Aries Bagus Sasongko
Dosen Fakultas Biologi UGM dan Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Doktor Ilmu Biologi Fakultas Biologi UGM
BEBERAPA hari ini, hujan deras disertai angin kencang melanda beberapa wilayah Indonesia. Ancaman Banjir dan gagal panen pun sudah di depan mata. Hal ini, tentu saja, akan mengusik ketahanan pangan kita. Saat ini, kita dihimpit oleh dua kekuatan besar yaitu pandemi Covid-19 dan perubahan iklim global.
FAO dalam rangka Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2021 yang lalu, menyatakan bahwa sekitar 40% penduduk dunia tidak mampu membeli makanan sehat. Sementara itu, hampir 30% penduduk dunia mengonsumsi makanan yang kurang bergizi. Hal ini tentu saja akan berdampak pada kualitas kesehatan generasi penerus kita di masa depan. FAO pun mencatat bahwa pertanian merupakan sektor terbesar yang melibatkan hampir 1 juta penduduk dunia. Di antaranya adalah petani kecil yang menghasilkan lebih dari 33% pangan dunia.
Ancaman perubahan iklim global di depan kita sangat dirasakan khususnya oleh petani kecil. Dampak yang dapat terjadi yaitu penurunan daya dukung lingkungan, hasil panen, dan kualitas gizi produk pertanian. Petani akan sering gagal panen, tidak balik modal, dan jika berhasil panen, kualitas produknya juga kurang bagus.
Perubahan paradigma dari metode bercocok tanam konvensional perlu dilakukan. Petani berkarakter niteni, kreatif dan adaptif perlu dikembangkan. Petani harus peduli dengan kondisi pertanian kita, disaat ancaman perubahan iklim dunia sudah di depan kita. Apa yang bisa dilakukan oleh petani kita?
Niteni, kreatif dan adaptif
Niteni oleh Ki Hajar Dewantara dimaknai memperhatikan, mengamati dan menyimak serta melibatkan pancaindra. Petani yang titen akan mendapatkan pengetahuan kondisi tanaman terkait iklim, kesuburan tanah, kesehatan tanaman, dan penyakit tanaman. Petani harus kreatif dengan niteni lalu mencoba metode baru (niruke) sehingga bisa memodifikasi (nambahi) sesuatu menjadi lebih baik. Petani kreatif lebih adaptif sehingga siap untuk menghadapi berbagai tantangan termasuk perubahan iklim.
Belajar dari alam
Elaine Ingham mengembangkan suatu konsep pertanian berkelanjutan Soil Food Web. Konsep ini terinspirasi dari ilmu biologi tentang jaring-jaring makanan. Sederhananya, konsep ini menekankan peran organisme seperti bakteri, jamur, protozoa pemakan bakteri, dan nematoda pemakan jamur, di dalam ekosistem tanah.
Tanaman memilih bakteri dan jamur tanah yang menguntungkan melalui eksudat akar. Mikrobia ini akan mendekat ke daerah akar sebagai respons terhadap senyawa kimia tertentu dalam eksudat akar. Mikrobia ini membantu tanaman untuk menyediakan nutrien dan fungsi perlindungan terhadap penyakit. Belajar dari alam.
Pupuk dan pestisida kimiawi, menurut Elaine, dapat berakibat pada menurunnya mikrobia yang menguntungkan. Akibatnya, keseimbangan mikrobia tanah terganggu. Penggunaan pupuk dan pestisida kimia dalam konsep Soil Food Web tidak diperlukan. Hal ini dimungkinkan karena ekosistem tanah sudah terbentuk dengan baik.
Gunakan kompos
Sisa makanan, sampah sayur dan buah, serta sampah daun berpotensi untuk diolah menjadi kompos. Sampah organik ini jika didiamkan beberapa hari akan menimbulkan bau busuk. Lain halnya, pemberian inokulum mikrobia dan gula sebagai sumber energi dapat mengubah sampah organik, menjadi kompos yang menyuburkan tanah dan tanaman kita.
Kandungan nutrien dan mikroorganisme dalam kompos membantu menciptakan kesuburan tanah dan tanaman. Bakteri dan jamur tanah simbion secara bersama-sama membangun struktur tanah porus sehingga air dan udara dapat masuk menuju daerah perakaran. Penggunaan pestisida secara berlebihan menyebabkan penurunan jumlah mikrobia menguntungkan, pembentukan struktur tanah terganggu sehingga tanah menjadi anaerob, air dan udara tidak bisa masuk ke dalam tanah. Dampaknya, keseimbangan ekosistem tanah terganggu.
Viralkan informasi
Internet menjadikan dunia berasa tanpa batas. Penyebarluasan informasi dan pengetahuan praktis bagi petani turut membantu akselerasi pembangunan pertanian di Indonesia. Beberapa platform aplikasi online yang dikembangkan oleh anak muda telah menyasar salah satu permasalahan pertanian kita yaitu sulitnya petani bertemu dengan pembeli secara langsung meskipun hanya secara virtual.
Aplikasi lainnya yang telah dikembangkan yaitu permasalahan petani terkait kurangnya pendanaan. Internet of things (IoT) atau internet untuk semua merupakan konsep untuk memperluas manfaat internet di berbagai aspek kehidupan, termasuk juga di sektor pertanian. Petani yang dulu dikenal hanya mencangkul dan membajak sawah akan bertransformasi menjadi petani modern di tangan pemuda dan pemudi di masa yang akan datang.
Oleh karena itu, perubahan pemikiran dan perilaku menjadi kunci bagi petani dalam mengurangi dampak perubahan iklim global. Karakter niteni, niruke dan nambahi diperlukan oleh petani, khususnya petani dari kalangan anak muda, supaya adaptif. Meniru bagaimana alam bekerja dapat mendorong petani supaya lebih adaptif dan efektif serta efisien. Salah satu contoh sederhana meningkatkan kegunaan kompos dalam bercocok tanam. Petani kekinian akan menjadikan kemajuan teknologi informasi sebagai teman dan sarana komunikasi yang positif. (*)











Komentar