oleh

Dendam Positif: Kisah Kang Girin Juragan Batik Asal Sembungan Kulonprogo

Kemiskinan ternyata juga bisa memacu seseorang untuk bermimpi, punya cita-cita tinggi, dan berusaha keras mewujudkannya.

Jogja.siberindo.co – MISKIN itu memprihatinkan. Karena dengan kemiskinan, seseorang tidak bisa mendapatkan kehidupan yang layak. Sandang, pangan, dan papan tidak tercukupi, serba kekurangan.

Miskin itu menyedihkan. Karena dengan kemiskinan, seseorang tidak bisa memperolah pendidikan yang layak. Jangankan pendidikan tinggi, pendidikan menengah saja tifak didapatkannya.

Namun, kemiskinan ternyata juga bisa memacu seseorang untuk bermimpi, punya cita-cita tinggi, dan berusaha keras mewujudkannya. Karena kemiskinan itu, Sogirin (51 tahun) justru memiliki mimpi-mimpi yang terwujud saat ini.

Ada dua mimpi yang menyebabkan Kang Girin, panggilan akrab Sogirin, berusaha mewujudkan keinginannya. Pertama, memiliki usaha di rumah yang dulu ditempati Ramak dan Simboknya serta empat kakaknya di Dusun Sembungan, Desa Gulurejo, Kacamatan Lendah, Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kedua, memiliki tempat peristirahatan dan resto di puncak Gunung Pecok, yang dulu tempat bermainnya semasa masih kecil. Dulu Kang Girin dan teman-temannya jika ingin melihat kota, naik ke gunung di Dusun Wonolopo lalu melihat kerlap-kerlip lampu kota dari puncak Gunung Pecok.

Untuk mewujudkan mimpinya, Kang Girin nekat pergi ke kota. Rumah pakliknya Sugimin di Daengan Kota Yogyakarta yang menjadi tujuan utama. “Jujur, aku isin dengan teman-temanku. Mereka bisa sekolah di SMP, tapi saya tidak. Ramak ora iso ngragati,” ujar Kang Girin kepada wartawan Wiradesa di rumahnya, Rabu (5/8/2020).

Ayahnya Kang Girin, seorang penderes kelapa. Sehari-harinya memanjat pohon kelapa untuk mendapatkan air gula kelapa. Pernah dua kali, Kasimin, ayahnya Kang Girin, jatuh dari pohon kelapa. Akibat terjatuh dari pohon kelapa belasan meter, membuat kakinya cacat dan jalannya pincang.

Merasakan beratnya perjuangan Ramak dan Simboknya, Kang Girin memiliki dendam, ingin keluar dari jeratan kemiskinan. Makanya selain malu dengan teman-teman sebayanya, Kang Girin sebenarnya juga ingin hidup layak. Dia ingin mendapatkan pekerjaan di kota. Kang Girin dendam dengan kemiskinan, tetapi dendam positif.

Baca Juga  Maksimalkan Pelayanan Masyarakat, DPRD DIY Tingkatkan Protokol Kesehatan Cegah Covid-19

Sesampai di rumah pakliknya, Kang Girin tidak langsung kerja. Dia berhari-hari klontang-klantung, jalan ke sana kemari yang kadang tidak jelas tujuannya. Sampai suatu saat, pakliknya Sugimin menawari kerja di juragan batik Pak Wito di Prawirotaman Yogyakarta. Tanpa pikir panjang, Kang Girin menyanggupinya.

Pertama kerja di Pak Wito Prawirotaman, Kang Girin tidak langsung disuruh membatik, tetapi disuruh nimbo, menaikkan air sumur dengan tangan, setiap pagi. “Setiap pagi, saya harus mengisi air beberapa kolam tempat untuk melarutkan malam,” kenang Kang Girin, kala tahun 1987 kerja di juragan batik terkenal saat itu.

Saat selesai mengisi air di semua kolam, Kang Girin ngrewangi memberi warna. Dengan sisa warna, wong ndeso yang tak pernah membatik ini, mencorat-coretkan di kain batik. Warna dan coraknya menjadi ekstrem dan berbeda dengan lainnya.

Pada suatu hari, hasil coretan Kang Girin katut ke toko. Lalu diminati pembeli. Namun tukang timbo ini tidak tahu jika karyanya laku. Dia takut ketika Pak Wito memanggilnya. Kang Girin sudah berpikiran macam-macam. “Jangan-jangan akan dimarahi dan dikeluarkan dari rumahnya,” pikirnya.

Ternyata Kang Girin tidak dimarahi, tetapi malah ditingkatkan pekerjaannya. Jika sebelumnya sebagai tukang timbo air, sekarang sebagai peracik warna. Kang Girin ngramu warna selama enam tahun. Sampai pada tahun 1997 diminta Pak Wito dan anaknya untuk mengelola pabrik batiknya di Prawirotaman.

Semula batik Pak Wito laku keras, tetapi sejak krisis moneter tahun 1998, usaha batiknya turun drastis. Kang Girin memutuskan pulang ke dusunnya di Sembungan. Dia kembali lagi hidup dengan jerat kemiskinan. Hidup sebagai tukang keruk pasir Kali Progo.

Untuk bangkit dan merealisasikan mimpinya, Kang Girin mencoba bakul kayu jati. Awalnya cukup lancar dan sukses. Dia beli kayu jati kampung dari penduduk di sekitar tempat tinggalnya lalu dijual ke Jepara, Klaten, Bali, dan kota lainnya. Namun karena ada kebijakan pemerintah terkait penebangan kayu hutan tahun 2006, menyebabkan kayu kampung tidak laku. Usaha Kang Girin di bidang kayu bangkrut.

Baca Juga  Berdayakan Ekonomi Lewat Kerajinan Rajut

Namun Kang Girin tidak patah semangat mengejar mimpinya. Dia teringat konconya di Pijenan Bantul yang sukses berusaha batik. Kemudian Kang Girin menemui teman akrabnya dulu saat kerja di Yogyakarta dan ingin kerja apa saja di tempat usaha batiknya. “Aku ora kuat mbayar kowe,” ujar Kang Girin menirukan ucapan temannya, saat dia meminta pekerjaan.

Kang Girin bersama cap pertamanya (Foto: Ono/Wiradesa)

Lalu temannya bernama Kresno, memberikan satu cap batik, motif Pulau, dan meminta Kang Girin membatik sendiri di rumahnya di Sembungan. Kresno mengatakan dengan cap batik ini, kamu besok iso tuku mobil. “Dia (Kresno) yang memotivasi dan memberi dorongan kuat ke saya untuk berusaha batik sendiri di rumah. Kresno yang memberi senjata saya untuk berperang,” ungkap Kang Girin.

Sayangnya, sampai sekarang Kresno menutup diri dengan Kang Girin. Setiap juragan batik dari Sembungan ingin menemuinya di rumahnya, Kresno selalu menolaknya. Tapi Kang Girin tidak sakit hati. Bisa memahami posisi Kresno. Apa pun sikap temannya itu, Kang Girin tetap akan terus menghormati, karena jalan kesuksesan hidupnya terbuka dari tangan temannya.

Setelah mendapatkan satu cap batik dari temannya, Kang Girin membeli dua cap dan kain. Sehingga memiliki tiga cap. Namun karena idenya banyak, dan tiga cap tidak mampu mengekspresikan idenya, lalu Kang Girin dibantu anaknya Bayu, mewarnai kain dengan sembarangan. Karya dengan sentuhan Bayu yang mengenyam pendidikan di SMSR dan ISI Yogya ini memiliki corak, desain, dan warna yang berbeda.

“Karya batiknya ekstrem, ora ono padane. Wong liyo ngarani batikku iku bergaya kontemporer. Aku ra ngerti, sing ngerti sing tuku. Pikiranku batik apik iku sing laku,” tutur Kang Girin yang hanya lulusan sekolah dasar. Namun dia terasah kecerdasannya di lapangan. Dia dimatangkan dengan keadaan. Kemiskinan, kegagalan, dan kesulitan yang justru mematangkan perjalanan hidup Kang Girin.

Kang Girin selalu teringat cap batik pertama pemberian temannya. (Foto: Ono/Wiradesa)

Kang Girin mengakui bahwa anaknya Bayu itu yang justru sebagai perintis Sembung Batik.  Bayu itu pendukung moral, berani bereksperimen, dan eksekutor yang ulung. “Kebetulan sing sekolah goblok. Jadi dia bisa fokus menangani usaha batik,” kata Kang Girin sambil tertawa. Tapi Kang Girin mengakui jika karya Bayu banyak dimintai pembeli.

Baca Juga  Wisuda 2.846 Sarjana dan Diploma, Rektor UGM Harap Lulusan Bawa Perubahan Bagi Bangsa

Meski sering diledek ayahnya, jika sekolahnya goblok, tetapi karya Bayu diapresiasi gurunya di SMSR dan dosennya di ISI Yogyakarta. Guru dan dosennya sering datang ke Gallery Sembung Batik di Dusun Sembungan, Gulurejo, Lendah, Kulonprogo, untuk melihat dan membeli karya Bayu.

Setelah melalui proses yang berliku, sekarang dua mimpinya telah dan akan segera terlaksana. Sembung Batik kini sudah dibilang sukses sampai mempekerjakan sekitar 50 orang, termasuk istri-istri dan anak-anak kakak-kakaknya. Kang Girin anak bungsu dari lima bersaudara, semuanya laki-laki. Kakak-kakaknya bernama Wiji, Suradi, Tumidi, dan Paijan.

Tempat peristirahatan dan calon restonya kini sedang dalam proses pembangunan. Dari tempat ini, besok Kang Girin akan mengajak teman-temannya melihat kota dari atas bukit. Sambil beristirahat, mengenang masa kanak-kanak, Kang Girin akan mengajarkan kemiskinan itu bukan akhir segalanya. Kemiskinan itu harus dijadikan cambuk untuk meraih kesuksesan.

Saat duduk di sebuah kursi di Joglo rumahnya, Kang Girin menunjuk suatu tempat yang dulu dipakai Ramaknya Kasimin dan Simboknya Rebyuk untuk mengumpulkan semua anak dan cucunya. Jika ada salah satu anak yang tidak ada, maka Ramak selalu memintanya untuk mencarinya. “Jangan-jangan ada persoalan di rumahnya. Jika ada masalah, anak yang lain diminta membantu,” ungkap Kang Girin, menirukan permintaan Ramaknya.

Rukun dan saling tolong menolong antar keluarga yang dipesankan oleh Ramak Kasimin dan Simbok Rebyuk. Kang Girin sampai sekarang terus nggodeli atau memegang teguh apa yang dipesankan orang tuanya.

Kisah Kang Girin akan terus berlanjut. Bagaimana dia membangun tempat peristirahatan dan resto di puncak Gunung Pecok? Dan realisasi kedua mimpinya itu akan diwariskan kepada siapa? Akan dipaparkan dalam tulisan berikutnya. (Ono/wiradesa.co)

Komentar

News Feed