jogja.siberindo.co – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo turun langsung membersihkan Sungai Code bersama ratusan mahasiswa Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) di kawasan Taman Perwira, Prawirodirjan, Jumat (24/7/2026) pagi.Kegiatan yang melibatkan ratusan mahasiswa tersebut menjadi bagian dari pembekalan awal sebelum mereka diterjunkan ke lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN). Para peserta berasal dari River and Ecology Club UGM serta mahasiswa KKN Bakti Kampus UST periode I Tahun Akademik 2026/2027.
Hasto mengapresiasi keterlibatan mahasiswa yang menurutnya menjadi contoh nyata kepedulian generasi muda terhadap lingkungan.
“Hari ini kami bersyukur ada UGM dan UST, lebih dari 600 mahasiswa dikerahkan bersama-sama turun ke sungai. Ini seperti coaching sebelum mereka berangkat KKN. Mereka diajak bersih-bersih sungai terlebih dahulu, baru kemudian menjalankan pengabdian di masyarakat,” ujar Hasto.
Menurutnya, pengalaman langsung di lapangan penting untuk membangun empati terhadap lingkungan. Ia menilai sungai merupakan sumber air sekaligus sumber kehidupan yang harus dijaga bersama.
“Banyak sungai yang kurang diperhatikan, padahal sungai adalah sumber kehidupan. Air harus dirawat. Di banyak kota, kualitas air masih tercemar bakteri E. coli yang berdampak pada kesehatan masyarakat, termasuk memicu diare dan memengaruhi kualitas sumber daya manusia,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga mengungkapkan adanya kesepakatan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, TNI, Polri, komunitas pegiat sungai, dan Pemerintah Kota Yogyakarta untuk menata kawasan wisata Sungai Code.
Rencana tersebut berupa pembangunan bendungan sementara atau temporary barrier yang dipasang saat debit air normal sehingga dapat membentuk kolam kecil sebagai ruang aktivitas masyarakat.
“Nanti kita gotong royong membuat bendungan sementara. Kalau musim hujan bisa dipinggirkan, tapi saat kondisi normal dipasang sehingga terbentuk kolam yang bisa dimanfaatkan untuk perahu maupun aktivitas anak-anak. Harapannya bisa melengkapi kawasan wisata di tepi Sungai Code,” jelasnya.
Hasto optimistis gerakan pelestarian sungai akan terus berlanjut melalui program KKN perguruan tinggi. Ia menyebut Pemerintah Kota Yogyakarta telah menjalin nota kesepahaman dengan 49 perguruan tinggi melalui program One Village One Sister University, di mana sebagian besar mahasiswa memilih tema pengabdian terkait sungai.
“Hampir 70 persen tema KKN sekarang tentang sungai. Saya optimistis kegiatan seperti ini akan rutin karena KKN di wilayah kota juga lebih efisien, baik bagi mahasiswa maupun dosen pembimbing,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) Yogyakarta Prof. Pardimin, mengatakan kegiatan bersih-bersih Sungai Code menjadi pembuka rangkaian Bakti Kampus sebelum 716 mahasiswa diterjunkan ke berbagai lokasi KKN.
“Beberapa kelompok juga akan melaksanakan pengabdian di wilayah Kota Yogyakarta, sehingga mahasiswa diajak terlebih dahulu menyelesaikan persoalan lingkungan yang berada di sekitar mereka,” terangnya.
Salah seorang mahasiswa UST, Nara dari Program Studi Psikologi, mengaku kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru dibandingkan pelaksanaan Bakti Kampus pada tahun-tahun sebelumnya.
“Biasanya kegiatan hanya di kampus, tahun ini kami benar-benar turun ke masyarakat dan membersihkan sungai. Jadi kami lebih sadar ternyata sampah di sungai masih banyak,” ujarnya.
Selama kegiatan, para mahasiswa menemukan berbagai jenis sampah, mulai dari plastik, styrofoam, popok hingga kemasan makanan yang mencemari aliran sungai.
“Yang paling banyak itu plastik dan styrofoam. Kalau terus dibuang ke sungai tentu bisa menyebabkan Banjir saat musim hujan, air menjadi kotor, ekosistem terganggu, dan ikan-ikan di sungai juga ikut tercemar,” katanya.
Ia berharap kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai terus meningkat, diiringi perhatian bersama dalam menjaga kebersihan sungai yang selama ini juga dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang aktivitas dan rekreasi.









