oleh

Hidupilah Lingkungan Selamatkan Alam

Oleh: Arief Muammar, S.Si., M.Sc.
Microbiology Laboratory Faculty of Biology, Universitas Gadjah Mada


MENDENGAR cerita dari kakek nenek kita, masyarakat Indonesia dahulu sangat peduli terhadap lingkungan. Masyarakat desa sering kali melakukan kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan, merawat keasrian desa dan senantiasa menjaga alam sekitar. Konon budaya “gugur gunung” masih sangat terasa di kala itu. Saat ada isu atau pekerjaan sosial yang harus diselesaikan bersama oleh masyarakat dusun, apalagi berkaitan tentang kerusakan lingkungan, seperti tak perlu diberi komando mereka seakan bergerak dalam satu langkah seirama. Meski kebiasaan ini masih bisa kita temui pada beberapa masyarakat pedesaan, namun sekarang ini sudah jauh berkurang.

Tidak sedikit pemuda di saat pembelajaran jarak jauh melalui daring saat ini lebih suka menghabiskan waktunya untuk bersosial media seperti bermain Tik Tok, IG, Facebook dan ada pula yang bermain game dari pagi hari sampai malam hari. Untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial atau kegiatan gotong royong terutama untuk mencegah atau mengatasi kerusakan lingkungan menjadi tidak menarik lagi. Meski tak semua pemuda bersikap demikian, tetapi bahkan ada juga para pemuda yang mencoba untuk sadar lingkungan, tetapi masih bersifat temporal.

Seperti jika kita memperingati hari bumi, banyak  mahasiswa yang melakukan aksi seperti membawa spanduk dengan kata-kata seperti “selamatkan bumi kita”, “stop global warming” atau kata lainnya yang semakna, tetapi banyak yang setelah itu mereka masih membuang sampah secara sembarangan, tidak melakukan penghijauan atau malah justru ikut turut menyumbangkan gas emisi karbondioksida dengan jumlah banyak ke alam dengan menggeber-geber motor sehingga gas buang yang dihasilkan tidak seperti normalnya.

Baca Juga  Perspektif Marketing Politik Dibalik Pengarahan Pilpres 2024 di Jateng

Kondisi alam kita sekarang ini sungguh cukup mengkhawatirkan. Isu climate change, global warming atau kerusakan alam lainnya menjadi topik hangat sekarang ini. Dampak negatif dari kerusakan alam yang terjadi sekarang sudah dialami tidak hanya oleh manusia, tetapi seluruh makhluk hidup di bumi ini. Seperti kacaunya pergantian musim panas dan hujan di Indonesia yang sudah tidak teratur lagi atau mencairnya gunung-gunung es yang menjadikan beruang kutub tidak mempunyai banyak tempat lagi untuk hidup.

Sesungguhnya kontribusi dari kita sebagai masyarakat yang bermartabatlah yang sangat diperlukan untuk menyelamatkan bumi kita ini, termasuk pemudanya. Jika kita sekarang ini mempunyai kultur yang agak berbeda dengan kondisi kakek nenek kita dahulu (karena adanya globalisasi), kita tidak dapat menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk berpangku tangan menyaksikan bumi kita yang sudah mulai tua ini tak dirawat oleh kita padahal kita lahir, hidup dan mati di bumi ini. Jangan pula kita selalu menikmati hasil dari apa yang dapat bumi berikan kepada kita, tanpa kita memberikan timbal balik yang kongkret kepada lingkungan.

Sadarkah kita, sudah berapa banyak oksigen yang dihasilkan oleh tiap dedaunan pohon yang kita hirup untuk hidup kita selama bertahun-tahun? Alam tidak meminta kita untuk membayar dengan rupiah seperti halnya jika kita dirawat di rumah sakit dan menghirup oksigen dari tabung, tetapi sesungguhnya alam harus kita balas budinya dengan merawatnya. Langkah kongkretnya seperti menanam pohon dan merawatnya hingga pohon itu benar-benar tumbuh dewasa dan hasil oksigennya dapat dinikmati tidak hanya untuk masa tua kita nanti, tetapi juga untuk anak cucu cicit kita kelak.

Baca Juga  KLHK Buka Ruang Keterlibatan Anak Muda dan Perempuan dalam Pengelolaan Ekowisata Berkelanjutan

Sungguh apa yang ada dalam pikiran orang-orang yang hanya mendasarkan kepada ego mereka ketika mereka dengan rakus melogging pohon-pohon yang sesungguhnya memberi kehidupan kita. Dengan dalil kesejahteraan rakyat atau sumber devisa, mereka merusak lingkungan yang ada. Hutan-hutan digunduli, dibuat pertambangan-pertambangan yang pastinya setelah tak ada lagi yang bisa dikeruk, daerah tambang tersebut akan menjadi daerah mati yang tidak dapat ditumbuhi lagi dalam jangka waktu tertentu.

Tidak hanya itu, tetapi juga daerah yang tadinya ramai di pertambangan itu akan menjadi kota mati sepeninggal para penambangnya pergi. Memang betul, ketika perusahaan tambang-tambang sedang memperoleh hasil optimal dalam beroperasi akan memberi keuntungan yang besar bagi pemerintah daerah dan masyarakat sekitar. Masyarakat kala itu bisa jadi memperoleh keuntungan yang melimpah, tetapi kita juga harus bijak ikut memperhatikan anak cucu kita ke depan, terutama ketika alam yang kita tinggali saat itu sudah tidak asri lagi ketika di huni nantinya. Tidak perlu memikirkan jauh sampai asri atau tidaknya alam kita nanti, tapi bayangkan tempat seperti apa yang pantas kita sebut, jika di tempat tersebut tanaman-tanaman tak lagi dapat tumbuh atau bahkan kebutuhan utama seperti udara dan air yang ada memiliki kualitas yang buruk.

Bukan dengan jalan merusak lingkungan kita sendiri jika kita mau memperoleh devisa dari sektor hutan. Ada cara lain yang justru akan memberikan untung tanpa buntung salah satunya yakni dengan perdagangan karbon. Perdagangan karbon adalah mekanisme berbasis pasar untuk membantu membatasi peningkatan CO2 di atmosfer. Indonesia dengan luas hutannya, berpotensi untuk memasuki era perdagangan karbon tersebut.

Baca Juga  Gusti Marrel Ajak Anak Muda Ikut Aktif Selamatkan Lingkungan

Berdasarkan data ADB – GEF – UNDP menunjukkan Indonesia memiliki kapasitas reduksi karbon lebih dari 686 juta ton yang berasal dari pengelolaan hutan. Jika harga rata-rata per ton karbon sebesar US$ 5, maka Indonesia berpotensi menjual sertifikat surplus karbon senilai US$ 3,430 miliar atau sekitar Rp 34 triliun. Perhitungan tersebut memang belum menyertakan karbon yang dilepaskan oleh Indonesia sendiri. Tetapi, semakin banyak hutan lindung, semakin banyak pohon yang ditanam di setiap lahan kosong, semakin luas lahan yang direhabilitasi dan direboisasi tentunya akan meningkatkan potensi penerimaan dana.

Maka bagi para pemanfaat lingkungan, apalagi kita golongan pemuda yang menempati jumlah terbesar pada masyarakat kita saat ini, tidak malukah jika kita hanya memanfaatkan tapi kita tidak mau melunasi hutang-hutang kita terhadap alam? Atau justru kita menjadi makhluk apatis yang tidak mau berinvestasi yang keuntungannya akan dirasakan oleh anak cucu kita kelak? Pada 5 November 2021 yang lalu, kita telah memperingati hari cinta puspa dan satwa nasional 2021. Peringatan tersebut merupakan sebuah momentum yang baik bagi kita untuk menjaga ingkungan beserta kelestarian alam yang ada di dalamnya. Orang bijak berkata, jangan kita hidup dari apa yang lingkungan dapat beri ke kita, tapi hidupilah lingkungan kita dengan cara melestarikannya, karena kita adalah khalifah di bumi. (*)


Arief Muammar

Dosen Biologi UGM yang sekarang sedang melanjutkan studi Doktoral di Fakultas Biologi UGM

Komentar

News Feed