oleh

71th UGM (1): Mendesain Solusi Atas Perubahan

Prof Ir Panut Mulyono MEng Deng IPU ASEAN Eng

Rektor UGM


DUNIA global mengalami banyak tantangan yang tidak ringan. Dunia saat ini mengalami ketidakstabilan, ketidakpastian, kerumitan, dan ambigu yang populer dengan sebutan VUCA (volatility, uncertainty, complexity, ambiguity) di berbagai sendi kehidupan. Hanya ada satu yang pasti pada masa depan, yaitu perubahan yang sulit untuk diprediksi (unpredictable change).

Gejolak perubahan terjadi secara labil dan cepat sehingga seolah-olah kita ini gagap dan terkejut dalam mengantisipasi perubahan selanjutnya. Perkembangan teknologi, pemanasan global, perubahan iklim, peningkatan populasi manusia di bumi yang tidak terkontrol, pandemi Covid-19, resesi ekonomi global, perang dagang, dan permasalahan lainnya merupakan tantangan besar yang dihadapi bangsa-bangsa di bumi ini.

Tantangannya tidaklah semakin sederhana, tetapi sebaliknya, semakin kompleks dan semakin berat. Pertanyaannya adalah bagaimana UGM dan kita semua akan mengarungi perubahan ke depan? Akankah kita menjadi bagian yang memimpin perubahan dan/atau mendesain solusi atas perubahan-perubahan yang tidak dapat kita hindari dalam kehidupan? Perubahan adalah bagian dari semesta yang cerdas, bagian dari alam raya yang berinteligensia.

Baca Juga  UGM Kampus Paling Informatif 2020

Dalam kondisi VUCA, prediksi masa depan dengan mendasarkan apa yang telah terjadi di masa lalu sering tidak akurat, bahkan dapat membawa kita pada situasi lebih sulit. Pola pikir baru, strategi baru, dan metode-metode baru yang lebih inovatif diperlukan dalam merespons dan mengambil peluang yang justru sangat besar dalam perubahan tersebut.

Jika pengetahuan (knowledge) dan pengalaman (experience) tidak dikombinasikan dengan pola pikir baru (mindset), keterampilan baru (reskilling), daya adaptabilitas yang tinggi (adaptability), kelincahan yang tinggi (agility), dan kerendahhatian, maka akan sulit rasanya sebuah organisasi tersebut untuk mengambil peluang, bahkan untuk sekadar survive juga akan sulit. Bisa jadi ketrampilan dan pengetahuan yang kita miliki saat ini sudah tidak relevan lagi untuk menghadapi masa depan yang selalu berubah.

Baca Juga  Hidupilah Lingkungan Selamatkan Alam

Oleh karena itu, tantangan-tantangan tersebut haruslah kita rangkul dan menjadi bagian dari proses dan model bisnis yang akan kita jalankan. Bapak Presiden Joko Widodo, dalam pidato kenegaraan lalu, telah menegaskan bahwa saatnya kita membenahi diri secara fundamental, melakukan transformasi besar, menjalankan strategi besar di bidang ekonomi, hukum, pemerintahan, sosial, kebudayaan, termasuk kesehatan dan pendidikan, serta membajak krisis untuk meraih lompatan visi-misi yang ditetapkan.

Salah satu tantangan berat yang dihadapi semua bangsa tanpa terkecuali adalah munculnya pandemi Covid-19. Tidak ada yang menyangka bahwa kita akan mengalami disrupsi yang dipercepat (accelerated disruption), sangat drastis, dan mengejutkan dalam semua aspek kehidupan. Kita tidak menyangka bahwa sekolah-sekolah, tempat ibadah, pusat perbelanjaan, pasar-pasar, pusat-pusat keramaian, moda transportasi, dan seluruh aktivitas berhenti total dan telah memukul pilar-pilar ekonomi masyarakat kita. Dengan penuh kegagapan, kita semua berusaha merespons secepat mungkin untuk mencegah persebaran Covid-19 lebih luas lagi dan pada sisi yang lain kita berusaha agar roda kehidupan ekonomi tetap berjalan.

Baca Juga  Public Health Pandemic Talks: Melibatkan Kelompok Rentan dalam Penanganan Pandemi Merupakan Investasi Jangka Panjang

Pada 31 Maret 2020, Presiden telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2020 yang mengatur pembatasan sosial berskala besar sebagai respons terhadap Covid-19. Peraturan ini menjadi dasar hukum bagi pemerintah dalam menetapkan pembatasan aktivitas yang menimbulkan kerumunan massa. Pada saat yang sama, Presiden telah menetapkan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 yang menyatakan bahwa pandemi Covid-19 sebagai bencana nasional.

Data global sampai dengan tanggal 26 November 2020, terdapat 60,4 juta kasus, 38,7 juta dinyatakan sembuh, dan 1,42 juta meninggal dunia. Di Indonesia, terdapat 517.000 kasus dengan 434.000 dinyatakan sembuh dan 16.352 meninggal dunia. Kajian Bank Dunia menyatakan bahwa dampak ekonomi global akibat pandemi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi turun sebesar 5,2% yang merupakan resesi global terbesar sejak perang dunia kedua. Selain itu, Covid-19 telah meningkatkan tingkat kemiskinan dan kesenjangan ekonomi. (*/Bersambung)

Komentar

News Feed