oleh

Yudi Latif: Terorisme Miskin Mental

YOGYAKARTA – Kemiskinan material bisa mendekatkan seseorang pada kekufuran (kegelapan). Tetapi, kemiskinan mental lebih berbahaya dari itu: nista di dunia dan akhirat. Dalam miskin mental, seseorang tak bisa melihat sisi positif pengalaman hidupnya.

Menurut Cendekiawan Muda, Yudi Latif, siapa tak bisa berdamai dengan masa lalu, maka tak bisa melihat kebaikan hari ini. Siapa tak bisa lihat kebaikan hari ini, tak bisa lihat harapan kebahagiaan hidup mendatang di dunia. “Siapa tak bisa melihat kebahagiaan hidup di dunia, berharap bisa raih kebahagiaan di akhirat dengan segera akhiri hidupnya,” kata Yudi Latif melalui akun Instagram pribadinya, @yudi.latif, Selasa, 30 Maret 2021.

Dikatakan, orang miskin mental memang berani mati, tetapi tak berani hidup. Padahal, tak ada jalan pintas menuju surga. Janji surgawi hanya bisa diraih lewat keberanian hidup, beramal kebajikan atasi rintangan dan tantangan zaman, demi memberi kebahagiaan hidup warga bumi.

“Dalam kemiskinan mental, ruang jiwa juga terlalu sempit untuk bisa menerima perbedaan. Kehadiran yang berbeda dipandang dengan kecurigaan permusuhan, yang harus disingkirkan dengan pengucilan dan penyerangan,” lanjut cendekiawan kelahiran Sukabumi, 26 Agustus 1964.

Baca Juga  Bakso di Sleman Ini Harganya Cuma Rp3.000 Isi 17 Butir

Dalam aksi teroris, kebencian pada perbedaan dan jalan pintas menuju surga menyatu dalam aksi bom bunuh diri. “Pekikannya, ‘Hidup mulia atau mati syahid’. Kenyataannya, ‘Hidup tak mulia, mati pun tak syahid’. Kebencian pada hidup membuat hidupnya tak bisa mulia,” katanya.

Siapa tak bisa hidup mulia di dunia tak mampu kobarkan kesyahidan (kesungguhan) jelang kematian—dengan berani mengolah kehidupan; malah, memamerkan kepengecutan dengan bunuh diri dan bunuh orang banyak. Orang yang mati syahid wariskan kebahagiaan dan kebaikan pada kehidupan. Sedangkan orang yang mati pengecut, mewariskan kesengsaraan dan keburukan pada kehidupan.

Baca Juga  TAKE Bener Meriah Memacu Kampung Lebih Peduli Lingkungan

Dengan demikian, kata Yudi Latif, terorisme bukanlah sebab, melainkan korban dari kemiskinan (material dan mental). Dia pun mengutip Pesan Ramadhan Vatikan. “Kemiskinan telah menodai dan merendahkan martabat manusia/kemanusiaan dan tidak jarang menjadi penyebab keterasingan, kemarahan bahkan kebencian dan hasrat untuk membalas dendam.”

“Betapa pun kita benci terorisme, solusinya tak cukup dengan kutukan. Kita perlu menumpas akarnya dengan meningkatkan kualitas dan kecerdasan hidup secara berkeadilan. Diingatkan oleh H.G. Wells, Sejarah kian jadi arena adu cepat antara pendidikan dan prahara.” (*/serikatnews.com)

Komentar

News Feed