Utaminingsih
Dosen Fakultas Biologi UGM/Mahasiswa Program Doktoral Fakultas Biologi UGM
PANDEMI Covid-19 yang terjadi pada akhir tahun 2019 merupakan salah satu bencana besar dalam sejarah umat manusia. Kondisi ini telah menyebabkan perubahan drastis dalam tatanan kehidupan, baik di negara maju maupun berkembang. Berbagai pihak telah berupaya sekuat tenaga untuk menghentikan penyebaran virus ini, salah satunya dengan penerapan kondisi normal baru.
Kondisi normal baru menuntut manusia mengubah pola hidupnya dengan cara senantiasa menerapkan protokol kesehatan dan menjaga imunitas tubuh. Pola hidup sehat menjadi kunci agar tubuh tetap sehat dan imunitas meningkat sehingga dapat mencegah masuknya virus Corona baru yang menyebabkan Covid-19.
Contoh pola hidup sehat adalah berolah raga dan mengkonsumsi makanan sehat, terutama makanan yang dapat meningkatkan imunitas tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi buah-buahan dapat meningkatkan imunitas tubuh.
Ciplukan atau dikenal dengan nama latin Physalis, merupakan salah satu tanaman anggota Solanaceae yang berkerabat dekat dengan terong, cabai, tomat, dan kentang. Tanaman ini berasal dari benua Amerika, kemudian menyebar ke Asia dan Afrika, hingga akhirnya tersebar luas di daerah tropis maupun subtropis di seluruh dunia.
Ada dua jenis ciplukan yang umum dijumpai di Indonesia, yaitu Physalis angulata L. dan Physalis peruviana L.. Physalis angulata L. merupakan jenis ciplukan yang memiliki buah bewarna hijau kekuningan saat masak dan sering ditemui di sawah, sedangkan Physalis peruviana L. merupakan ciplukan yang buahnya berwarna oranye saat matang dan umumnya tumbuh di daerah pegunungan. Buah ciplukan juga dikenal dengan berbagai nama pada beberapa daerah di Indonesia, misalnya cecendet (Sunda), daun boba (Ambon), yurnyuran (Madura), ciciplukan (Bali), dan dagameme (Ternate).
Tanaman ini merupakan herba tahunan yang memiliki akar tunggang, dapat tumbuh baik pada tanah gembur, cukup air, dan sinar matahari. Secara morfologi, batang bercabang tidak teratur dan menyebar ke segala arah, tinggi tanaman dapat mencapai satu meter. Daun berbentuk oval, bertangkai dengan ujung runcing dan tepi tidak rata.
Bunga tunggal, kecil, berbentuk lonceng, berwarna putih, muncul di ketiak daun. Tangkai benang sari berwarna kuning. Buah berbentuk bulat, diselubungi oleh kelopak, sepintas seperti lampion kecil. Kelopak tersusun dari lima daun kelopak yang berfungsi melindungi buah dari serangan hama. Buah memiliki rasa manis apabila sudah matang dan asam ketika masih mentah.
Ciplukan sudah lama dimanfaatkan sebagai tanaman obat tradisional di nusantara. Sebagai contoh, masyarakat biasa memanfaatkan akar ciplukan untuk obat cacing atau penurun panas, daun untuk obat nyeri, dan buah untuk penyakit kuning. Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, penelitian membuktikan bahwa tanaman ini kaya akan vitamin, mineral, antioksidan, dan senyawa metabolit sekunder yang bermanfaat dalam bidang farmakologi. Physalis peruviana atau ciplukan oranye mengandung serat, antioksidan, protein, dan karbohidrat.
Ciplukan jenis ini mengandung mineral seperti K, Mn, Mg, Fe dan Zn dengan kadar lebih tinggi dibanding pepaya, apel, jeruk, dan stroberi. Kandungan Fe ciplukan mencapai 1,47 mg per 100 g, lebih tinggi dibandingkan dengan jeruk (0,1 mg). Kandungan vitamin C ciplukan (2.050 mg per 100 g) lebih tinggi dibanding mangga (15-36 mg per 100 g) dan jeruk (50 mg per 100 g) namun lebih rendah dibanding jambu biji (120-228 mg per100 g).
Selain vitamin C, ciplukan juga mengandung vitamin E dan A. Ciplukan juga mengandung senyawa metabolit sekunder seperti saponin, flavonoid, polifenol, dan fisalin. Sejumlah penelitian menyebutkan, ciplukan memiliki aktivitas sebagai antihiperglikemi, antibakteri, antivirus, imunostimulan, imunosupresan, antiinflamasi, dan antioksidan.
Berdasarkan beberapa informasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa buah ciplukan berpotensi memperkuat imunitas tubuh dan memerangi berbagai penyakit. Terutama di masa pandemi Covid-19 ini, imunitas tubuh merupakan garda terdepan dalam melawan virus di samping penerapan protokol kesehatan yang masif. (*)











Komentar