oleh

Hamper dan Selebrasi Lebaran

Dhyah Ayu Retno Widyastuti

Mahasiswa Program Doktoral Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan, UGM;
Dosen Universitas Atma Jaya Yogyakarta


Hamper, istilah yang tidak asing lagi di telinga sebagian besar masyarakat.

Mengurai ini berawal dari momen lebaran, momen ritual yang dinanti oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Dua kurun waktu berlalu, lebaran dilalui dalam situasi yang berbeda. Sebelum pandemi Covid-19, lebaran sebagai momen untuk silaturahmi, bertemu, berjabat tangan, saling maaf memaafkan. Kini ritual tahunan ini telah berubah.

Tahun pertama saat pandemi melanda, situasi masih cukup panas dan pembatasan sosial secara ketat dilakukan dan begitu pun masyarakat dengan patuh melaksakan karena kekhawatiran akan penularan maupun penyebaran virus yang merebak saat itu. Tahun 2021 pun kembali merasakan hal serupa, tradisi mudik masih dibatasi mengingat belum meredanya masa pandemi. Termasuk beberapa pelajaran berharga saat lengah di saat momen suka ria Natal dan Tahun Baru yang kembali menggembungkan kuantitas pasien Covid-19 hingga pembatasan sosial pun tetap dilakukan pada perayaan lebaran kali ini.

Mengamati lingkungan sekitar, masyarakat telah berangsur hidup dengan kebiasaan baru. Situasi ekonomi sudah mulai kembali bangkit. Semangat pemulihan perekonomian masyarakat terus didorong dengan berbagai program hingga menciptakan kreativitas-kreativitas untuk mengisi kekosongan sektor tertentu.

“Hamper” pun tidak lepas dari ide kreatif yang diboomingkan untuk menunjang sektor ekonomi. Momen-momen berharga yang berlangsung di masyarakat menjadi pintu masuk sistem ekonomi ini. Begitu juga dengan lebaran kali ini. Di saat keluarga, kerabat, teman, sahabat tidak berjumpa, tren reuni yang terhenti, mampu dialihkan dengan keberadaan hamper. Tidak terbatas jarak geografis, masyarakat dimudahkan untuk tetap berbagi.

Memaknai Hamper

Ketika hamper hadir dan menggantikan posisi seseorang dalam ruang perjumpaan, media sosial mengomunikasikan eksistensi keberadaannya. Namun apa pemaknaan hamper itu sendiri?

Hamper sudah sejak lama menjadi bagian hidup masyarakat namun lebih cenderung akrab dikenal dengan pemberian hadiah baik sebagai ungkapan rasa syukur, wujud terima kasih kepada orang lain. Begitu juga masyarakat lebih familier dengan menyebut parsel. Kreativitas dalam mengemas bingkisan ini yang membuatnya berbeda.

Dalam situasi saat ini yang penuh kontingensi, memaknai hamper tidak bisa dielakkan dari sistem ekonomi. Mendasarkan pada pemikiran Luhmann (2013), sistem ekonomi memiliki fungsi untuk memastikan masa depan dari situasi kelangkaan akan keberadaan sesuatu. Hamper dalam hal ini tentu dibarengi dengan ada tidaknya transaksi yang kemudian terjadi. Upaya memastikan salah satu kondisi yang terdampak akibat pandemi selanjutnya perlahan kembali terisi. Aktivitas yang ditandai dengan kode biner antara mempunyai atau tidak mempunyai, membayar atau tidak membayar.

Mengulas lebih dalam terkait hamper, dalam sistem ekonomi, kode ini digeneralisasi dengan simbol uang dengan program yang ditetapkan adalah harga. Mencoba mengobservasi rentangan harga yang dipatok untuk hamper pun beragam. Permainan bisnis pasar kembali menggeliat. Bukan sekedar menyajikan produk, pengemasannya pun menciptakan nilai tambah. Sisi emosional seseorang saat menerima dan unboxing turut menjadi celah penting untuk dipertimbangkan. Lingkungan informasi dengan berbagai rangsangan pengalaman konsumen mendorong kreativitas dalam promosinya. Hingga keseluruhan strategi ini seolah wajar sesuai dengan segmen yang dituju.

Kreativitas menuju Ekonomi Baru

Hamper dalam perayaan lebaran ini menjadi gambaran masyarakat yang begitu dinamis. Situasi baru dengan kreativitas menciptakan ekonomi baru. Transisi masyarakat pun mulai bergeser dari semula masyarakat komunikasi, menjadi masyarakat kreatif. Perubahan sosial begitu lugas bisa dibayangkan. Berangkat dari sekedar produk ada di pasar dan dikonsumsi oleh masyarakat, beralih konsumen menciptakan informasi untuk menghadirkan produk yang diinginkan. Kini, dalam tatanan baru, masyarakat menciptakan pemenuhan kepuasan mereka sendiri, tidak bergantung pada eksternal baik perusahaan atau organisasi luar. Inilah gambaran realitas yang selanjutnya hadir, masyarakat kreatif. Masyarakat yang dapat membuat barang, alat, konsep, pengetahuan, dan segala sesuatu yang pada akhirnya dilakukan dengan tangan mereka sendiri sesuai kepuasan setiap individu (Iba, 2016).

Kreativitas menjadi autopoiesis dalam mempertahankan kelangsungan hidup. Masyarakat yang bisa bertahan adalah mereka yang mampu beradaptasi dalam situasi yang bergerak di lingkungannya. Kreativitas berdampingan dengan inovasi yang berkembang saat ini tentu akan membantu memulihkan sektor ekonomi yang mengalami kemunduran. Kondisi ini layaknya mengamini pemikiran Luhmann (1995), sistem hadir untuk mereduksi kompleksitas. Sistem ekonomi akan mereduksi kerumitan dengan menciptakan elemen-elemen yang ada dalam dirinya. Kreativitas menjadi wujud adaptasi masyarakat menuju ekonomi baru.

Baca Juga  Autis Asperger Bukan Halangan, Mahasiswa Fapet UGM Sukses Sidang Skripsi

Komentar

News Feed