Ibu-ibu yang pandai memasak namun tak mampu bikin warung diberdayakan membuat menu angkringan sementara para bapak mendapat penghasilan tambahan dari jaga angkringan tradisional sore hingga malam. Para anak muda ikut berlatih kemandirian jualan di angkringan kontemporer.
“Kuncinya menerapkan disiplin. Nguwongke, memanusiakan karyawan, tetangga sekitar. Sebanyak 96 keluarga menitipkan berbagai makanan basah dan kering ke angkringan saya. Hal lain, kepada pelanggan berusaha memberi toleransi. Tak masalah bila ada yang beli makanan terus bayarnya telat, biasanya mahasiswa yang kehabisan uang saku,” urainya.
Menu sego singo disebut Helmi sebagai salah satu ciri khas dari angkringannya. Porsi nasi lebih banyak dengan sambal pedas. Selain sego singo menu lain di antaranya nasi sambal teri, nasi oseng tempe, nasi sambal bandeng, nasi usus sambal ijo, oseng ati, ceker setan, sosis, nuget, minuman kencur geprek, wedang uwuh, laser secang sere, kunir geprek, kopi tubruk, jahe geprek. Untuk angkringan kontemporer diatur jejer dua gerobak dalam satu lokasi, terdapat meja kursi ala kafe, meski berada di pinggir jalan. (Sukron/wiradesa.co)











Komentar