oleh

SLAMET “RAGIL” RIYANTO: Memotivasi Korban PHK dan Pensiunan Jadi Mitra Usaha Soto Tahu Gimbal dan Kupat Tahu

Jogja.siberindo.co – Menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) dan pensiun dari pegawai bukan akhir dari segalanya. Bahkan situasi dan kondisi seperti itu, bagi “Raja” Tahu Gimbal, Slamet “Ragil” Riyanto, merupakan waktu yang baik untuk mandiri, berusaha sendiri.

“Jadilah raja kecil, daripada kuli besar,” ujar Slamet “Ragil” Riyanto, pemilik usaha kuliner “Soto Semarang, Tahu Gimbal, dan Kupat Tahu Magelang” saat berbincang dengan wartawan Wiradesa.co di warung pusatnya Jalan Raya Magelang-Yogya Km 9 Blabak, Mungkid, Magelang, Jateng, Senin (20/7/2020).

“Raja” Soto Tahu Gimbal dan Kupat Tahu ini sekarang memiliki 130 cabang mitra di seluruh Indonesia. Cabang-cabangnya yang tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, dan Papua Barat itu disebutnya mitra usaha, bukan franchise. Segera dibuka cabang ke-131 di Lebakbulus Jakarta.

“Sistemnya kemitraan, tanpa royalti fee, franchise fee, dan kontraknya seumur hidup,” jelas Slamet Riyanto, yang biasa dipanggil Pak Slamet Ragil. Kenapa dipanggil Ragil, karena saat menjadi penyiar Radio Gadjah Mada Semarang, dia penyiar paling kecil. Sehingga dipanggil Ragil. Eh, ternyata Ragil membawa hoki.

Meski tidak pakai royalti fee atau franchise fee, Pak Slamet Ragil, berpesan jika nanti sukses atau menjadi pengusaha besar agar menyisihkan keuntungannya untuk anak yatim, fakir miskin,dan kaum dhuafa. Kita ingin bahagia dunia akherat. Doa anak yatim itu makbul, ngijabahi. Sedangkan sodaqoh, amal jariyah itu salah satu dari tiga pahala yang tidak terputus. Dua lainnya anak sholeh sholihah dan ilmu yang bermanfaat.

Baca Juga  Ayam Ingkung Kalasan: Jatuh Bangun hingga Jadi Rajanya Ingkung

Untuk menjadi pengusaha soto Semarang tahu gimbal dan kupat tahu Magelang, tidak harus pandai masak. Terpenting semangat untuk berwirausaha, mandiri, dan sungguh-sungguh usaha sendiri. Soal bumbu sudah disiapkan Pak Slamet Ragil. “Kami siap memberikan pelatihan singkat kepada mitra usaha,” tegas Pak Slamet Ragil yang kini tinggal di Dusun Sirad 05/01 Desa Mungkid, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Bumbu ini Soto Semarang Tahu Gimbal dan Kupat Tahu Magelang (Foto: Ono/Wiradesa)

Bumbu Inti

Para korban PHK,pensiunan, dan warga masyarakat yang ingin membuka usaha kuliner, tidak perlu harus pandai memasak. Sebagai mitra, Pak Slamet Ragil siap mendidik dan menyediakan bumbu inti. Bumbu kupat tahu dan tahu gimbal untuk 80 porsi harganya cuma Rp 50.000 per paket. Sedangkan bumbu soto untuk 250 porsi harganya Rp 125.000 per paket (isi 4 kemasan).

Mitra usaha yang ada di berbagai daerah, baik di Jawa atau luar Jawa, pengadaan bumbu intinya dari Warung Pusat Soto Semarang Tahu Gimbal dan Kupat Tahu Magelang Jalan Raya Magelang-Yogya Km 9 Blabak. Bumbu inti sudah dikeringkan dan tahan dua sampai tiga bulan.

Untuk pengiriman bumbu inti yang terjangkau kendaraan darat,dikirim memakai bus. Sedangkan yang tidak terjangkau akan dikirim melalu cargo pesawat. Seperti pengiriman di Jambi pada 23 Juni 2020, Bos Tahu Gimbal mengirimkan bumbu inti ke Jambi senilai Rp 2.124.000.

Para korban PHK, pensiunan, dan warga masyarakat yang ingin menjadi mitra tinggal datang ke Warung Pusat di Blabak untuk menjalani pelatihan singkat satu sampai dua hari. Pak Slamet Ragil yang telah beberapa kali mendapat penghargaan Top Best Kuliner Award dan Entreprenuer Inspiratif akan memberikan trik usaha kuliner agar berhasil atau sukses usaha kuliner.

Baca Juga  Dendam Positif: Kisah Kang Girin Juragan Batik Asal Sembungan Kulonprogo
“Raja” Tahu Gimbal, Slamet “Ragil” Riyanto bersama menu andalannya (Foto: Ono/Wiradesa)

Enam Langkah

Menurut Pak Slamet Ragil, ada enam langkah yang harus diperhatikan agar sukses menjalani bisnis kuliner. Pertama, memilih lokasi. Tentukan lokasi yang dekat dengan kampus, kantor, pabrik, dan tempat dimana banyak orang yang membutuhkan makan.

Usaha kuliner dunia, seperti KFC, McDonald, dan lainnya selalu menyurvei tempat yang akan dijadikan lokasi usaha. Pihak pengusaha tidak segan-segan membayar surveyer untuk menghitung mobil yang lewat, berapa kendaraan yang melewati jalan yang akan dijadikan lokasi usaha.

Kedua, usahakan makanan yang dijual khas. Pilih yang di lokasi usaha tidak menjual apa yang akan dijanjakan. Semua mitra usaha Soto Semarang Tahu Gimbal dan Kupat Tahu Magelang di sekitar lokasi usaha tidak ada yang menjual makanan tradisional sejenis.

Ketiga, pelayanan. Berilah pelayanan yang prima. Sapa pembeli, tanyakan soal rasa dan apa yang kurang dari usaha kulinernya. “Waktu saya buka warung soto pertama kali dan sampai sekarang, kami memberi bonus minum gratis dan menambah nasi bagi para sales.Umumnya sales itu makannya banyak, jadi nasinya perlu ditambah. Harga tetap,” kata Pak Slamet Ragil.

Keempat, harga. Tetapkan harga yang setidaknya sama dengan harga soto, tahu gimbal, dan kupat tahu yang ada di sekitar atau tidak jauh dari tempat usaha. Syukur harganya lebih rendah, tetapi kualitasnya lebih bagus. Harga kaki lima, tetapi rasanya hotel bintang lima.

Baca Juga  Dagang Sayuran Keliling, Kirimi Anak Istri Rp2-3 Juta Sebulan

Kelima, promosi. Era digital ini membuat pengusaha kuliner memiliki banyak pilihan media untuk promosi. Bisa menggunakan media sosial, seperti facebook, instagram, twitter, atau grup whatsapp. Caranya juga mudah, tinggal foto kasih tulisan lalu uplaod ke media sosial. Pak Slamet Ragil mengingatkan untuk baik-baik dengan wartawan.

Keenam, doa. Jika empat langkah sudah dilakukan, terakhir berdoa kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, agar usaha kulinernya sukses dan lancar. Doa itu boleh melibatkan anak-anak yatim. Karena sekali lagi doa anak yatim itu manjur dan langsung diterima Sang Pemilik Kehidupan.

Selain trik usaha, penerima penghargaan Warung Makan Tradisional dengan Cabang Terbanyak di Indonesia ini juga mengingatkan kepada para korban PHK dan pensiunan serta masyarakat yang ingin usaha sendiri, agar memperhatikan sumber daya manusia (SDM). Pilihlah pegawai yang jujur dan temen. “Jangan memilih pegawai yang pinter, tetapi minteri,” pinta Pak Slamet Ragil.

Akhirnya Pak Slamet Ragil menekankan kembali jangan lama-lama menjadi karyawan. Kini saatnya mandiri dan usaha sendiri. “Sekecil apapun pangkat yang Anda miliki, Anda tetap seorang pegawai. Sekecil apapun usaha Anda, Anda adalah Bos-nya,” kata Pak Slamet Ragil mengutip kalimat yang sering dikemukakan Bob Sadino. (Ono/Wiradesa.co)

Komentar

News Feed