JOGJA.SIBERINDO.CO – Kamis (13/08/2026) Maraknya penipuan digital hingga risiko kebocoran data saat bencana menjadi sorotan dalam kegiatan Diseminasi Konten Positif dan Literasi Keamanan Informasi yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Daerah Istimewa Yogyakarta di Kalurahan Jagalan, Bantul, Kamis (13/8). Mengusung tema “Waspada Hoaks, Jaga Privasi di Era Digital”, kegiatan ini mengajak masyarakat lebih waspada terhadap berbagai risiko di ruang digital sekaligus memanfaatkan teknologi secara positif.
Kegiatan yang berlangsung dalam tiga sesi tersebut diikuti oleh warga RT/RW Rejowinangun, pemuda Kotagede, serta warga RT/RW Prenggan. Materi yang diberikan mencakup perlindungan data pribadi dalam penanggulangan bencana, kewaspadaan terhadap hoaks dan deepfake, pencegahan penipuan digital, hingga pemanfaatan media sosial untuk membangun personal branding, portofolio, dan peluang usaha.
Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto, S.T., M.Si. menyoroti pentingnya perlindungan data pribadi dalam situasi bencana. Menurutnya, dokumen seperti KTP, KK, akta kelahiran, sertifikat, ijazah, hingga dokumen kesehatan merupakan data penting yang dapat dibutuhkan dalam proses pendataan, pemberian bantuan, serta rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
“Ternyata data pribadi itu penting di saat tata kelola untuk penanganan penanggulangan bencana. Bagaimana tata kelola data pribadi ini yang aman itu penting untuk dikaji, terutama di tempat-tempat yang pernah terjadi bencana,” ujarnya.
Eko menjelaskan bahwa bencana dapat menyebabkan dokumen pribadi rusak, hilang, atau tertimbun sehingga masyarakat mengalami kesulitan ketika membutuhkan dokumen untuk memperoleh bantuan. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan penyimpanan dokumen penting agar terlindungi dari air, api, maupun risiko kerusakan akibat bencana.
Ia juga mendorong kalangan akademisi dan mahasiswa untuk mengkaji perlindungan data pribadi dalam tata kelola kebencanaan. Kajian tersebut dinilai dapat menjadi masukan untuk memperkuat prosedur pendataan dan pelayanan kepada masyarakat dalam situasi bencana.
Sementara itu, Praktisi Keamanan Informasi Ardhi Wicaksono Santoso mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi di internet. Perkembangan teknologi membuat informasi dapat tersebar dengan cepat, tetapi tidak seluruh informasi yang beredar dapat dipercaya.
“Belum tentu apa yang ada di internet itu semuanya benar. Apalagi sekarang informasi itu cepat sekali beredar, sehingga kita harus lebih berhati-hati dalam menerima informasi,” jelas Ardhi.
Ardhi menjelaskan bahwa manipulasi informasi dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari video yang dipotong hingga penggunaan kecerdasan buatan seperti deepfake. Masyarakat juga perlu menjaga data pribadi seperti NIK, nomor telepon, alamat, email, foto, tanggal lahir, kata sandi, hingga kode OTP.
Selain itu, Ardhi mengingatkan masyarakat mengenai berbagai modus penipuan digital, seperti tautan palsu, pembajakan WhatsApp, pinjaman online, hingga pemerasan yang memanfaatkan video call. Ia mengimbau masyarakat agar tidak langsung panik ketika menerima ancaman atau permintaan transfer dari pihak yang tidak dikenal, melainkan memeriksa dan mencerna informasi terlebih dahulu.
Pemanfaatan media sosial secara produktif menjadi materi yang disampaikan Praktisi Komunikasi dan Influencer Rezika Ardia Dinda Arrini, S.I.Kom., M.A. Ia mengajak peserta memanfaatkan media sosial untuk menunjukkan kemampuan, karya, portofolio, sekaligus mengembangkan bisnis.
Rezika memperkenalkan konsep 3K1P dalam membangun personal branding, yaitu kompetensi, karakter, konsistensi, dan platform.
“Rumus personal branding yang saya pakai adalah 3K1P, yaitu kompetensi, karakter, konsistensi, dan platform. Semakin banyak platform yang digunakan, semakin banyak pula tempat untuk menyebarkan personal branding kita,” jelas Rezika.
Menurut Rezika, kompetensi menjadi dasar dalam menentukan bidang yang ingin ditampilkan, karakter menjadi ciri khas, sedangkan konsistensi diperlukan untuk membangun kepercayaan. Pemanfaatan berbagai platform juga dapat membantu memperluas jangkauan personal branding.
Media sosial juga dapat dimanfaatkan pelaku UMKM maupun pemilik jasa untuk memperkenalkan produk dan layanan kepada calon konsumen. Produk, proses kerja, testimoni pelanggan, hingga aktivitas usaha dapat dikemas menjadi konten untuk membangun kepercayaan sekaligus memperluas pemasaran.
Sementara itu, Ikrob Didik Irawan dari Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah DIY mengajak masyarakat menggunakan media sosial untuk menghasilkan konten yang positif. Media sosial, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk membangun personal branding, memperkenalkan karya, hingga membuka peluang ekonomi.
“Kalau menggunakan media sosial, gunakan untuk memproduksi konten-konten yang positif. Kita harus menggunakan media sosial untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat.”
Ikrob juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terbawa emosi ketika menggunakan media sosial. Respons spontan dapat membuat seseorang menuliskan komentar yang kurang baik atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Karena itu, pengguna media sosial perlu menahan diri dan mencerna informasi terlebih dahulu sebelum memberikan tanggapan.
Rangkaian kegiatan dalam tiga sesi tersebut menunjukkan bahwa literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan menjaga data pribadi, mengenali ancaman digital, menyaring informasi, dan memanfaatkan media sosial secara bertanggung jawab.
Melalui kegiatan Diseminasi Konten Positif dan Literasi Keamanan Informasi ini, Dinas Kominfo DIY mendorong masyarakat untuk semakin cakap menghadapi berbagai risiko di ruang digital sekaligus mampu memanfaatkan teknologi secara aman, positif, dan produktif. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari serta diteruskan kepada keluarga, komunitas, dan masyarakat di lingkungan masing-masing.










