KEBUMEN – Produk lokal desa beraneka ragam. Selain itu, jenisnya juga banyak. Seperti di RT 3 RW 5, Dukuh Keputihan, Desa Kuwayuhan, Kecamatan Pejagoan, Kebumen terdapat home industri krecek Hj Sumarni. “Kami memproduksi krecek berbahan dasar kulit kerbau dan sapi,” kata Sumarni, owner home industri krecek, Kamis, 25 Maret 2021.
Sumarni menjelaskan, ia mendirikan usaha krecek secara turun-temurun. Dulu mengurus usaha bersama suaminya Samsi. Akan tetapi, setelah suami meninggal, usaha diurus bersama anak-anaknya.
Setiap satu bulan memproduksi kulit sebanyak 5 kuintal. “Ini gabungan antara kulit kerbau dan sapi,” jelasnya. Perbedaan antara kulit kerbau dan sapi. Kalau kulit kerbau lebih tebal kemudian dimakan rasanya enak. Sedangkan sapi kulitnya panjang.

Dalam home industri krecek dikenal istilah krecek, krupuk dan banggen. Krecek itu krupuk yang masih mentah setelah diungkep dengan minyak. Kemudian krupuk itu krecek yang sudah matang setelah di goreng. Banggen merupakan kulit yang mentah setelah habis dijemur lalu dipotong menggunakan bendo.
Cara membuat krecek mudah. Langkah awal beli kulit mentah (banggen). Menurut Sumarni, biasanya membeli banggen sapi dari Bumiayu dan wilayah sekitarnya. Bahan dasar kulit kerbau dikulak dari Makassar dan wilayah Sulawesi. Selanjutnya, banggen dijemur. Untuk sapi satu hari, kerbau dua hari. Kemudian potong menggunakan bendo. Kulit sapi bentuknya persegi panjang sedangkan kulit kerbau bentuknya persegi. Tahapan berikutnya diungkep dengan minyak anget menggunakan wajan besar. Terakhir krecek siap digoreng untuk dikemas serta dipasarkan.
Pemasaran krecek Hj Sumarni sudah merambah sampai luar kota seperti Wonosobo dan Purwokerto. Adapun macam-macam kemasan seperti 1/4 bungkus, 1 bungkus serta ada bungkus yang ukuran jumbo. “Ya, alhamdulillah sampai sekarang banyak peminatnya. Di sini juga sering ada distributor yang mengambil ke rumah,” ungkap Sumarni (62). Ciri khas krecek Sumarni, rasanya gurih serta kadar minyaknya tidak terlalu banyak. Pelanggan tidak perlu khawatir mengonsumsinya.
Kiat bisnis Hj Sumarni, menurutnya, sebagai seorang wirausaha harus bertahan. Kondisi apa pun harus bisa dilewati. Selanjutnya fokus kepada satu hal. Yakinlah wirausahanya pasti akan berkembang. Masyarakat pun akan semakin mengenal. (Nur Anggraeni/wiradesa.co)











Komentar