JOGJA.SIBERINDO.CO – Kebiasaan tertib tidak cukup hanya diajarkan di sekolah, tetapi diharapkan ikut terbawa hingga ke lingkungan keluarga. Pesan itu menjadi salah satu penekanan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo saat mencanangkan Panca Tertib (Pantib) for School di SMP Muhammadiyah 8 Yogyakarta, Jumat (25/9/2026).
Melalui program tersebut, para siswa didorong menjadi agent of change atau agen perubahan yang mampu memberi contoh perilaku tertib, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Salah satu pembiasaan yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah melalui gerakan Zero Waste Movement.
Hasto mengatakan, dengan jumlah 288 siswa, pembiasaan yang dilakukan di sekolah berpotensi dibawa ke 288 keluarga di rumah. Menurutnya, pesan tentang memilah dan mengelola sampah akan lebih mudah diterima ketika disampaikan oleh anak kepada keluarganya.
“Kalau anaknya menegur ibunya, ‘Bu, ini dipilah. Di dapur ini harus mana yang sampah organik basah, nasi jangan dicampur dengan plastik,’ kalau itu bisa, wah itu sungguh luar biasa. Karena berarti praktik yang ada di sekolah ini kemudian dibawa pulang ke rumah,” ujar Hasto.
Ia berharap kebiasaan memilah dan mengolah sampah tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi menjadi bagian dari perilaku sehari-hari. Menurutnya, gerakan Zero Waste perlu dilakukan secara realistis sesuai kemampuan masing-masing.
“Harapan saya, anak-anak SMP itu menjadi agent of change, agen perubahan yang nanti bisa memberi contoh di keluarga masing-masing dalam hal tertib untuk mengolah sampah, tertib untuk menjaga lingkungan, tertib untuk berperilaku dan berkarakter yang mulia,” katanya.
Hasto juga mengingatkan bahwa Panca Tertib tidak hanya berkaitan dengan sampah. Di dalamnya terdapat tertib bangunan, tertib daerah milik jalan, tertib usaha, tertib lingkungan, dan tertib sosial.
Menurutnya, pembiasaan tertib sejak usia sekolah menjadi penting karena anak-anak SMP masih berada pada fase pembentukan karakter. Ketertiban yang dibangun sejak sekolah diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka beranjak dewasa.
“Anak sekolah seperti SMP 8 Muhammadiyah ini ibaratnya kita masih bisa membentuk anak itu mau jadi apa saja. Saya berharap ketertiban yang diawali dari sekolah ini betul-betul bisa membangun karakter,” ungkapnya.
Ia berharap SMP Muhammadiyah 8 Yogyakarta dapat menjadi contoh bagi sekolah lain dalam membangun budaya tertib sekaligus membentuk karakter siswa.
“Saya yakin SMP Muhammadiyah 8 Yogyakarta bisa menjadi contoh bagi SMP yang lain, dan juga anak-anaknya bisa menjadi contoh bagi anak-anak seumur yang sekolah di SMP lain,” ujar Hasto.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 8 Yogyakarta Puji Astuti mengatakan pencanangan Pamtib for School menjadi momentum untuk memperkuat pembiasaan pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
Menurutnya, sekolah mengusung Zero Waste Movement sebagai salah satu bentuk implementasi Pamtib for School. Gerakan tersebut diarahkan untuk menanamkan kesadaran siswa agar bijak menggunakan dan mengelola sampah, mampu memilah sampah organik dan anorganik, serta menjadikan perilaku ramah lingkungan sebagai kebiasaan di sekolah maupun di rumah.
“Besar harapan kami pencanangan hari ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan titik awal gerakan yang berkelanjutan. Mari bersama-sama kita jadikan SMP Muhammadiyah 8 Yogyakarta sebagai pelopor sekolah ramah lingkungan dan bersih yang ada di Kota Jogjakarta,” ungkap Puji.
Puji menjelaskan, sekolah menerapkan gerakan Zero Waste melalui konsep 5R, yakni Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot. Penerapannya dilakukan melalui kegiatan terprogram, integrasi dalam pembelajaran, pembiasaan, serta keteladanan dari guru dan karyawan.
Salah satu pembiasaan yang dilakukan adalah mengurangi penggunaan barang sekali pakai. Sekolah juga menyediakan tempat makan dan minum yang dapat digunakan berulang kali serta mendorong siswa membawa dan mengelola kembali barang yang mereka gunakan.
“Kami ingin ini menjadi gaya hidup. Skill untuk anak-anak di SMP Muhammadiyah 8 agar bisa bertanggung jawab atas barang-barang yang mereka bawa sendiri setiap hari,” jelasnya.
Selain itu, sekolah juga rutin melaksanakan kegiatan kebersihan lingkungan melalui Gerakan Resik di Lingkungan Sekitar atau Genre. Puji berharap dukungan dan sinergi dengan Pemerintah Kota Yogyakarta serta organisasi perangkat daerah terkait dapat terus diperkuat agar gerakan tersebut berjalan berkelanjutan.
Kepala Bidang Perlindungan Masyarakat (Linmas) Satpol PP Kota Yogyakarta Suwarna mengatakan Pamtib for School merupakan bagian dari inovasi Pamtib Berkah atau Panca Tertib Bergerak Bersama Sekolah.
Program tersebut diarahkan untuk menumbuhkan kader-kader Panca Tertib di lingkungan sekolah yang dapat menjadi contoh dan teladan bagi teman-temannya.
“Harapannya dari siswa-siswa, terutama di sekolah yang sudah dicanangkan program Pamtib for School, akan tumbuh agen-agen perubahan dari kalangan anak-anak untuk bisa berperilaku tertib, disiplin, sesuai dengan komitmen Pamtib for School yang ada di masing-masing sekolah,” jelas Suwarna.
Ia menyebut hingga 2026 terdapat 30 sekolah yang telah bersinergi dengan program inovasi Pamtib Berkah. Sekolah tersebut terdiri dari jenjang TK, SD, dan SMP, baik negeri maupun swasta.
Sementara itu, setiap tahun Satpol PP Kota Yogyakarta menargetkan pencanangan Pamtib for School di lima sekolah. Pada 2026, target tersebut telah terpenuhi dengan lima sekolah yang menjadi bagian dari program.
Di sejumlah sekolah, program tersebut juga telah membentuk Jatayu (Praja Kota Junior), yakni kader-kader Panca Tertib di sekolah yang diharapkan menjadi agen perubahan sekaligus teladan dalam menerapkan budaya tertib.
“Melalui pencanangan di SMP Muhammadiyah 8 Yogyakarta, budaya tertib diharapkan tidak hanya menjadi aturan yang dipatuhi siswa di lingkungan sekolah, tetapi berkembang menjadi kebiasaan yang mereka bawa ke rumah dan lingkungan sekitarnya,” pungkas Suwarna.(***)










