jogja.siberindo.co – Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong organisasi kepemudaan berpartisipasi dalam pembangunan dan menjawab berbagai tantangan perkotaan. Pemkot Yogyakarta terbuka untuk berkolaborasi dengan organisasi kepemudaan maupun mahasiswa. Untuk itu perlu memperkuat kapasitas dan menyiapkan generasi muda yang mampu menjawab tantangan zaman.
Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemkot Yogyakarta, Agus Arif Nugroho mewakili Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat pembukaan training raya Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) cabang Yogyakarta Selasa (21/7/2026). Pemkot Yogyakarta mengapresiasi kepada HMI Cabang Yogyakarta atas penyelenggaran training raya tersebut. Diharapkan kegiatan itu melahirkan kader-kader HMI yang mampu menjadi pelopor perubahan, penjaga persatuan, sekaligus penggerak kemajuan bangsa.
“Kegiatan seperti ini kiranya merupakan ruang untuk menempa karakter, memperkuat kapasitas kepemimpinan dan memperluas wawasan kebangsaan. Sekaligus menyiapkan generasi muda yang mampu menjawab tantangan zaman,” kata Agus saat pembukaan training raya HMI Yogyakarta di Taman Budaya Embung Giwangan.
Agus menyatakan Pemkot Yogyakarta beserta para pemangku kepentingan m terbuka terhadap kolaborasi dengan kalangan mahasiswa dan organisasi kepemudaan. Mengingat pembangunan kota tidak dapat dilakukan oleh pemerintah. Namun diperlukan partisipasi masyarakat, perguruan tinggi, komunitas, organisasi kepemudaan, termasuk HMI.
“Kami berharap semakin banyak gagasan, inovasi, kritik yang membangun, maupun aksi nyata yang lahir dari generasi muda untuk menjawab berbagai tantangan perkotaan. Mulai dari persoalan lingkungan hidup, pengelolaan sampah, kesehatan masyarakat, penguatan ekonomi kreatif, pelestarian budaya, hingga pengembangan teknologi dan literasi digital. Semua membutuhkan keterlibatan generasi muda,” terangnya.
Pihaknya berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pencari ilmu, tetapi juga menjadi penjaga nilai kejujuran, kebangsaan, toleransi, gotong royong dan juga kemanusiaan. Termasuk para kader HMI diharapkan mampu menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, semangat kebangsaan, dan kearifan lokal.
Sementara itu mewakili Kraton Yogyakarta Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Purbodiningrat menyampaikan sebagai organisasi yang lahir di Yogyakarta, HMI memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi pelopor dalam merawat budaya melalui pemikiran, pendidikan, riset, pengabdian masyarakat, dan literasi digital. Kader HMI juga harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana menyebarluaskan nilai-nilai luhur bangsa. Kader HMI bukan hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi penjaga nilai, etika, dan jati diri bangsa.
“Dalam konteks hari ini, cita-cita tersebut juga berarti menjadi penjaga warisan budaya, memperkuat karakter bangsa, dan memastikan bahwa modernitas berjalan seiring dengan keluhuran nilai-nilai lokal. Yogyakarta bukan hanya tempat HMI dilahirkan, tetapi juga sumber inspirasi bahwa ilmu, budaya, dan pengabdian harus selalu berjalan beriringan,” ucap KPH Purbodiningrat.
Sedangkan Ketua Pelaksana Training Raya HMI Cabang Yogyakarta Mohamad Faizan Diasamo menjelaskan Training Raya HMI untuk latihan kader 2 atau Intermediate Training jumlah pendaftar sekitar 280 peserta dari berbagai cabang se-Indonesia. Kemudian untuk latihan khusus Kohati yang lulus seleksi administrasi hanya 32 peserta. Dia menegaskan HMI adalah candradimuka yang menjadi tempat untuk berlatih, bertempur dan ditempa.
“Kita disiapkan untuk menjadi generasi-generasi penerus bangsa dan mampu membawa perubahan pada negara. Maka harapan besar saya kepada teman-teman yang berproses atau berkader di HMI bisa menjadi seorang calon-calon pemimpin mampu membawa negara kita ke arah yang lebih baik,” tandas Faizan.








