YOGYAKARTA – Seorang pedagang kaki lima Malioboro meninggal dunia akibat terpapar virus COVID-19. Pemerintah daerah diminta serius menangani pandemi virus korona, agar tidak ada klaster baru di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Jalankan tujuh langkah strategis yang sudah dirumuskan.
“Adanya klaster baru penyebaran Covid-19 di Yogyakarta yang berasal dari pedagang kaki lima di Malioboro memprihatinkan semua. Pemda harus benar-benar serius dalam memberikan pitulungan, bekerja tangani dampak pandemi agar tak ada lagi kluster baru,” kata Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIY dari Fraksi PDI Perjuangan, Senin (7/9/2020).
Secara khusus, Eko Suwanto menyampaikan rasa duka cita kepada korban meninggal karena penyakit menular Covid-19 dan berharap warga masyarakat yang memiliki riwayat kontak segera memanfaatkan faskes terdekat untuk membantu penelusuran dan mencegah penularan lebih luas.
“Semoga seluruh pasien yang sakit juga diberikan kesehatan dengan adanya pitulungan pelayanan kesehatan dari faskes yang ada. Ayo, selalu jalankan protokol kesehatan dengan berdisiplin cuci tangan atau jalankan PHBS, pakai masker dan jaga diri dan lingkungan agar senantiasa bersih dan sehat,” kata Eko Suwanto, politisi PDI Perjuangan.
Seperti diketahui, pada Jumat (4/9/2020) malam ada satu pedagang PKL yang biasa jualan tas dan dompet di Zona 3 Malioboro meninggal, yang terkonfirmasi positif COVID-19. Kronologinya, sejak 20-26 Agustus pedagang tersebut masih jualan aktif di Malioboro dari pagi sampai malam.
Tanggal 27 Agustus sudah tidak jualan, karena badan terasa demam saat sore hari, lemas dan batuk. Dia tinggal di rumah saja. Tanggal 1 September periksa di puskesmas. Tanggal 2 September dibawa ke rumah sakit. Rapid test reaktif. Dan tanggal 4 September hasil Swab keluar konfirmasi positif. Pedagang itu akhirnya meninggal sore harinya, dan dimakamkan malam hari itu juga di Kulonprogo.
“Jadi sejak 27 Agustus tidak jualan lagi. Dalam upaya tracing sejak Sabtu pagi, dua ruas PKL di Zona 3 yang ada 8 PKL sudah kita liburkan. Kedua ruas itu yang jualannya berdekatan dengan ibu pedagang PKL yang berumur 68 tahun. Sejak Jumat malam sudah dilakukan tracing terhadap yang melakukan kontak erat dengan almarhumah. Baik yang ada di sekitar lapak jualan PKL maupun yang ada di sekitar rumah tinggalnya di Wilayah Suryatmajan Kecamatan Danurejan Yogyakarta,” papar Heroe Purwadi, Wakil Walikota Yogyakarta.
Keluarganya ada yang kontak erat yaitu anak menantu dan cucunya. Anak dan menantu yang mengantar berobat ke puskesmas dan yang sempat menggantikan jualan. Dengan demikian, kontak erat di keluarga maupun di lapak PKL Malioboro, sudah diminta isolasi mandiri, dan dilakukan tracing.
Sementara pedagang PKL lainnya masih diizinkan untuk berjualan dan kondisi di Malioboro masih aman. Sebab yang kontak erat sudah diliburkan dan isolasi mandiri. Termasuk yang sempat salat jamaah dengan almarhumah juga sudah diminta isolasi mandiri. Penyebab penularan masih ditelusuri, apakah dari pembeli atau dari lainnya belum bisa ditentukan.
“Saat ini, jangan berspekulasi apa pun terhadap kasus ini. Sebab yang positif ditemukan satu orang pedagang, yang lainnya menunggu hasil tracing. Kita berharap tidak meluas, makanya kita saat ini yang kontak erat kita periksa semua. Hasilnya nanti akan diambil kebijakan lebih lanjut,” ujar Wawali Kota Yogyakarta.
Sebagai informasi, sejak 18-27 Agustus yang mengisi QR Code di Malioboro berjumlah 31.000 orang, dan yang masuk Zona 3 ada 3,500 orang. Tidak semuanya masuk di Zona 3 ruas Pedestrian Barat. Dan pemerintah kota sudah mempunyai nomor kontaknya. Saatnya nanti jika perlu untuk periksa akan dihubungi melalui WA untuk periksa.
Eko Suwanto, Ketua Komisi A DPRD DIY menegaskan disiplin dalam penegakan hukum dan pengawasan pelaksanaan protokol kesehatan penting dijalankan agar program kebijakan penanganan Covid-19 bisa tuntas dijalankan.
“Pemda memang harus bergerak cepat dan bekerja keras untuk memutus mata rantai penularan COVID-19. DIY kembali memperpanjang masa tanggap darurat penanganan. Sudah ada program kebijakan tujuh langkah strategis untuk pitulungan kepada masyarakat sebagai pedoman,” kata Eko Suwanto, Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Yogyakarta. (Sukron/Wiradesa.co)











Komentar