oleh

Covid-19 di Yogyakarta: Tenang Bukan Berarti Tidur

Jodi Visnu

Konsultan Health Philanthropy and Health Marketing; Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan; Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan; Universitas Gadjah Mada
Kandidat Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan


ERA new normal, atau yang telah lazim kita sebut sebagai adaptasi kebiasaan baru (AKB), di Indonesia melegakan masyarakat untuk dapat beraktivitas kembali dalam keterbatasan. Perekonomian mulai bangkit dan mayoritas warga seolah “terbangun” dari belenggu workfromhome. Pasar dan pusat perbelanjaan mulai ramai, demikian juga dengan kafe serta restoran. Momentum ini juga banyak dimanfaatkan untuk berkumpul maupun bersilaturahmi setelah beberapa bulan berkomunikasi dalam jaringan, semisal rapat virtual.

Berbagai protokol kesehatan telah ditetapkan agar masyarakat mengenakan masker, menjaga jarak (physical distancing), dan mencuci tangan. Sanksi maupun denda pun telah ditetapkan agar masyarakat taat pada aturan-aturan baru di masa pandemi Covid-19 ini. Diharapkan, mereka dapat mengikuti arahan dan imbauan setiap petugas tatkala sedang berada di tempat umum.

Protokol AKB di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tidak berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia. Pengusaha pun berkreasi untuk menciptakan hal baru yang dapat mendukung keseharian masyarakat di era AKB. Sebut saja, misalnya, kreativitas pengadaan masker kain bermotif batik yang dapat dipadankan dengan tren busana kekinian. Melihat dari sisi sosial, penggunaan masker saat ini telah menjadi norma sopan santun baru di masyarakat. Hal ini telah diungkapkan oleh Dekan Fisipol UGM, Prof. Dr. Erwan Agus Purwanto melalui Harian Kedaulatan Rakyat edisi 12 Juli 2020.

Baca Juga  Daya Resiliensi Warga Jogja Melewati Krisis

Berbagai merek hand sanitizer baru pun telah hadir di pusat perbelanjaan maupun apotek. Banyak perusahaan yang berinovasi dalam menciptakan produk cairan pembersih tangan di tengah pandemi. Tidak hanya perusahaan berskala nasional, tetapi perusahaan lokal yang berpusat di DIY pun telah mengeluarkan produk hand sanitizer yang sesuai standar. Singkat kata, masyarakat telah berusaha untuk menjalani pola hidup bersih agar terhindar dari Covid-19, sembari tetap beraktivitas di luar rumah.

Aktivitas AKB di DIY memiliki dua implikasi yakni bebas dan terbatas. Di satu sisi masyarakat dapat beraktivitas kembali, di sisi lain terdapat batasan yang menjadi rambu-rambu dan patut untuk ditaati. Ironisnya, sampai detik ini di DIY masih terlihat banyak orang yang melupakan penggunaan masker dan tidak mengindahkan physical distancing di kerumunan. Padahal, Covid-19 belum berakhir dan masih mengintai siapa pun yang lemah, baik lemah dalam arti kondisi fisik, maupun lemah dalam kewaspadaan.

Data yang dihimpun dari laman https://corona.jogjaprov.go.id/ menunjukkan sampai 25 September 2020 tercatat kasus positif Covid-19 di DIY sebanyak 2.458 orang, dan sejumlah 64 orang di antaranya meninggal dunia. Dalam seminggu terakhir, sejumlah 206 pasien dinyatakan sembuh. Ironisnya, sebanyak 421 orang dinyatakan positif Covid-19 dan 11 orang pasien meninggal dunia. Perlu diingat, wilayah DIY adalah wilayah yang padat dan tidak terpisahkan, sehingga jangan dimaknai bahwa kewaspadaan hanya berlaku bagi kecamatan yang terdampak COVID-19.

Baca Juga  Autis Asperger Bukan Halangan, Mahasiswa Fapet UGM Sukses Sidang Skripsi

Pada Juli 2020, Badan Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) telah mengeluarkan pernyataan bahwa telah dilaporkan angka kejadian penularan Covid-19 di kerumunan ruang tertutup. Hal ini sangat mungkin terjadi akibat penyebaran lewat aerosol/ partikel udara bersamaan dengan droplet. Menurut WHO, contoh aktivitas yang memungkinkan penularan ini adalah saat berlatih paduan suara, makan di restoran, maupun berolah raga di pusat kebugaran (fitness center).

Sejumlah droplet pernapasan dapat menghasilkan aerosol/partikel udara yang sangat kecil serta dapat menyebar dan tak kasat mata. Kondisi ini terjadi saat orang menguap, bernapas normal, dan berbicara. Orang rentan yang menghirup aerosol dapat terinfeksi jika di dalam aerosol tersebut mengandung virus dalam jumlah cukup untuk menyebabkan infeksi ke orang lain.

Kita perlu mengapresiasi langkah cepat pemerintah dalam penanganan Covid-19 di DIY. Hanya selang beberapa hari setelah Covid-19 dinyatakan pandemi oleh Badan Kesehatan Dunia/ World Health Organization (WHO), ditetapkanlah 27 Rumah Sakit (RS) rujukan di DIY untuk menangani kasus Covid-19. Di antaranya, 4 RS ditunjuk melalui Surat Keputusan Kementerian Kesehatan RI dan 23 RS lainnya ditunjuk melalui Surat Keputusan Gubernur DIY.

Penetapan 27 RS rujukan di DIY dinilai sebagai salah cara untuk meminimalisir penyebaran kasus Covid-19. Penanganan pasien yang masuk dalam kategori suspek maupun pasien terkonfirmasi Covid-19 dapat lebih terorganisir di beberapa titik lokasi RS rujukan tersebut berada. Mulai dari Kulon Progo hingga Gunungkidul, sampai Sleman hingga Bantul. Mulai dari RS milik pemerintah, sampai RS milik swasta. Karantina wilayah pun dapat dilakukan dengan melibatkan warga dan pemangku kepentingan setempat.

Baca Juga  Kematian Dokter Semakin Meningkat Akibat Pandemi, Masyarakat Terancam Kehilangan Layanan Kesehatan

Angka kumulatif kejadian Covid-19 di DIY memang tidak setinggi di daerah lainnya semisal DKI Jakarta dan Surabaya. Sampai saat ini, jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 di DKI Jakarta adalah 68.927 orang (sumber: https://corona.jakarta.go.id/id), sedangkan di Surabaya adalah 14.000 orang (sumber: https://lawancovid-19.surabaya.go.id/). Kita pun turut prihatin akan banyaknya tenaga medis yang tumbang bahkan meninggal dunia akibat terinfeksi Covid-19. Kita yakin bahwa mereka telah menerapkan standar keselamatan tertinggi dalam perlindungan diri, akan tetapi maut tak dapat terelakkan.

Jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 di DIY makin meningkat dari waktu ke waktu. Peningkatan ini seolah tenang, bukan berupa lonjakan yang mengagetkan. Adalah tugas kita semua untuk tidak “meremehkan” penyakit yang masih tergolong baru ini. Melalui pola hidup sehat dan kewaspadaan agar terhindar dari Covid-19, kita turut berkontribusi dalam penurunan angka kejadian Covid-19 di DIY. Salam sehat dan semoga Covid-19 segera berakhir. (*)

Komentar

News Feed