oleh

Daya Resiliensi Warga Jogja Melewati Krisis

Dimas Wisnu Ashari

Mahasiswa S2 Magister Manajemen FEB UGM


JOGJA hari ini seperti seorang gadis anggun yang tengah murung. Sebelum pageblug tiba, Jogja begitu gemerlap dengan di sana-sini mahasiswa-mahasiswi me-ngobrol lepas di kedai kopi. Kedai kopi yang berinterior indah dan cahaya lampu terang membikin mahasiswa-mahasiswi yang ngobrol tadi tambah kenes. Kegembiraan di coffeeshop-choffeeshop yang jumlahnya banyak bak jamur di kala musim hujan itu turut serta menyusun senyum Jogja. Senyum Jogja itu seindah senyum gadis anggun nan cantik.

Namun apalah daya, pageblug maha dahsyat membuat keriangan itu sirna untuk waktu yang belum diketahui akhirnya. Di tengah ketidakjelasan nasib hari ini, serta masa depan yang luluh menjadi puing-puing, memang Jogja masih bertahan. Usaha mikro-kecil-menengah atau UMKM masih saja liat dan membal ketika krisis tiba. Mereka menunjukkan daya resiliensi yang tangguh saat sebagian bisnis besar di Jogja semacam hotel atau restoran berguguran.

UMKM di sudut-sudut Jogja enggan menyerah oleh nasib. Sewaktu berkunjung ke sebuah perajin produk olahan batik perca, denyut resiliensi masih terasa. Pengusaha itu beralih memproduksi masker dari yang awalnya memproduksi souvenir, tas, atau selimut batik perca. Dia menangkap peluang pasar bahwa masker tengah dibutuhkan masyarakat. Produk-produk masker itu lalu diiklankan di media sosial. Tutur si pengusaha, saban hari ada ratusan permintaan masker.

Resiliensi warga Jogja melewati krisis pernah direkam dalam tulisan Ben White (2016) yang berjudul “Pengalaman Tiga Resesi: Yogyakarta Masa 1930an, 1960an, dan 1990an”. Dalam tulisan itu, disebutkan krisis datang menimpa Jogja (juga daerah lain, tentunya) saban satu generasi sekali pada abad 20. Satu generasi dimaknai secara bebas 30 tahun sekali karena berkesesuaian dengan waktu datangnya krisis.

Baca Juga  Kembali Gelar Vaksinasi Massal, Polres Purbalingga Sediakan 29.400 Dosis

Karena datangnya saban 30 tahun itu, krisis tiba di tengah kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang berbeda pula. Pada tahun 30an, masyarakat Jogja jamak yang bertani. Pada tahun 60an, masyarakat Jogja memang masih banyak yang bertani, tetapi mulai makmur dengan sektor perdagangan dan sektor pendidikan pun mulai tumbuh. Lalu, pada tahun 90an, Jogja telah menjadi destinasi pariwisata nomor dua di Indonesia. Hingga pada tahun 2020 ini, ketika krisis tiba lagi untuk keempat kalinya, Jogja juga telah berubah. Jogja telah jadi kota postmodern, kosmopolit, dan melek teknologi.

Strategi Resiliensi pada Setiap Krisis Tiba

Dalam tulisan Ben White, krisis tahun 30an disebut oleh warga Jogja sebagai zaman mleset karena uang menjadi susah didapat (efek deflasi). Sektor pertanian, industri gula, dan batik yang dominan di Jogja ketika itu menjadi gulung tikar karena harga-harga dari produk yang mereka hasilkan turun drastis. Pada masa itu, pekerja perkebunan atau pertanian yang kena PHK lumayan banyak. Mereka lantas beralih ke industri kerajinan, misalnya kerajinan anyaman bambu dan tenun tangan. Petani yang kena PHK tadi mau bekerja di sana karena yang dibutuhkan sebatas tenaga serta ketekunan, meski upah yang diterima rendah.

Tahun 60an krisis terjadi karena faktor politik Jakarta. Tahun itu, Soekarno dimundurkan dan meninggalkan krisis ekonomi. Krisis ekonomi, salah satunya, berwujud inflasi mencapai 900 persen pada akhir tahun 60an. Pada era 60an, White menyebut masyarakat Jogja bisa bertahan dari inflasi yang tidak normal itu karena dua hal, yaitu solidaritas dan kesederhanaan.

Baca Juga  JacKser, Minuman Herbal Peningkat Imun Tubuh

Solidaritas terwujud dengan mau berbaginya pegawai negeri seperti guru, polisi, dan tentara kepada warga petani miskin di Gunung Kidul atau di Kulon Progo. Solidaritas selanjutnya adalah diadakannya sambatan atau gotong-royong oleh keluarga berpunya dan diikuti oleh keluarga lain. Di momen sambatan itu, warga yang tengah kesulitan, minimal, dapat memperoleh makanan yang layak.

Pada tahun 60an, warga Jogja menekan pengeluaran mereka menjadi sekadar pada level sederhana, yaitu sebatas membeli apa yang dibutuhkan. Masyarakat tidak melakukan konsumsi hanya karena merek atau gengsi. Kesederhanaan itulah yang membuat pengeluaran mereka terjaga saat krisis karena inflasi tiba.

Pada tahun 90an, seiring dengan membaiknya data yang dimiliki pemerintah, maka terlihat dampak krisis terhadap warga dan bagaimana cara warga bertahan. Krisis 90an atau tepatnya krisis moneter 98 membuat pertumbuhan ekonomi warga Jogja negatif sebanyak negatif 11 persen. Efek negatif dirasakan di semua sektor ekonomi, dari pertanian, industri, perdagangan, pengangkutan, sampai jasa. Akan tetapi, setelah kondisi yang sulit tahun 98 itu, Jogja lantas pulih kembali dengan, salah satunya, datangnya wisatawan asing dan domestik. Mulai tahun 1999 sampai 2001, jumlah wisatawan asing dan domestik yang berkunjung ke Jogja naik secara signifikan antara 20 persen sampai 32 persen. Naiknya wisatawan pada tahun 1999 sampai tahun-tahun setelahnya itu diikuti perbaikan secara langsung di sektor industri, bangunan, perdagangan, pengangkutan, dan jasa. Hanya sektor pertanian yang masih tumbuh negatif pada tahun pertama setelah krisis. Meskipun demikian, pertanian di Jogja lantas kembali pulih pada tahun 2000 (tumbuh 10%).

Baca Juga  Autis Asperger Bukan Halangan, Mahasiswa Fapet UGM Sukses Sidang Skripsi

Beranjak ke krisis 2020 yang disebabkan oleh wabah virus korona ini memang berbeda dengan krisis yang lain (www.imf.org, 2020). Perbedaan itu disebabkan karena terpengaruhnya sisi kesehatan warga dan menjadi terbatasnya mobilitas warga yang disebabkan oleh persebaran virus. Penyebaran virus ke warga Jogja sudah mencapai jumlah ribuan dan masih membuat warga resah.

Akan tetapi, meskipun krisis yang datang tahun 2020 ini begitu berbeda, namun daya resiliensi masyarakat Jogja masih terasa sebagaimana ketika menghadapi krisis-krisis sebelumnya. Seperti di awal, UMKM berupaya keras untuk bertahan dengan aneka strategi. Lantas, terasa pula denyut resiliensi di sektor pendidikan dengan dilakukannya zoom meeting untuk proses pembelajarannya oleh hampir semua kampus di Jogja. Seorang teman bilang, ya beginilah rakyat Jogja, kemampuannya begitu prigel (liat dan membal) walau didera tekanan seperti apa.

Akhirnya, meski resesi tiba untuk ke sekian kalinya, keyakinan bahwa semua mampu bertahan, bakal selamat, dan bakal pulih tetap harus dipegang. Meskipun sulit, semangat atau daya hidup di tengah krisis itu seyogyanya tetap dihidupkan. Sebab, krisis ini masih ada entah sampai kapan. Seperti kata Albert Camus dalam novelnya yang berjudul Sampar (2013), krisis datang dengan tiba-tiba, nanti pergi pun dengan tiba-tiba. Lalu, sepanjang krisis itu, kata Camus, kita akan melihat beragam perangai seseorang (atau bahkan masyarakat). Dan kita tahu dari pengalaman yang ada ketika krisis/resesi tiba, Jogja tetaplah berperangai kuat, prigel, lantas tetap tersenyum, sebagaimana senyuman gadis anggun nan cantik, meski hanya sesimpul senyum. (*)

Komentar

News Feed