oleh

Bullying Terjadi Sering Tanpa Disadari, 600 Siswa MTs Plus Nururrohmah Ikuti Sosialisasi Anti-bullying

Jogja.siberindo.co – Tindak kekerasan di sekolah, perundungan atau bullying kian meningkat kasusnya. Dilaporkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tindak perundungan di dunia pendidikan menempati urutan keempat. Data tersebut juga bersumber dari data Unicef. KPAI mencatat dalam 9 tahun dari 2011-2019 terjadi 37.381 aduan kekerasan terhadap anak sementara bullying di pendidikan maupun media sosial ada 2473 laporan.

Kasus bullying ini membahayakan. Bisa menyebabkan siswa yang mengalaminya menjadi trauma. Kadar bullying itu macam-macam dari yang ringan sifat verbal seperti julukan nama, fitnah, celaan, hinaan hingga yang berat memukul, tampar, mencekik, cakar, ada pula bullying lewat media elektronik. Lewat handphone, dan internet.

Hal itu disampaikan Dr Azam Syukur Rahmatullah SHI MSI MA, Ketua Tim pada Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Pendidikan Dini Sadar Virus Bullying di Sekolah atau Madrasah, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Baca Juga  Prof. Sahiron Dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Tafsir

Bersama Prof Dr Muhammad Azhar MA dan Eko Harianto belum lama ini melakukan pengabdian masyarakat berupa pelaksanaan pendidikan dini sadar virus bullying di MTs Plus Nururohmah Tambaksari Kuwarasan, Kebumen.

Sosialisasi sadar virus bullying diberikan kepada para guru, memberi penyadaran dan pemahaman kepada siswa terkait virus bullying, mengadakan gerakan antibullying di area madrasah, juga membuat slogan anti-bullying di sekolah.

MTs Plus Nururrohmah menjadi lokasi pengabdian masyarakat sadar bullying di madrasah tsanawiyah, lanjut Azam, karena dari data observasi awal meski notabene berbasis Islam perilaku bullying tetap terjadi. Hal itu tentu sangat memprihatinkan. Sementara sebagai salah satu madrasah tertua yang dididirikan 1997, soialisasi menanamkan kesadaran untuk menjauhi dan meninggalkan perilaku bullying belum pernah diadakan.

Dari hasil penelitian terdapat temuan kadar bullying fisik (memukul, menendang) dan verbal masih skala ringan seperti mencaci, mengumpat, pemberian julukan nama, mengejek, masih ditemukan. Bullying seksual seperti mencolek kejadian jarang dilakukan. Meski skala ringan bila dibiarkan akan menyuburkan perilaku ini.

Baca Juga  SMERU Bicara Soal Penurunan Kemampuan Siswa Akibat COVID-19

Uniknya, walaupun perilaku bullying ditemukan dalam praktik keseharian siswa namun para guru dan peserta didik rata-rata kurang menyadari apa yang dilakukan selama ini masuk kategori bullying. Demikian pula dengan aturan larangan bullying belum dijumpai di lingkungan sekolah.

Dr Azam Syukur Rahmatullah SHI MSI MA (kanan) mendengarkan presentasi yel-yel anti bullying dari para siswa MTs Plus Nururrohmah (Foto: Sukron/Wiradesa)

Ditambahkan Azam, target dari program PKM Pendidikan Dini Sadar Virus Bullying di madrasah diharapkan para guru dan siswa lebih memahami terkait tidak bolehnya tindakan bullying di sekolah, mereka juga diharapkan ikut menanggulangi perilaku bullying, serta dapat menjadi alternatif solusi bagaimana kiat mencegah perilaku bullying di sekolah. Sebanyak 600 siswa kelas VII-IX, kata Azam, mendapat sosialisasi intens agar tidak melakukan bully kepada sesama kawan mereka.

Baca Juga  Rumah Tadarus, Lembaga Bimbingan Baca Alquran untuk Semua Usia

Azam menjelaskan, sosialisasi sadar virus bullying disampaikan pula kepada para guru hingga beberapa kali. Tak berhenti pada sosialisasi, Fokus Grup Discussion (FGD) diselenggarakan bagi siswa-siswi MTs Plus Nururrohmah. Kegiatan lain berupa pembuatan slogan-slogan antibullying.

Disampaikan Azam dalam hal penyadaran dan pemberian pemahaman kepada anak didik kepada siswa agar tidak melakukan tindakan tak terkontrol dan nganeh-nganehi kepada kawan yang lebih lemah. Upaya pencegahan dan pemahaman khusus kepada siswa kelas IX sangat penting, sebab sebagai siswa yang sudah lama di sekolah atau madrasah sudah tentu mereka merasa paling senior. Pencerahan kepada kelas IX lebih ditujukan agar sebagai senior mereka mau mengayomi para yunior, bukan sebaliknya bertindak kasar kepada adik kelas. (Sukron/wiradesa.co)

Komentar

News Feed