YOGYAKARTA – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengolah limbah botol plastik polyethylene terephthalate (PET) menjadi karbon aktif untuk mengadsorpsi gas CO2 di atmosfer. Mereka melakukan terobosan dengan mengembangkan Carbon Capture Technology (CCT) berbasis material limbah plastik polietilen tereftalat (PET).
Dengan inovasi tersebut, tim mahasiswa UGM ini sukses mengukir prestasi gemilang dengan menyabet Gold Medal dalam gelaran 6th Indonesia International Applied Science Olympiad (I2ASPO) yang berlangsung pada 18-21 Desember 2025 lalu di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Tim ini bersaing ketat menyisihkan 629 peserta yang berasal dari 13 negara.
Tim ini terdiri dari Pandu Sukma Hastyadi, Samuel Khrisna Wira Waskita, dan Aqila Dziki Muhamad Iqbal dari program studi Ilmu Kimia angkatan 2022, serta Billy Natanael dan Muhammad Radithya Akmal Rasheed dari prodi Teknik Kimia angkatan 2023. Di bawah bimbingan dosen pendamping, Fajar Inggit Pambudi, S.Si., M.Sc., Ph.D., dari FMIPA UGM, tim ini berhasil mengintegrasikan pendekatan komputasi dan eksperimental dalam penelitian.
“Inovasi ini menawarkan alternatif penangkap gas yang lebih ekonomis dibandingkan teknologi komersial yang saat ini masih terkendala biaya operasional tinggi,” jelas ketua tim, Pandu Sukma Hastyadi, seperti dikutip dari laman resmi UGM.
Pandu menilai bahwa pengembangan adsorben yang berbiaya rendah sangat krusial bagi keberhasilan implementasi CCT. Selama ini, biaya tinggi menjadi hambatan utama aplikasi teknologi ini. “Kami melihat potensi besar pada limbah botol plastik PET. Dengan kandungan karbonnya tinggi, limbah botol plastik PET sangat ideal untuk dijadikan prekursor karbon aktif,” jelasnya.
Anggota tim, Samuel menjelaskan bahwa pemilahan limbah botol plastik PET didasari oleh urgensi pengelolaan sampah di Indonesia yang belum optimal. Sekitar 48% sampah plastik saat ini masih dikelola melalui pembakaran yang justru menambah emisi CO2 ke atmosfer.
Selain itu, rasio daur ulang PET di Indonesia masih tergolong rendah, hanya sekitar 13% dari kapasitas produksinya. “Bagi kami, mengubah limbah ini menjadi material fungsional penangkap emisi menjadi langkah strategis yang saling menguntungkan bagi lingkungan,” tambahnya.
Billy menjelaskan, telah banyak penelitian yang dilakukan mengenai penggunaan adsorben limbah plastik untuk aplikasi CCT. Namun, keterbatasan kapasitas penyerapan gas CO2 masih menjadi kendala utama teknologi ini. Tim peneliti ini menemukan bahwa penggunaan zeolit dapat menjadi solusi masalah tersebut. “Berdasarkan referensi yang kami peroleh, pembuatan komposit karbon aktif dan zeolit memang mampu untuk mengatasi hal tersebut,” paparnya.
Dosen pendamping tim, Fajar Inggit Pambudi, M.Sc., Ph.D., menekankan bahwa keunikan riset ini terletak pada aspek keberlanjutan. Pasalnya, penggunaan sumber material dari pemanfaatan limbah plastik yang dikombinasikan dengan material berpori (Zeolit) ini menciptakan aspek keberlanjutan (sustainability) yang sangat kuat. “Riset ini menyelesaikan dua masalah sekaligus, yakni limbah plastik dan emisi CO2,” paparnya.
Fajar juga mengungkapkan bahwa terdapat potensi untuk produk ini dapat dikomersialisas. Sebab, industri saat ini sangat membutuhkan teknologi efisien yang mampu mengubah emisi gas buang menjadi bahan baku industri atau energi. (*)










