oleh

Budidaya Udang Laut Skala Rumah Tangga di Luar Pesisir

Prof Dr Ir Rustadi MSc

Staf Pengajar Departemen Perikanan Fakultas Pertanian, UGM


UDANG vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan produk perikanan yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi baik di pasar lokal maupun ekspor. Udang merupakan bahan makanan yang menyehatkan dalam bentuk segar ataupun olahan. Permintaan udang yang terus meningkat dan harganya stabil harus dapat dipenuhi dari produksi budidaya karena hasil tangkapan sudah semakin menurun. Upaya peningkatan produksi udang di Indonesia dapat dilakukan melalui ekstensifikasi dan intensifikasi sehingga dapat membuka usaha baru, menyerap tenaga kerja, meningkatkan pendapatan bagi masyarakat dan menghasilkan devisa bagi negara.

Semakin terbatasnya lahan pesisir untuk tambak udang dan tingginya persaingan dalam penggunaannya, serta tercemarnya air laut di pesisir oleh limbah cair dan mikro plastik, maka usaha perluasan budidaya udang dapat diarahkan ke lahan daratan. Meskipun di lahan daratan, media air budidaya tetap air payau dengan salinitas yang sesuai kebutuhan hidup dan pertumbuhan udang dan dibentuk dari air tawar dari tanah/sumur dicampur dengan air laut/asin.

Teknik pengairan dilakukan secara resirkulasi dan pengelolaan budidaya udang secara intensif; lahan sempit, padat penebaran tinggi, penggunaan pakan yang cukup dan seimbang, inovasi teknologi dan pengelolaan limbah sehingga berkelanjutan dan ramah lingkungan. Skala usaha kecil atau skala rumah tangga ini dapat melibatkan lebih banyak masyarakat bermodal rendah sampai menengah, pengawasan dan pengelolaan lebih mudah, penggunaan air laut lebih sedikit, bahkan lebih banyak air tawar karena jenis udang vaname memiliki daya tahan dalam air salinitas rendah dan hidup dalam semua kolom air dengan kepadatan tinggi sehingga produksinya tinggi.

Baca Juga  Dukacita Akibat Covid-19 dan Dampak Psikologisnya

Permasalahannya adalah apakah budidaya udang vaname secara teknik dan biologik dapat dilaksanakan di luar pesisir; bagaimana mengatasi rendahnya oksigen dan tingginya konsentrasi gas-gas beracun dan pengaruhnya terhadap sintasan, pertumbuhan dan produksi udang. Salah satu alat aerasi baru yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas air, adalah Microbubble Generator (MBG) yang merupakan rancangan Dr. Deendarlianto dan kawan-kawan dari Fakultas Teknik (UGM) sudah dicoba untuk proses pengolahan limbah dan dapat diterapkan untuk aerasi budidaya ikan nila merah dan lele (Prof. Dr. Rustadi, MSc. dan kawan) Depatemen Perikanan Fakultas Pertanian UGM, namun belum diuji pada budidaya udang.

Percobaan budidaya udang vaname dilakukan di Yogyakarta, yaitu sekitar ± 47 km dari pesisir. Budidaya udang dilakukan secara segmentasi, diawali dengan aklimatisasi larva (PL115-20) terhadap lingkungan dan pakan, kemudian pendederan benur dan pembesaran sampai ukuran konsumsi. Wadah pemeliharaan berupa bak plastik ukuran 1x1x1 m kedalaman air 0,90 m. Air payau dibuat dari campuran air laut (salinitas sekitar 35 ppt) yang diambil dari pantai Gunungkidul dengan air  tawar dari sumur (salinitas 0 ppt).

Baca Juga  Pandemi dan Revitalisasi Karakter Prososial Bangsa

Sistem budidaya diseting secara re-sirkulisasi, yang terdiri atas bak-bak: pemeliharaan, tampungan limbah, penyaringan dan reservoir dengan jaringan pipa pralon untuk pengisian dan pengeluaran air. Air mengalir terus menerus dengan debit 0,028 l/detik dan dapat dikontrol (Gambar 1). Tiap bak budidaya diaplikasikan aerasi MBG (pompa 85 W dengan 1 nozle) dan Blower dengan debit udara masuk yang sama, sekitar 30 l/menit. Udang diberi pakan komersial bentuk tepung sebanyak 5% biomasa/hari dengan frekuensi 5 kali/hari. Perawatan meliputi pemberian pakan, cek aliran air dan aerasi, pembersihan nozle MBG dan penanganan limbah. Pengamatan kualitas air dan biologi udang untuk evaluasi performa budidaya, dilaksanakan pada awal, dua mingguan dan akhir/panen.

Gambar 1. Tata letak wadah budidaya udang sistem resirkulasi.

Hasil penelitian membuktikan bahwa udang vaname mampu hidup dan tumbuh di luar lingkungan pesisir ± 47 km dari pantai. Hal tersebut terkait dengan suhu air antara lokasi percobaan 25-28 °C dan salinitas air berkisar 16–21,8 ppt dengan suhu air tambak 28-31 °C yang tidak terlalu jauh perbedaannya dan masih ditolerir udang vaname. Penggunaan aerasi MBG lebih meratakan suhu air daripada dengan Blower karena adanya dorongan aliran air ke semua kolom air bak.

Baca Juga  Krisis Keamanan Politik, Pertanda Indonesia di Ambang Negara Gagal?

Demikian pula untuk parameter kualitas air lainnya seperti oksigen terlarut (DO=dissolved oxygen), gas beracun NH3 dan CO2 lebih baik karena aerasi MBG menghasilkan gelembung mengandung oksigen berukuran mikro 50-200 µm (Deendarlianto et al., 2015), gelembungnya menyebar, sentuhan dengan air lebih luas dan kecepatan lepas lebih lambat. Sedangkan gelembung udara aerasi Blower berukuran makro dan tidak bergerak sehingga mudah lepas ke udara.

Ketersediaan DO yang lebih tinggi dalam air menyebabkan proses dekomposisi limbah dan nitrifikasi berjalan lancar, sehingga produksi gas beracun NH3 dan gas-gas lain juga lepas ke udara. Dengan kualitas air yang baik maka jumlah udang yang hidup banyak, pertumbuhan cepat dan hasil panenannya tinggi. Performa budidaya pendederan dengan kepadatan 250-500 ekor/m3 benur ukuran rata-rata ukuran panjang 3 cm dan berat 0,24g/ekor menghasilkan udang ukuran rata-rata 8-10 cm, 4-6,5g, laju sintasan 70-75% dan panenan 0,75-1,2 kg/m3.

Gambar 2. Foto peneliti beserta hasil udang sistem resirkulasi.

Selanjutnya pembesaran benur hasil pendederan dapat menghasilkan udang ukuran konsumsi rata-rata panjang13 cm dan berat 15 g (Gambar 2) dengan laju sintasan 70-85% dan panenan 1,5-2,0 kg/m3. Masing-masing segmen budidaya dilaksanakan selama 2 (dua) bulan. Dengan demikian maka budidaya udang vaname di luar pesisir secara teknis dan biologis dapat dilaksanakan dalam skala rumah tangga. (*)

Komentar

News Feed