oleh

Manfaatkan Sampah Budidaya Maggot Pelihara Joper Ubah Perilaku Warga Sumberejo Ngablak Magelang

MAGELANG – Warga bersama Aparat Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bertekat mewujudkan desanya sebagai Desa Mandiri Pangan. Untuk merealisasikan keinginan mulia itu, aparat desa tidak langsung meluncurkan program peningkatan ekonomi masyarakat, tetapi berusaha terlebih dahulu mengubah perilaku warga.

Cara yang dilakukan aparat Desa Sumberejo itu didasarkan pada pengalaman saat dilaksanakan pemberian Bantuan Sosial Tunai (BST) bulan Mei 2020. Setelah menerima bantuan Rp600.000, warga tidak menggunakan untuk usaha ekonomi produktif, tetapi justru untuk belanja di pasar dan membeli pulsa.

“Satu hari setelah menerima bantuan, warga langsung berbondong-bondong ke Pasar Ngablak untuk belanja,” ujar Suwondo, Sekretaris Desa Sumberejo saat ditemui wartawan Wiradesa.co di rumahnya, Selasa (11/8/2020). Selain untuk belanja di pasar, uang bantuan juga untuk beli pulsa dan paketan internet. Jadi uang yang diberikan oleh pemerintah itu belum dua hari sudah habis.

Setelah mencermati perilaku warga di desanya, aparat desa bersama anggota BPD, dan tokoh masyarakat bermusyawarah untuk menentukan program agar bantuan pemerintah tidak habis dalam sekejap. Tetapi bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan perekonomian di desanya.

Kemudian muncul program pengelolaan sampah, budidaya Maggot, dan pemeliharaan ayam jenis Joper (Jowo Super). Program peningkatan ekonomi masyarakat yang akan dilaksanakan pada tahun 2021 itu sudah masuk menjadi dokumen Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa dan nantinya akan menjadi Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) Sumberejo.

Untuk mengubah perilaku warga Desa Sumberejo, perlu diberikan contoh dahulu. Karena jika tidak ada contoh nyata, maka warga akan susah berubah. Mereka tetap akan membuang sampah sembarangan dan susah melakukan sesuatu di luar kebiasaannya. Apalagi membudidayakan Maggot yang selama ini dianggap binatang menjijikkan, karena mirip belatung.

Memahami karakter warganya, Sekdes Sumberejo Suwondo melaksanakan dulu untuk mengumpulkan sampah, budidaya Maggot, dan memelihara ayam Joper di rumahnya. Suwondo dibantu anaknya Danu Wurdyanto dan beberapa warga mengumpulkan sampah rumah tangga, sisa buah, dan rempelan sayuran, kemudian dicacah, digiling, untuk dijadikan pakan Maggot. Kemudian hasil Maggot dijadikan pakan ayam Joper.

Baca Juga  Ki Seno Nugroho, Sosok Pemberi Pitutur Luhur

Danu Wurdyanto alumni Teknik Sipil Universitas Tidar terpanggil untuk mengatasi persoalan sampah di desanya. Sebenarnya ada kesempatan untuk bekerja di bidang konstruksi bangunan, tetapi anak pertama Suwondo ini memilih bekerja sebagai pengumpul sampah, memelihara lalat hitam (Black Soldier Fly) budidaya Maggot, dan ternak ayam Joper. Pekerjaan ini tidak hanya mengatasi persoalan sampah, tetapi juga mampu menghasilkan pendapatan untuk meningkatkan perekonomian keluarga.

Budidaya Maggot dari Lalat Hitam (BSF). (Foto: Ono/Wiradesa)

Di rumahnya ada dua alat pencacah sampah, dua tempat untuk pemeliharaan lalat BSF, sejumlah rak untuk telur dan penetasan Maggot, juga ada beberapa rak sebagai tempat pembesaran Maggot, Prepupa dan Pupa calon Lalat Hitam (BSF). Kemudian juga kandang ayam berisi 400 ayam Joper. “Semoga apa yang kami lakukan di rumah ini bisa menjadi contoh warga masyarakat Desa Sumberejo,” tegas Suwondo.

Baru sekitar empat bulan, usaha Suwondo dan anaknya sudah kelihatan hasilnya. Warga sudah memilah sampah dan diletakkan di tempat sampah yang tersedia di depan rumahnya. Dari sisi ekonomi, hasil Maggot selain untuk pakan ayam Joper juga bisa dijual. Permintaan pasar akan Maggot sangat tinggi. Harga Maggot Rp6.000 per kilogram, Prepupa Rp60.000 per kg, dan Pupa Rp80.000 per kg. “Banyak yang ingin membeli Maggot, tetapi kami belum mampu memenuhinya,” ujar Suwondo.

Program pemberdayaan ekonomi masyarakat terkait dengan pengelolaan sampah, budidaya Maggot, dan pemeliharaan ayam Joper sudah masuk APBDes Sumberejo. Nantinya pada anggaran 2021, ada 450 KK yang mendapatkan bantuan langsung tunai, setiap KK Rp600.000. Warga sepakat, besok uang bantuan pemerintah akan digunakan untuk budidaya Maggot dan memelihara ayam Joper.

Baca Juga  Terkonfirmasi 4 Pasien Sembuh Dari Covid-19 di Magelang
Pemeliharaan ayam Jowo Super (Joper). (Foto: Ono/Wiradesa)

Setiap kepala keluarga nantinya akan mendapatkan 100 ayam Joper dan sejumlah telur lalat hitam (BSF). Diharapkan setelah dua bulan bisa panen. Joper saat panen beratnya sekitar 1,2 kg. Harga Joper Rp30.000 per kg. Jadi nantinya warga akan memperoleh pendapatan dari ayam Joper Rp3.600.000. Setelah dipotong biaya pakan, hasil bersihnya sekitar Rp1.600.000. “Jadi setiap bulan warga akan mendapatkan tambahan pemasukan sekitar Rp800.000,” kata Suwondo.

Danu dan Nayaka, anak muda yang peduli lingkungan (Foto: Ono/Wiradesa)

Cara sistemik yang dilakukan aparat Desa Sumberejo mendapat apresiasi dari STIE Mitra Indonesia dan Asian Organic Farming Consultant. Karena menurut kedua lembaga ini untuk mengubah perilaku masyarakat harus dilakukan secara sistemik, tidak bisa langsung ke masyarakat. “Cara-cara sistemik itu akan menjamin keberlanjutan, sustainable,” kata Agustinus Hari Sutantya dari STIE Mitra Indonesia Yogyakarta yang mendampingi warga Desa Sumberejo.

STIE Mitra Indonesia bersama Asian Organic Farming Consultant mendampingi warga Desa Sumberejo melawan COVID-19. Berdasarkan analisisnya, Desa Sumberejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, berada di lereng Gunung Merbabu kaya hasil pertanian. Dari hasil pertanian tersebut menghasilkan 6 ton sampah pada 2019 didominasi sampah organik yang mencapai 60 persen dan sampah plastik 15 persen.

Pandemi COVID-19 mengakibatkan hampir semua sendi terutama perekonomian mengalami keterpurukan. Melalui program ketahanan pangan keluarga, STIE Mitra Indonesia dan Asian Organic Farming Consultant membantu mewujudkan ketahanan hidup dan pangan yang berkelanjutan. “Kami bersepakat, bersama, dan berbuat untuk peningkatan ekonomi masyarakat Desa Sumberejo yang berkelanjutan,” tegas Agustinus Hari Sutantya, CEO & Founder Mitra Desa Indonesia.

Tahap pertama, membentuk BUMDes. Sampah jenis organik disebut juga sampah basah dan terdiri dari bahan yang bisa terurai secara alamiah dipilah dan dikumpulkan. Yang termasuk sampah organik di antaranya adalah sisa sayuran hijau, buah-buahan, sayuran, termasuk sampah rumah tangga seperti tulang ayam, tulang ikan, telur, dan lainnya. Selanjutnya diolah oleh pengelola budidaya Maggot di BUMDes.

Baca Juga  Kunir Putih Menyehatkan, Memberdayakan dan Mengoptimalkan

Tahap kedua, budidaya. BUMDes memberikan bantuan telur BSF kepada setiap kepala keluarga sebagai media pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga. Maggot BSF akan memakan habis sisa sampah organik dan rumah tangga. Sebagai suatu kesatuan proses, dalam kurun waktu kurang lebih 20 hari Maggot akan bersiklus kembali bertelur yang akan menetas dan kembali menjadi Maggot BSF.

Tahap ketiga, sustainable life. Hidup yang berkelanjutan. Hasil budidaya Maggot, dibeli oleh BUMDes kembali melalui Unit Bank Sampah yang kemudian dijual ke pasar penampung. Hasil bisnis BUMDes dipergunakan untuk program desa seperti program pencegahan stunting. Hasil budidaya Maggot oleh warga juga dipergunakan sebagai pakan ayam atau unggas. Juga dipergunakan sebagai pakan lele dan ikan. Residu Maggot dijadikan pupuk pertanian.

Budiaya maggot untuk mewujudkan Desa Mandiri Pangan (Foto: Ono/Wiradesa)

Apa yang dilakukan aparat desa Sumberejo dan didukung STIE Mitra Indonesia serta Asian Organic Farming Consultant mendapat apresiasi Eling Aneka Mala anggota DPRD Kabupaten Magelang asal Desa Sumberejo. Menurutnya, langkah aparat desa Sumberejo terkait dengan upaya penanganan sampah, sesuai dengan bidangnya di Komisi 3 Lingkungan Hidup. Eling akan menggunakan kewenangannya untuk kesejahteraan warga Sumberejo. Apa yang akan dilakukan Ibu Eling baca di wiradesa.co.

Program peningkatan ekonomi masyarakat dengan pemanfaatan sampah, budidaya Maggot, dan pemeliharaan ayam Joper oleh Pemerintah Desa Sumberejo, Ngablak, yang dilaksanakan secara sistemik layak diacungi jempol. Cara sistemik ini, dirancang bersama di Musrenbangdes dan dimasukkan ke APBDes, dinilai terjamin keberlanjutannya. Sehingga apa yang dijalankan Desa Sumberejo bisa menjadi contoh model program peningkatan ekonomi masyarakat di desa-desa lainnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Ono/wiradesa.co)

Komentar

News Feed