JAKARTA – PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli), resmi tercatat di papan utama perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menawarkan 100% saham baru kepada investor domestik dan qualified institutional buyer internasional melalui distribusi Reg S / 144A.
Penawaran umum saham perdana perseroan berhasil mencatatkan harga perdana mendekati batas atas rentang harga penawaran pada Rp 450 per saham. Jumlah saham yang ditawarkan dalam IPO Blibli berhasil dimaksimalkan sepenuhnya hingga mencapai batas atas sebanyak 15,00% dari modal ditempatkan dan disetor setelah penawaran umum saham perdana, sehingga dapat menggalang dana IPO gross sekitar Rp8 triliun. Penawaran Umum Saham Perdana ini mendapatkan dukungan dan minat yang kuat dari berbagai investor domestik dan internasional.
“Hari ini merupakan awal dari tonggak sejarah baru dalam perjalanan Blibli. Resmi melantai di BEI, kami semakin dekat menuju visi menjadi platform omnichannel perdagangan dan gaya hidup terdepan dan terpercaya bagi seluruh pelanggan, baik individu maupun institusi. Kami juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah mendukung kami sejak hari pertama proses IPO, mulai dari para penjamin pelaksana dan penjamin emisi efek, lembaga dan profesi penunjang pasar modal, regulator, serta karyawan kami,” kata CEO dan Co Founder Blibli Kusumo Martanto, Selasa 8 November 2022.
Dengan total kapitalisasi pasar sebesar Rp53,3 triliun, Blibli merupakan satu-satunya internet-unicorn di kawasan Asia Pasifik yang melantai di pasar modal sejak Mei 2022 dan merupakan internet-unicorn terbesar kedua di Asia Pasifik yang melakukan IPO sepanjang tahun 2022 . Ini juga merupakan IPO terbesar kedua sepanjang tahun 2022 dan IPO terbesar kelima sepanjang sejarah di Indonesia. Komisaris Utama Blibli, Martin Basuki Hartono mengatakan aksi korporasi ini merupakan salah satu bentuk komitmen Blibli untuk terus berkontribusi terhadap perekonomian digital Indonesia.
“Dengan diperdagangkannya saham BELI di BEI, kami berharap akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap sektor teknologi di Indonesia, serta membawa efek positif terhadap perekonomian digital di dalam negeri,” tutur Martin. (Sukron/wiradesa.co)










