oleh

Jembatan Sesek Ngentakrejo: Dari Jalur Penyeberangan Alternatif Hingga Jadi Lokasi Foto Prewedding

Jogja.siberindo.co – Masyarakat Ngentakrejo dan Sendangsari sejak zaman dahulu tersambung berinteraksi satu sama lain meski perkampungan mereka terpisah oleh aliran Sungai Progo. Masyarakat di Kapanewon Lendah Kulonprogo dan Pajangan Bantul dahulu terlayani oleh getek lesung, sedangkan saat ini bila musim kemarau terhubung wahana jembatan sesek bertiang patok-patok bambu, berlantai kayu atau bambu.

Jembatan tidak permanen itu bertahan beberapa bulan hingga musim Banjir tiba. Saat tiba musim banjir, jembatan sesek akan kembali digantikan wahana getek penyeberangan berkapasitas angkut delapan unit sepeda motor beserta penumpang. Getek awet terbuat dari papan logam menyerupai seng, tersambung dengan tali sling membentang dari ujung barat hingga ujung timur.

“Begitu musim banjir, jembatan sesek ambrol. Patok-patok bambu penyangga badan jembatan yang tertancap di kedalaman dasar sungai sekitar setengah meter akan terlepas diterjang banjir. Sedangkan badan jembatan kayu atau bambu akan menepi, lalu diangkat untuk dipasang kembali pada kemarau berikutnya,” terang Miskijo, warga Ngentakrejo yang sehari-hari bertugas menjaga jembatan penyeberangan alternatif penghubung dua wilayah beda kabupaten itu.

Baca Juga  Kopi Sawah Perpaduan Nikmatnya Kuliner dan Indahnya Pemandangan Alam

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kemarau tahun ini Miskijo dibantu beberapa orang berjaga di gubuk tepi sungai. Selain sebagai tempat berteduh berfungsi pula sebagai pos pembayaran uang sukarela perawatan jembatan. Sekali menyeberang umumnya memasukkan uang ke kotak Rp2000. Ongkos penyeberangan jembatan sesek terbilang murah apalagi bila dibanding aktivitas penyeberangan melalui jalur utama lewat Jembatan Srandakan yang memakan waktu lebih lama lantaran harus  memutar.

“Yang lewat kebanyakan para peternak sapi seputar Lendah yang cari pakan rumput atau damen di Bantul. Selain itu para pekerja pabrik, para pelajar banyak pula yang menjadi pelanggan setia jembatan sesek. Sehari ada 100 motor dan sepeda yang menyeberang,” tambah Miskijo Rabu (29/7/2020).

Baca Juga  Adaptasi Kebiasaan Baru Pasukan Bregada Dibatasi 30 Personel
Jembatan Sesek Ngentakrejo, membentang 50 meter di atas Kaliprogo. (Foto: Sukron/wiradesa.co)

Sebagai penjaga jembatan, tugas Miskijo tidak enteng. Tak cukup duduk manis sembari menerima sumbangan sukarela  dari para pemakai jembatan sesek. Lebih dari itu, lelaki berperawakan sedang tersebut kerap kali mesti membantu ibu-ibu yang ngeri mengendarai motor di atas jembatan selebar satu meter lebih sedikit. Lantaran sisi timur tepi sungai berlereng terjal, bila ada motor atau sepeda tak kuat nanjak, tugas Miskijo dan rekan-rekan untuk membantu. Dia harus lekas tanggap bergegas memusatkan tenaga mendorong agar laju kendaraan lancar kembali.

Baca Juga  Gelar Macapat: Menumbuhkan Cinta Budaya Lokal bagi Milenial

Bertugas sejak pagi hingga petang Miskijo dan beberapa rekan diupah Rp45 ribu sehari ditambah uang makan siang. Kelebihan dari uang sumbangan para penyeberang akan masuk kas dan dikelola penyandang modal pembangunan jembatan apabila sewaktu-waktu jembatan sesek butuh biaya perawatan.

Bagi warga luar daerah, keberadaan jembatan sesek bukan semata dinilai atas fungsinya sebagai sarana memotong jarak dua wilayah yang terlampau jauh bila ditempuh lewat jalur biasa. Meski tidak sering, sebagian orang tak melewatkan kesempatan untuk berfoto. Pernah pula lokasi jembatan sesek dipakai syuting film dan foto prewedding.

“Bagi pasangan yang mengambil foto prewedding dengan latar jembatan sesek biasanya ngisi kotak lebih banyak, tapi tak ada pungutan khusus. Semua serba sukarela,” tandas Miskijo. (Sukron/wiradesa.co)

Komentar

News Feed