dr A. Evi Handayani ngsih PhD SpPD
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Divisi Geriatri Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada
PANDEMI Covid-19 memberikan dampak pada semua golongan usia. Sampai dengan bulan Februari 2021 tercatat 10,6% dari seluruh kasus positif di Indonesia berusia lebih dari 60 tahun. Dibandingkan kelompok usia yang lebih muda, kelompok usia lanjut memiliki tingkat mortalitas yang jauh lebih tinggi. Sebanyak 47,81% lansia yang positif Covid-19 meninggal dunia di Indonesia.
Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kerentanan lansia pada penyakit infeksi terutama Covid-19. Proses penuaan merupakan proses yang kompleks dan menyeluruh terjadi dalam tubuh manusia. Pada lansia, terjadi perubahan pada sistem kekebalan tubuh yang disebut immunosenescence. Immunosenescence ini meliputi penurunan fungsi sel-sel darah putih dalam memakan organisme asing (gangguan proses fagositosis), penurunan fungsi dan koordinasi sel limfosit dalam memproduksi antibodi, dan peningkatan agen-agen peradangan dalam tubuh dalam derajat rendah dan bersifat kronis. Selain itu, kondisi multipatologis dan penurunan status fungsional pada usia lanjut sering menyebabkan klinis infeksi yang lebih buruk dan lama rawat inap yang lebih lama.
Faktor jenis kelamin juga berpengaruh terhadap tingkat mortalitas pasien lansia dengan Covid-19. Penelitian menyebutkan bahwa pada infeksi Covid-19 lansia pria memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi daripada wanita. Beberapa hipotesis diajukan untuk menjelaskan fenomena ini, antara lain faktor penurunan jumlah sel limfosit T dan limfosit B pada lansia pria yang lebih banyak dibandingkan lansia wanita, dan pengaruh hormonal. Testosteron pada pria diduga dapat menyebabkan peningkatan virus SARS-Cov2 yang masuk ke dalam sel. Di lain pihak, terdapat penelitian bahwa estrogen pada wanita dapat memproteksi perburukan kondisi akibat Covid-19.
Menyadari bahwa populasi lansia merupakan populasi rentan terhadap Covid-19, saat ini pemerintah telah melakukan vaksinasi Covid-19 pada populasi lansia. Vaksin sendiri didefinisikan sebagai suatu agen biologis yang dapat memicu terbentuknya respon kekebalan terhadap suatu penyakit. Agen biologis ini dapat berupa organisme yang dilemahkan, organisme yang dimatikan ataupun hanya salah satu bagian dari organisme penyebab penyakit tersebut. Covid-19 untuk Lansia di Ibu Kota Provinsi", Klik untuk baca: https://nasional.kompas.com/read/2021/02/20/09081521/7-juta-dosis-vaksin-covid-19-untuk-lansia-di-ibu-kota-provinsi?page=all. Penulis : Tsarina Maharani Editor : Irfan Maullana Download aplikasi Kompas.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat: Android: https://bit.ly/3g85pkA iOS: https://apple.co/3hXWJ0L">Vaksin penting dalam bidang kesehatan masyarakat karena vaksin dapat menciptakan kondisi herd immunity. Artinya, vaksin tidak hanya memberikan kekebalan secara individual pada orang yang menerima vaksin saja, tetapi juga memberikan efek kekebalan untuk komunitas yang lebih luas. Pada herd immunity, seorang individu yang belum mendapatkan vaksinasi dapat mengandalkan kekebalan kawanan anggota masyarakat di sekitarnya untuk melindungi dirinya dari penyakit infeksi tertentu.
Suatu produk vaksin harus melalui proses penelitian yang panjang dan rumit supaya dapat beredar di masyarakat. Pertama, penemuan kandidat vaksin harus melalui penelitian laboratorium yang ketat. Setelah kandidat vaksin dapat diproduksi, kandidat vaksin tersebut harus melalui proses uji klinis untuk mengetahui efikasi dan keamanannya. Terdapat empat fase penelitian yang harus dijalankan, Fase-fase awal uji klinis ditujukan untuk memastikan keamanan kandidat vaksin tersebut pada manusia. Jumlah subyek yang dilibatkan pada fase-fase awal ini ditingkatkan secara bertahap dari belasan orang sampai ratusan orang. Bila sudah terbukti bahwa kandidat vaksin tersebut aman pada populasi terbatas, kemudian dilakukan uji klinis fase keempat yang bertujuan untuk mengetahui efikasi dan keamanan dengan populasi yang lebih besar dan mencapai ribuan orang.
Jenis vaksin Covid-19 yang saat ini telah beredar di Indonesia adalah vaksin Coronavac yang diproduksi oleh Sinovac. Vaksin ini berasal dari virus yang telah dimatikan, Vaksin Coronavac telah menjalani uji klinis di tiga negara, yaitu Turki, Brazil dan Indonesia. Pada uji klinis tersebut, hanya Brazil yang mengikutsertakan populasi lansia dan populasi tenaga kesehatan. Uji klinis di tiga negara tersebut memberikan hasil efikasi yang berbeda, yaitu 91,25% di Turki, 50,38% di Brazil dan 65,3% di Indonesia. Perbedaan hasil efikasi uji klinis vaksin Sinovac di ketiga negara dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, misalnya faktor intrinsik individu yang menjadi sampel penelitian (usia, penyakit yang diderita, jenis kelamin), faktor tingkah laku individu yang menjadi sampel penelitian termasuk di dalamnya faktor kebersihan diri dan proteksi terhadap penyakit paru menular, faktor nutrisi, faktor lingkungan, dan faktor teknik pemberian vaksinasi, dan lainnya. Dari sisi keamanan, hasil penelitian menunjukkan tingkat keamanan vaksin Coronavac cukup tinggi. Efek samping terbanyak yang telah dilaporkan berupa reaksi lokal dan nyeri pada tempat penyuntikan, artralgia, myalgia dan demam.
Penggunaan vaksin Coronavac pada lansia telah disetujui oleh Badan POM dan Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI). Dalam rekomendasinya, PAPDI menyebutkan bahwa untuk indivudu dengan usia > 59 tahun, kelayakan vaksinasi Coronavac ditentukan oleh kondisi frailty (kerapuhan) individu tersebut yang diperoleh dari kuesioner RAPUH. Terdapat 5 item yang terdapat pada kuesioner tersebut. Bila nilai yang diperoleh >2 maka seorang lansia tidak layak mendapat vaksinasi Coronavac. Penilaian pada kuesioner RAPUH meliputi:
- Dengan berdiri sendiri atau tanpa bantuan alat, apakah mengalami kesulitan untuk naik 10 tangga dan tanpa istirahat di antaranya?
- Seberapa sering dalam 4 minggu merasa kelelahan?
- Apakah dokter pernah mengatakan pada anda tentang penyakit anda?
- Dengan berdiri sendiri atau tanpa bantuan alat, apakah mengalami kesulitan berjalan sekitar 100-200 meter?
- Apakah mengalami penurunan berat badan >5% selama 1 tahun?
Vaksinasi pada lansia merupakan salah satu cara untuk melindungi populasi rentan ini terhadap infeksi Covid-19. Akan tetapi vaksin hanya dapat diberikan pada lansia dengan yang sehat dan memiliki derajat frailty yang rendah. Tidak semua lansia dapat menerima vaksin Coronavac, sehingga diperlukan pendekatan-pendekatan lain untuk menghindarkan lansia dari infeksi Covid-19. Pendekatan ini dapat berupa usaha untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh lansia seperti menjaga nutrisi, tidur yang cukup, olah batin untuk menjaga semangat dan cara berpikir positif, berjemur, teratur minum obat rutin. Selain itu, pendekatan 5M tidak boleh dilupakan. Pendekatan 5M ini berupa memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi. Mari mencintai kakek nenek di sekitar kita dengan menjaga mereka supaya tidak terkena infeksi Covid-19 di masa pandemi ini. (*)
Daftar Pustaka
Gebhard C, Regitz-Zagrosek V, Neuhauser HK, Morgan R, Klein SL, 2020. Impact of sex and gender on Covid-19 outcomes in Europe. Biol Sex Differ 11(1):29.
Palacios R, Patino EG, et al. 2020. Double-Blind Randomized, Placebo-Controlled Phase III Clinical Trial to Evaluate the Efficacy and Safety of treating Healthcare Professionals with the Adsorbed Covid-19 Vaccine Manufactured by Sinovac – PROFISCOV: A structured summary of a study for a randomised controlled trial. Trials 21(1): 853.
Wahyudi ER, Dwiamartutie N, Yasmine E. Vaksinasi pada usia lanjut. In: Pedoman Imunisasi Pada Orang Dewasa 2017. Interna Publishing, Jakarta Pusat.
Xia S, Duan K, Zhang Y, et al. 2020. Immunogenicity Outcomes: Interim Analysis of 2 Randomized Clinical Trials. JAMA 324(10):951.











Komentar