oleh

Setahun Bersama Covid: Setia 3M Terus Berdoa

Satria Ardhi Nugraha

Mantan wartawan. Lulusan S1 Sastra Indonesia UGM dan S2 Ilmu Komunikasi UGM


TAK terasa setahun sudah kita bersama Covid-19. Entah kapan covid sampai di Indonesia, Februari atau Maret 2020. Kira-kira seperti itu. Tapi yang jelas setahun sudah virus ini bersama kita. Paling tidak yang paling mudah diingat puasa dan lebaran tahun ini yang hampir di depan mata bakalan sama nasibnya dengan tahun lalu. Bersama covid dan covid.

Situasi tahun ini pun tak jauh berbeda dengan tahun lalu. Bahkan mungkin lebih ketat lagi mengingat jumlah penderitanya yang tembus lebih dari 1 juta orang. Meskipun Sinovac sudah ada dan banyak yang divaksin ternyata tetap saja bayang-bayang si covid itu masih saja berseliweran. Masih banyak yang takut pula karena kanan kiri, tetangga, saudara, teman kantor, dan lainnya banyak yang meninggal gara-gara si covid ini. Apalagi, penyebarannya pun kian beragam. Terakhir ada kluster covid lewat makan bersama. Ketularan covid gara-gara makan bersama. Masuk akal karena ketika makan tentu masker dilepas dan tak sadar kita ngobrol bebas dengan teman makan kita yang ternyata kena covid. Seperti Doni Monardo Ketua Satgas Covid-19 yang mengaku kena covid pada saat makan bersama.

Baca Juga  PLN Siagakan 3.940 Personel Jaga Keandalan Listrik Rumah Sakit di Jateng-Yogyakarta

Setahun bersama covid kita pun mengenal work from home (WFH) dan work from office (WFO). Makin familiar itu di telinga kita. 3 M juga makin terbiasa, memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Ada PSBB, lockdown dan lainnya. Apapun langkah ditempuh pemerintah. Sampai-sampai edaran tanggap darurat atau PSBB atau PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) terus menerus diperpanjang waktunya. Entah sampai kapan. Harapannya ketika diperpanjang korban covid makin turun. Tapi faktanya ekonomi masyarakat turun tetapi jumlah korban tidak turun juga. Nasib.

Bahkan, Presiden Jokowi mewanti-wanti para menterinya agar memperbanyak lagi pakar-pakar kesehatan dan epidemiolog yang dillibatkan untuk mengatasi si covid ini. Sanksi pelanggar protokol kesehatan pun dijalankan misal dengan menyita KTP atau denda.

Yang tidak kalah merasakan dampaknya selain pelaku ekonomi, pedagang dan lainnya adalah dunia pendidikan, anak-anak kita. Mereka pun hanya bisa belajar dan menerima tugas-tugas sekolah secara daring. Tidak sedikit pula orang tua yang saking takutnya enggak berani menyekolahkan anaknya. “Capek dan bosan pak lihat laptop terus,” itu keluhan yang terlontar dari anak-anak kita.

Baca Juga  UGM Bagikan 3 Ekor Sapi Kurban pada Iduladha 1441 H

Ya mau gimana lagi. Si covid masih mengganas di luar. Kita pun tak rela kalau anak-anak kita harus banyak bersinggungan dengan temen-temennya karena cukup riskan mereka saling menularkan. Mau tidak mau kita harus relakan mereka sekolah dari rumah untuk amannya.

Hikmah tentu ada dari semua ini. Intensitas dan keintiman kita dengan keluarga makin meningkat. Yang paling berat memang masa-masa penyesuaian seperti di atas. Mulai sekolah daring, kerja di rumah, PPKM diperpanjang dan lain-lain. Fisik mungkin OK tapi mental dan psikis mesti terganggu. Apa itu? Jenuh…. bosan.. capek.

Kapan kita bisa santai berwisata, kapan kita bisa sekolah dan kumpul-kumpul dengan teman sekolah, kapan kita kumpul dengan teman kerja lagi, kangen suasana arisan, makan bareng di angkringan dengan bebas, dan ronda enggak harus takut.

Kalau kita enggak kuat maka yang muncul hanya panik dan stres. Ini yang bahaya. Kalau sudah panik, gelisah dan stres maka adanya hanya loyo dan tidak semangat. Lambat laun yang namanya si imun pun turun. Padahal, kata dokter dan pakar kesehatan kita enggak boleh tuh imun turun selama covid ini kalau mau selamat.

Baca Juga  Pembelajaran Jarak Jauh Tidak Hanya Melalui Internet

Jadi, sudah setahun ini bareng si covid kita masih akan kuat? Kita masih akan betah di rumah terus menerus? Jawabannya ada di kita sendiri. Kalau kita menyikapinya dengan panik dan resah ya bakal enggak selamat, bakal stres. Tapi kalau kita bisa menyikapinya dengan baik ya kemungkinan besar lolos dari stres dan selamat dari covid makin besar. Kata kuncinya penyesuaian diri dan ikhlas. Berat enggak, tuh? Enggak kalau kita yakin.

Yang paling mudah kita lakukan saat ini adalah tetap setia dengan 3 M tadi, yaitu memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Itu mau enggak mau harus wajib dan bakalan akan jadi gaya hidup selamanya. Kita nikmati saja. Hindari saja berita-berita yang tidak jelas sumbernya dan bikin kita makin takut sama si covid. Tanyakan pada pakarnya. Sering ngobrol dengan teman atau keluarga biar enggak bosan dan sering melamun. Dan satu hal tentu rajin-rajinlah berdoa. Itu yang tentu jadi benteng kita agar tahun ini dan entah sampai kapan lagi kita tetap kuat meski masih bersama si covid. (*)

Komentar

News Feed