oleh

Budidaya Maggot: Dari Sampah Jadi Rupiah

GUNUNGKIDUL – Budidaya Maggot sungguh menggiurkan. Larva Lalat Hitam atau lebih keren disebut Black SoldierFly (BSF) yang kelihatan menjijikan, ternyata memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Selain itu juga bisa untuk mengatasi persoalan sampah. Dari sampah jadi rupiah.

Makanan Maggot itu dari sampah, baik sampah rumah tangga, pasar, maupun pabrik. Sampah sisa-sisa makanan, sayuran, buah-buahan, atau limbah perusahaan dicacah atau dihaluskan, kemudian dipergunakan untuk pakan Maggot.

“Maggot itu tidak memakan, tetapi menghisap,” ujar Kosdiana, Pembudidaya Maggot di Dusun Salam RT 16 RW 05 Desa Salam, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (20/8/2020).

Larva Maggot memiliki kandungan gizi yang tinggi. Zat proteinnya 45 persen, lemak totalnya 40.13, karbohidrat 6.90, dan kadar air 4.49. Sehingga sangat bagus untuk pakan ternak ayam, lele, ikan koi, kucing, dan berbagai hewan piaraan.

Baca Juga  Mpok Mpon Minuman Rempah Penangkal Covid-19

Sisa makanan Maggot atau residunya juga bagus untuk pupuk berbagai tanaman, baik sayuran, buah-buahan, maupun bunga-bungaan. Ampas residunya bisa dibuat pupuk cair maupun pupuk kering.

Siklus Lalat Hitam memerlukan waktu sekitar 45 hari. Dimulai dari telornetas hari ke-3. Kemudian menjadi Larva selama 18 hari. Setelah itu menjadi Prepupa selama 7 hari dan masa Pupa 7 hari.

Tiga hari setelah menetas, lalat kawin. Setelah kawin lalat jantan mati. Kemudian 3 hari lalat betina bertelor dan mati. “Jadi siklus Lalat BSF dari telor sampai bertelor lagi memerlukan waktu 44 sampai 45 hari,” jelas Kosdiana.

Untuk hitungan bisnis. 1 kilogram Maggot kalau pakannya sampah sayur dan buah perlu 5 sampai 6 kg pakan. Jika harga pakan Rp100 per kg, maka total pakannya Rp600. Kemudian untuk tenaga kerja dan lainnya tidak boleh lebih dari Rp2.000 per kg.

Baca Juga  Satu Rumah Satu Kotak Lebah

Satu claster lalat bertelor isi 500 sampai 900 telor. Satu gram telor berisi 30 sampai 40 claster. Satu gram telor bisa menjadi 1,5 sampai 2 kg Maggot, tergantung dari pakannya. Jika pakannya mengandung nutrisi yang tinggi, maka jumlah Maggot bisa lebih.

Harga telorMaggot Rp5.000 sampai Rp8.000 per gram. Sedangkan harga Maggot Rp6.000 sampai Rp8.000 per kg. Untuk Prepupa Rp50.000 sampai Rp75.000 per kg. Harga kemasan Rp10.000 per 40 gram.

Kosdiana yang sering diminta menjadi konsultan budidaya Maggot mengungkapkan pasar Maggot sangat terbuka dan berprospek cerah. Untuk pasar lokal Yogyakarta dari dua konsumen saja permintaannya 3 ton per hari. Kemudian di Jambi untuk 1 konsumen saja membutuhkan 10 ton per hari.

Baca Juga  Sembung Batik Bercorak Abstrak Bermotif Galau Bergaya Kontemporer
Hasil olahan Maggot (Foto: Ono/Wiradesa.co)

Saat wartawan Wiradesa.co berkunjung di rumahnya Salam, Patuk, Gunungkidul, ada tamu yang mau menginvestasikan dananya untuk budidaya Maggot di daerah Gunungkidul. Dia berencana menginvestasikan dana miliaran rupiah untuk membuat pabrik pakan ternak dengan bahan baku Maggot.

Di tempat tinggalnya, Rosdiana membuat demplot dengan bangunan kandang Maggot, kolam lele, tempat menanam brambang, padi, sayur, dan buah-buahan. Kandang Maggot tersekat-sekat untuk budidaya lalat BSF dan pembesaran Maggot. Hasil Maggotnya sebagian untuk pakan lele. Sedangkan sisa makanan Maggot atau residunya untuk pupuk tanaman brambang, padi, sayur dan buah-buahan.

Mencermati apa yang dijalankan Rosdiana, budidayaMaggot ternyata sangat menggiurkan. Budidaya ini tidak hanya menghasilkan pendapatan yang tinggi, tetapi juga mampu memecahkan persoalan sampah. Dari sampah bisa menghasilkan rupiah. (Ono/Wiradesa.co)

Komentar

News Feed