oleh

Inovasi Sarung Batik untuk Kaum Milenial

YOGYAKARTA – Sarung Kanjeng, sebuah brand sarung batik dari Pekalongan berupaya menawarkan konsep sarung sebagai pakaian sehari-hari (daily outfit) kelompok milenial.

Pasalnya, selama ini sarung batik selalu diidentikkan dengan busana kaum santri atau pakaian untuk beribadah. Sarung Kanjeng hadir demi mendobrak cara pandang konvensional tersebut.

“Jadi sarung batik tidak hanya dipakai pas sholat atau di kawasan pesantren saja. Bisa juga untuk ke kafe atau warung kopi,” jelas Ma’ruf Al-Haddad, manajer kreatif Sarung Kanjeng dalam wawancara liputan (07/05/21).

Baca Juga  Desa Pekiringan Sentra Batik di Purbalingga

Terobosan desain yang dilakukan oleh Sarung Kanjeng berupaya untuk mematahkan stereotipe kuno pada sarung batik.

Desain motif kontemporer yang dikreasikan Sarung Kanjeng sangat mungkin untuk dipadu-padakan dengan style kekinian anak muda.

“Anak-anak muda harus didorong agar berani mix & match gaya sarung batik dengan sepatu sporty atau kostum trendi,” ungkap Ma’ruf.

Baca Juga  Belajar dari Efektivitas Jateng di Rumah Saja, Purbalingga Lakukan Gerakan Tiga Hari di Rumah Saja
Foto: Dok. Sarung Kanjeng

Inovasi desain sarung batik dan variasi pemakaiannya dapat menjadi sebuah tren fesyen baru.

Alhasil, market akan terbuka lebih luas. Dalam hal ini, kaum milenial merupakan target utama.

Selama 2 tahun perkembangannya, Sarung Kanjeng telah berkolaborasi dengan dua kreator, Sugito Ha Es dan Sarah Monica.

Bersama seniman Sugito Ha Es, Sarung Kanjeng bekerjasama menciptakan motif berbasiskan Aksara Jawa. Sedangkan dengan Sarah Monica, Sarung Kanjeng berkolaborasi membuat kreasi desain khusus bagi perempuan (Sarong for Ladies).

Baca Juga  Tim Sapu Jagad Bekuk Dua Perampok Berkapak

“Sarung batik merupakan produk tradisi. Harus dikembangkan sesuai tren busana anak muda zaman sekarang. Itu visi dari Sarung Kanjeng,” tambah Ma’ruf. (*/serikatnews.com)

Komentar

News Feed