oleh

Festival Sastra Yogya 2026 Digelar Sepekan Lebih, Ribuan Karya Puisi Tercipta

JOGJA.SIBERINDO.CO – Festival Sastra Yogyakarta (FSY) resmi digelar Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan selama sepekan lebih pada 23-30 Agustus 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta. FSY yang rutin diadakan sejak 2021 itu, kali ini mengangkat tema Laku. Para pecinta sastra menyambut antusias FSY. Terbukti ada ribuan karya puisi masuk dalam sayembara puisi nasional yang menjadi salah satu rangkaian acara FSY.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan melalui FSY berbagai ruang dibuka untuk mempertemukan penulis dan pembaca, penerbit dan penulis, komunitas dan masyarakat, serta tradisi dengan gagasan baru. FSY 2026 lahir dari kerja bersama Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY, Suku Sastra, Jawacana, Balai Bahasa DIY, Prodi Bahasa Sastra dan Budaya Jawa UGM, Magister Sastra UGM, Dinas Koperasi dan UMKM DIY, komunitas aksara Jawa se-DIY dan Jawa Tengah, serta para sastrawan, budayawan, akademisi, penerbit, komunitas, dan pelaku ekosistem sastra.

“Festival Sastra Yogyakarta tahun ini kami memilih tema LAKU. LAKU mengingatkan kita bahwa kebudayaan hidup ketika dijalankan. Begitu pula sastra. Ia hidup dalam kata yang ditulis, dibaca, dan diwariskan. Karena itu, LAKU bukan sekadar tema, melainkan cara kita menjalani kebudayaan. Membaca menjadi cara memahami. Menulis menjadi cara menyuarakan. Berdialog menjadi cara mempertemukan perbedaan,” kata Yetti saat pembukaan FSY 2026, Minggu (23/8/2026).

FSY 2026 menampilkan Pasar Buku Sastra, diskusi, pameran, workshop penulisan, poetry jam, open stage sastra, seminar, orasi budaya, dan berbagai pertunjukan yang membawa sastra keluar dari halaman buku untuk hadir di tengah kehidupan. Salah satu daya tarik FSY setiap tahun adalah sayembara puisi nasional yang diikuti dari berbagai daerah. Yetti menyebut pada FSY tahun ini sayembara puisi nasional diikuti 1.687 peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang mengirimkan 4.136 karya puisi.

“Bagi kami, angka itu bukan sekadar statistik. Ketika ribuan orang memilih mengirimkan puisinya, kita mendapat satu kabar baik, kata-kata masih dipercaya untuk menyampaikan perasaan, pikiran, kegelisahan, dan harapan manusia,” paparnya.

Baca Juga  Berterima Kasih ke SMSI Sumut Telah Donorkan Darah, PMI Medan: Selamat HUT ke-7 SMSI

Menurutnya Yogyakarta tumbuh dari perjumpaan, sastra Indonesia dan sastra Jawa saling menyapa, tradisi bertemu kebaruan, dan buku menemukan pembacanya. FSY menjadi milik masyarakat dan tumbuh dari kerja bersama. Sebab kebudayaan adalah nyala yang kita jaga agar terus sampai kepada generasi berikutnya. Pihaknya mengucapkan terima kasih kepada seluruh komunitas dan pelaku sastra karena bersama-sama menjaga ruang sastra tetap tumbuh.

“Sebuah festival tidak pernah selesai ketika panggung ditutup. Keberhasilannya justru terlihat dari apa yang tumbuh setelahnya. Apakah lahir pembaca baru, penulis yang semakin kreatif, komunitas yang menemukan ruang baru.Itulah yang ingin kami hadirkan melalui Festival Sastra Yogyakarta,” tutur Yetti.

Salah satu kurator FSY 2026 Paksi Raras Alit menyampaikan FSY sejak awal dirancang sebagai ruang perjumpaan bersama. Kemudian dari sanalah ide untuk menggelar perjumpaan lahir yang akhirnya berkembang menjadi festival. Gagasan tersebut dinilai sejalan dengan tema Laku yang dibawa dalam FSY tahun 2026. “Ini sejalan dengan tema LAKU yang menempatkan festival sebagai proses jangka panjang yang harus terus dihidupi dan dijalani. FSY juga dibiarkan berkembang secara organik tanpa bentuk yang kaku dan final,” tambah Paksi.

Baca Juga  HPN 2023: Firdaus Kawal Ekspedisi Danau Toba 4-7 Februari

Sementara itu kurator FSY lainnya Fairuzul Mumtaz menegaskan FSY memiliki fokus yang spesifik pada bidang sastra dan humaniora di tengah banyaknya kegiatan literasi yang berkembang di Yogyakarta. “Orientasi inti kami tetap pada sastra dan humaniora,” ujar Fairuzul.

Selama delapan hari festival, FSY menghadirkan sekitar 100 pembicara dan pengisi acara, 36 sesi acara, serta 12 komunitas yang berpartisipasi. Salah satu inisiatif baru tahun ini adalah pengenalan sastra koding sebagai bagian dari karya sastra bersama komunitas Suku Sastra. Seluruh rangkaian kegiatan FSY terbuka untuk masyarakat umum dan gratis.(***)

News Feed