JAKARTA – Beberapa oknum memblokade Sekretariat Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Jakarta, Selasa (14/12/2021). Mereka mengatasnamakan perwakilan dari PKC dan Cabang yang ada di beberapa daerah Sultra dan Sulsel.
Atas peristiwa tersebut, PKC dan Cabang Sultra dan Sulsel justru mengaku kaget akan kehadiran beberapa oknum di sekretariat PB PMII. Pasalnya, tidak pernah melibatkan atau mendelegasikan kader-kadernya untuk menghadap langsung dengan PB PMII di Jakarta.
“Kami tidak pernah menedelegasikan kader untuk berangkat ke Jakarta. Apalagi, untuk menuntut kinerja PB PMII dengan berbagai macam alasan. Saya pun sendiri kaget akan hal ini karena membawa nama kader PMII padahal nyatanya kami tidak pernah melalukan pergerakan dan tetap mengikut pada keputusan Ketua Umum PB PMII,” ungkap Urwah Rahmadi, Ketua Cabang PMII Gowa, Rabu, 15 Desember 2021.
Menurutnya, pemblokadean dilakukan oleh oknum yang ingin menghancurkan konstitusi organisasi PMII. “Kami tidak tahu dan tidak pernah setuju akan pergerakan seperti itu, ini sama saja melanggar atau berkhianat kepada organisasi pergerakan ini,” ucapnya.
Dikatakan juga bahwa pemblokadean PB PMII adalah catatan yang sangat penting, bagaimana mungkin sekelompok kader datang atas dasar kepentingan kelompoknya, tetapi melakukan hal yang mencederai nama besar PMII.
“Kita bisa lihat bagaimana gerakannya yang dipertontonkan ketika blokade di sekret PB PMII. Itu masih gambaran kecil, kita juga bisa lihat bagaimana ketika Sekertaris Jendral PB PMII mencoba untuk melakukan mediasi terhadap beberapa kader yang datang ke PB PMII tapi belum selesai bicara oknum dari kelompok Sulsel dan Sultra melakukan tindakan yang tidak sewajarnya kepada Sekjen, dengan memukul botol ke Sekjen, dan Sekjen dilarikan keluar dari Sekret PB PMII untuk menghindari ricuh dengan oknum kelompok tersebut,” ungkap Urwah Rahmadi.
Dari angka yang disebarluaskan, menurut Urwah mancapai 166 orang. Namun, pihaknya berharap dilakukan pemeriksaan tentang kebenaran laporan tersebut.
“Apa betul kader yang datang ke Jakarta ini paham akan soal konsitusi atau hanya ikut-ikut, lantas membahas soal konsitusi masih cacat di PB PMII. Apakah gerakan dari sekelompok oknum menguntungkan bagi setiap kader atau hanya segelintir kelompok saja,” katanya. (*)










