oleh

Prof. Sahiron Dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Tafsir

YOGYAKARTA – Prof. Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin, MA., dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Ilmu Tafsir. Pengukuhan oleh Ketua Senat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Siswanto Masruri bertempat di Gedung Prof. R.H.A. Soenarjo, S.H., Rabu 7 September 2022.

Prof. Sahiron menawarkan pendekatan ma’na-cum-maghza dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat suci Alquran pada masa kontemporer. Dengan pendekatan ini, maka dapat merasakan bahwa Alquran itu sáliḥ li-kull zaman wa makan (sesuai dan relevan untuk segala zaman dan tempat).

Menurut Prof. Sahiron, ada dua horison/wawasan yang sebaiknya digabungkan ketika seseorang melakukan penafsiran. Yakni, horizon of text (horison teks) dan horizon of reader (horison pembaca/penafsir teks).

“Penggalian makna historis dan signifikansi historis dalam Pendekatan Ma’na-cum-Maghză ini dilakukan dalam rangka memperhatikan horison teks. Sedangkan rekonstruksi signifikansi kontemporer bertujuan memberikan ruang kepada penafsir/pembaca teks untuk menggunakan wawasan/horisonnya dalam mengontekstualisasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam teks yang ditafsirkan itu,” jelas Prof. Sahiron dalam pidato pengukuhannya.

Guna menjelaskan lebih jauh, Prof. Sahiron memberikan contoh bagaimana memahami ayat yang sempat viral, yakni QS. Al Maidah ayat 51:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ (٥١)

Baca Juga  Kuliah Sambil Usaha, Hasta Meraup Untung Jutaan Rupiah

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

“Jika kita mengambil al ma’na saja, maka dilarang berteman setia dengan non muslim. Kalau terpaku dengan al ma’na at tarikhi, tidak memperhatikan al maghza at tarikhi-nya maka akan keliru bersikap tidak mau berteman dengan non muslim,” papar Prof. Sahiron yang merupakan Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan, UIN Sunan Kalijaga.

Prof. Sahiron menyebutkan ada sebagian ayat yang bersifat jelas (muhkamat) dan ada yang mutasyaabihat. Ini adalah ujian, jadi jangan sampai keliru memahami ayat-ayat yang mutasyabihat. Termasuk dalam QS Al Maidah ayat 51, tidak disebutkan maghza at tarikhi-nya, sehingga tidak diketahui pesan utamanya apa.

Menurut Prof. Sahiron, jika dilihat dari konteks sejarahnya ditambah dengan analisa linguistik, maka akan mengetahui al maghza at tarikhi, pesan utama QS. Al Maidah ayat 51 bukan tentang larangan berteman dengan non muslim. Namun, larangan melakukan pengkhianatan terhadap perjanjian bersama, perjanjian politik Mitsaqul Madinah yang dikhianati oleh Yahudi dan saat itu dekat dengan Nasrani.

Baca Juga  Dosen Komunikasi Hermin Indah Wahyuni Dikukuhkan sebagai Guru Besar

“Siapa pun yang melakukan pengkhianatan maka bersiap-siap untuk tidak dapat dipercaya lagi oleh yang dikhianati. Begitulah pendekatan dengan ma’na cum maghza, tambahnya.

Setelah mendapatkan pesan utama atau maghza at tarikhi, kemudian dikembangkan untuk konteks kekinian. Jika hal itu dilakukan, maka akan merasakan sáliḥ li-kull zaman wa makan (sesuai dan relevan untuk segala zaman dan tempat) dan bisa merasakan Alquran adalah kitab suci yang penuh rahmah (kasih sayang).

Pendekatan ma’na-cum-maghza mempunyai lima paradigma, antara lain; 1) Alquran adalah wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang berfungsi sebagai rahmah kepada umat manusia dan alam semesta sejak masa Nabi hingga akhir zaman. 2) Pesan utama Alquran itu universal, didasarkan pada keyakinan bahwa Alquran salih li kull zaman wa makan. Dari dua hal ini ada dua sisi Alquran yang harus diperhatikan yakni Al-Ma’na (makna bahasa/literal) dan Al-maghza (maksud utama atau signifikansi).

3) Universalitas pesan Alquran memerlukan penafsiran, reaktualisasi dan reimplementasi yang terus menerus. 4) Tidak adanya pertentangan antara wahyu dan akal sehat. Keduanya tidak mungkin kontradiksi, melainkan saling membutuhkan. 5) Tidak adanya naskh (penghapusan) dalam Alquran.

Baca Juga  Mahasiswa KKN UIN SUKA 2020 Bantu Masyarakat Tetap Produktif di Masa Pandemi

“Ada beberapa prinsip dalam penafsiran Ma’na-cum-maghza ini. Salah satunya adalah harus selalu sadar bahwa penafsiran ini hanya relatif kebenaran, yang absolut hanyalah Allah SWT,” tegas Prof. Sahiron mengakhiri pidatonya.

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Dr. Phil Al Makin, S.Ag., M.A. mengungkapkan konsistensi Prof. Sahiron dalam belajar serta mengembangkan ilmu tafsir. Tidak heran bahwa ia mampu menemukan cara, teori, dan metodenya sendiri untuk menafsirkan ayat.

“Tujuan utama pendekatan yang ditawarkan yaitu untuk menggali makna dan signifikansi historis dari ayat yang ditafsirkan dan kemudian mengembangkan signifikansi historis tersebut menjadi signifikansi dinamis. Metode tafsirnya bersifat dinamika di luar dan dinamika di dalam diri kita, sesuai dengan ciri khas tafsir di UIN Sunan Kalijaga,” katanya.

Sementara itu, menurut Kepala BPIP, Prof. Yudian Wahyudi, sebagai dosen dan abdi negara, Prof. Sahiron adalah sosok yang taat beribadah, cerdas, tekun, setia kawan, dan care pada masyarakat semua kalangan, dan semua staf di kampus UIN. Prof. Sahiron juga sangat peduli pada kesejahteraan dan pendidikan karier semua pegawai UIN Sunan Kalijaga. (*/serikatnews.com)

News Feed