BANTUL – Tinggal di perkotaan dengan halaman rumah hanya menyisakan lahan sempit, bukan berarti tertutup harapan bagi kita untuk menghijaukannya dengan aneka tanaman sayur dan buah. Perpaduan sistem menanam misalnya menerapkan teknik hidroponik, pemilihan media tanam dan pemupukan yang tepat menjadi kuncinya. Resep bertanam yang diterapkan Hari Wibowo SE berikut ini terbilang ciamik.
Media tanam memakai tanah, pemupukannya dengan limbah media bekas budidaya cacing lumbricus sp (kascing) dan sekam bakar. Perbandingan ketiganya yakni 2:1:2. Untuk diketahui, media budidaya cacing berasal dari limbah pula. Yakni limbah budidaya jamur (baglog) dengan komposisi serbuk gergaji, bekatul dan dolomit (kapur pertanian).
“Kandungan unsur hara pupuk kascing tinggi. Pasalnya pada saat budidaya cacing, limbah baglog sebagai media utama budidaya cacing masih ditambahi pakan untuk cacing berupa limbah sayuran, bekatul, hingga ampas tahu. Begitu dipanen cacing dipisah. Limbah budidaya cacing selanjutnya dimanfaatkan sebagai pupuk aneka tanaman sayur hingga tanaman buah. Fungsinya sebagai pupuk aneka sayur hingga tanaman buah,” kata Bowo ditemui Kamis (29/10/2020) di salah satu lokasi pertanian lahan sempit yang ia kelola dengan memanfaatkan halaman rumah di wilayah Sorowajan RT 10 Panggungharjo Sewon, Bantul.

Tempat media tanam bisa memanfaatkan botol bekas, agar lebih praktis dan murah. Mulai ukuran kemasan botol air mineral isi 1,5 liter, jeriken bekas ukuran 5 liter, wadah bekas kemasan minyak goreng 2 liter, galon bekas 6 liter dan seterusnya. Bila mau dikombinasi dengan sistem hidroponik maka botol atau wadah media tanam disekat dibagi menjadi dua ruang. Bagian atas tempat media tanam berkomposisi tanah, pupuk kascing dan sekam bakar, dihubungkan dengan sumbu pada bagian tengah agar akar dapat menyerap air yang diisi di ruang terpisah pada bagian bawah. “Konsep seperti itu menjadikan kita bisa menghemat media tanam, irit tempat, irit penyiraman,” imbuh Bowo.
Dengan komposisi tanah ditambah pupuk kascing dan sekam bakar, syarat tumbuh awal bagi tanaman telah terpenuhi. Tentu masih perlu ditambah penyiraman. Komposisi ketiga bahan tersebut menurut Bowo terbilang ideal. Diceritakan, berdasarkan pengalaman sendiri, di halaman rumah yang terbilang sempit, tanaman seledri, terong, tomat, daun mint, strawberry, jambu air dan sejumlah tanaman buah lainnya tumbuh subur.
Agar hasil makin optimal, tanaman masih perlu dirawat dengan siraman atau semprotan hormon pengatur tumbuh. Namun hormon pengatur tumbuh yang dia tambahkan ke tanaman bukan berasal dari bahan kimiawi tetapi terbuat dari bahan alami. “Hormon pengatur tumbuh, dapat kita racik sendiri. Bahannya air kelapa, daun lidah buaya, gula atau tetes tebu, ditambah telur ayam. Fermentasi awal menggunakan susu fermentasi. Prosesnya selama 14 hari,” urainya.
Kebutuhan hormon pengatur tumbuh untuk tanaman yang ditanam pada media tanam dengan kandungan unsur hara bagus, cukup 10 cc hormon pengatur tumbuh berbahan alami yang telah terfermentasi dilarutkan dalam 15 liter air. Hormon pengatur tumbuh alami tersebut diberikan seminggu dua kali dari saat tanam hingga menjelang panen. Sedangkan untuk tanaman buah, dosis perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan pembentukan bunga dan buah. Tanpa pupuk kimiawi, pupuk kascing dapat diberikan kepada tanaman secara berkala dengan cara ditambahkan pada media tanam. (Sukron/Wiradesa.co)











Komentar