oleh

Nayaka (14) Ingin Hidup Tanpa Limbah

YOGYAKARTAZero waste living. Hidup tanpa limbah. Inilah yang diidamkan Nayaka Pisundra (14 tahun). Meski masih relatif muda, dia terus menjalani dan mengampanyekan hidup bersih dan peduli bumi.

Sejak usia 12 tahun atau kelas 1 di SMP Tumbuh Yogyakarta, Naya, panggilan akrab Nayaka Pisundra, sudah aktif mengikuti kegiatan sosial yang terkait dengan pelestarian alam. Misalnya ikut menanam pohon magrove di Pantai Baros, Kretek, Bantul.

“Naya itu pati teriak-teriak jika ada banyak plastik di rumah,” ujar Aji Priyosukendro, ayah Nayaka, kepada wartawan Wiradesa.co, Kamis (13/8/2020). Selain aktif menanam, Naya juga terus kampanye anti plastik.

Sudah beberapa hari ini, Naya mengajak anak-anak di Perumahan Griya Tilania Asri Potorono, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk mengumpulkan sampah rumah tangga. Sampah itu kemudian dicacah, dihaluskan, untuk pakan Maggot.

“Aku tertarik budidaya Maggot, karena hewan ini bisa memakan sampah,” kata Naya. Selain itu, sisa sampah atau residunya bisa untuk pupuk tanaman. Ketua OSIS SMP Tumbuh ini semakin bersemangat, karena ternyata budidaya Maggot juga bisa menghasilkan pendapatan untuk meningkatkan ekonomi keluarga.

Dengan berbagai dampak yang ditimbulkan dari budidaya Maggot, sekarang Naya memfokuskan diri untuk mengatasi persoalan sampah dengan Maggot. Dia membuat demplot atau tempat untuk membudidayakan Lalat Hitam agar menjadi Maggot di samping Kebon Hydromili, milik orang tuanya.

Baca Juga  Mpok Mpon Minuman Rempah Penangkal Covid-19

Naya dengan dibantu ayah dan ibunya Tanti Julia Irawatiy membuat kandang Lalat Hitam (Black Soldier Fly). Juga menyiapkan tempat untuk telur dan penetasannya menjadi Maggot, serta tempat untuk membesarkan Maggot.

Pada percobaan pertama, belum berhasil dengan baik. Karena telur Lalat Hitam-nya sedikit dan hasilnya tidak maksimal. Tetapi Naya tidak patah arang. Naya diantar mentornya Agustinus Hari Sutantya untuk melihat dan belajar langsung tentang budidaya Maggot di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Hari Selasa (11/8/2020) pagi, Naya didampingi Agustinus Hari Sutantya (STIE Mitra Indonesia dan Founder Mitra Desa Indonesia) dan wartawan Wiradesa.co meluncur ke Sumberejo Ngablak, suatu tempat yang ada di lereng Gunung Merbabu. Sebelumnya Naya bertemu dan mendapat pembekalan dari TO Suprapto (Joglo Tani) dan Ibu Mintorowati (Budi Makmur) di Joglo Tani Sleman.

Naya bersama TO Suprapto, Ibu Min, dan Mas Hari (Foto: Ono/Wiradesa.co)

TO Suprapto yang berpengalaman di bidang pertanian, khususnya pertanian terpadu berharap banyak pada generasi muda, seperti Naya untuk mencintai bumi. Karena jika tidak dirawat, maka alam akan hancur dan tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik. Selanjutnya ketersediaan pangan terbatas dan akan menimbulkan bencana bagi kehidupan manusia. “Kita bersepakat, bersama, dan berbuat untuk bumi yang kita cintai ini ya anak. Kami akan selalu mendampingimu,” pesan TO Suprapto.

Baca Juga  Mbah Samson Perintis Angkringan Khas Bayat

Sedangkan Ibu Min berharap Naya menguasai tiga bahasa, minimal dua bahasa asing, yakni Bahasa Inggris dan China. Lebih bagus kalau ditambah dengan Bahasa Jepang. Karena untuk go international, maka penguasaan bahasa asing akan menentukan.

Naya memang tipe anak pembelajar. Dia dengan serius mendengarkan petuah para senior dan mampu berdiskusi soal pelestarian lingkungan. Maklum anak pertama pasangan Bobby dan Tanti ini nilai akademisnya istimewa. Saat lulus SD Muhammdiyah Sukonandi, Naya memperoleh ranking tiga paralel peraih nilai ujian nasional tertinggi SD di Yogyakarta.

Sesampai di Sumberejo, Ngablak, Magelang, Naya mendapat penjelasan dari Eling Aneka Mala anggota Komisi 3 DPRD Kabupaten Magelang, yang membidangi lingkungan hidup. Kemudian Suwondo, Sekretaris Desa Sumberejo dan Danu Wurdyanto anak muda lulusan Teknik Sipil Universitas Tidar yang mengelola sampah dan budidaya Maggot.

Suwondo kagum dengan sikap Naya. Sebagai sosok remaja kota, Naya tidak jijik mengaduk-aduk sampah pakan Magoot. Bahkan dia berani masuk ke tempat Lalat Hitam. Padahal ketika ada orang yang masuk kandang lalat, pasti ribuan Lalat Hitam akan menempel di bajunya.

Baca Juga  Mus, Jualan Nira Siwalan Demi Keluarga

Naya yang lahir di Yogyakarta 14 Maret 2006 ini melihat dan belajar langsung bagaimana cara budidaya Lalat Hitam. Cara memisahkan telur, menetaskan, membesarkan Maggot, memisahkan Prepupa dan Pupa. Selain itu juga pemeliharaan ayam Jowo Super (Joper) di sekitar tempat budidaya Maggot.

Sehingga Naya, anak remaja ini mengetahui cara pengelolaan sampah, pengambilan sampah pasar, rumah tangga, dan sisa sayur untuk dihaluskan menjadi pakan Maggot. Hasil Maggotnya untuk pakan ternak Joper dan ikan, residunya untuk pupuk tanaman sayur. Kemudian Jopernya bisa dijual di pasar yang bisa meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.

Nayaka bersama Danu (Foto: Ono/Wiradesa.co)

Jadi sebenarnya ada berkah di balik sampah. Limbah ini jika dimanfaatkan dengan benar bisa mendatang uang. Mengatasi persoalan limbah, mendatangkan kesejahteraan. Maggot menjadi salah satu solusi untuk mengatasi persoalan sampah dan persoalan kesejahteraan masyarakat pada masa pandemi COVID-19.

Naya dan juga anak-anak muda Indonesia menjadi ujung tombak bagi penyelamatan bumi yang kita cintai. Tanpa diminta, Naya, bintang tamu “Bukan Bakat Biasa” di Trans TV, “Litle VIP” di Metro TV, dan “Litle Big Shot” di GTV sudah tumbuh kesadarannya untuk menjaga kelestarian lingkungan. Naya sudah memantapkan diri untuk hidup tanpa limbah. Kita perlu mendampingi dan mendukungnya. (Ono/Wiradesa.co)

Komentar

News Feed