oleh

Dewi Mapan Ketingan: Bersama Bersepakat Usaha Sayuran Hidrophonik Ternak Lele dan Budidaya Magot

Jogja.siberindo.co – Warga Ketingan yang dimotori Mardiarto dan Subianto menegaskan tekat bersama bersepakat dan berbuat untuk dusunnya. Mereka mendirikan Desa Wisata Mandiri Pangan (Dewi Mapan) untuk mengatasi pengangguran akibat wabah Covid-19 dan tergusurnya lahan pertanian akibat pembangunan jalan tol.

Mardiarto, pemrakarsa Dewi Mapan, mengemukakan akibat Covid-19 kini banyak pengangguran di dusunnya, Dusun Ketingan, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keprihatinan itu masih ditambah dengan banyaknya lahan pertanian yang tergusur untuk pembangunan jalan tol Yogyakarta-Solo.

“Untuk mengatasi persoalan pengangguran, kami sepakat untuk berusaha bersama di bidang perkebunan, perikanan, peternakan, dan membuka pasar sendiri dari hasil usaha bersama,” ujar Mardiarto saat menerima dukungan dari TO Suprapto (Joglo Tani), Ibu Mintorowati (Budi Makmur Jaya Murni), dan Agustinus Hari Sutantya (STIE Mitra Indonesia) di Ketingan, Sabtu (8/8/2020).

Warga bersama, bersepakat, dan berbuat untuk mengembangkan Desa Wisata Mandiri Pangan (Foto: Ono/Wiradesa)

Usaha bersama Dewi Mapan menarik untuk diperhatikan, karena tidak lazim atau biasa dilakukan oleh para petani kebanyakan. Misalnya di bidang perkebunan, Dewi Mapan menerapkan sistem berkebun dengan hidrophonik. Kemudian perikanannya, memanfaatkan air buangan dari hidrophonik. Sedangkan peternakannya, selain ternak ayam dan sapi, juga membudidayakan Magot, semacam belatung yang selama ini dianggap tidak ada nilai ekonomisnya bagi warga Ketingan.

Baca Juga  Gurihnya Tongseng Kambing dengan Bumbu Rempah Kuat Meresap

Semua usaha pertanian terpadu Dewi Mapan tersebut tidak memerlukan lahan yang luas. Karena dengan sistem yang dikembangkan Joglo Tani, Budi Makmur, dan STIE Mitra Indonesia, pertanian terpadu tidak perlu lahan yang luas. Dengan lahan sekitar 200 m2 saja sudah bisa untuk menanam sayur, ternak lele, dan budidaya Magot.

Sayuran Hidrophonik, sayuran sehat, sayuran bebas pestisida (Foto: Ono/Wiradesa)

Untuk memotivasi warga, Dewi Mapan telah menjalankan atau mengawali usaha pertanian terpadu. Dengan sistem hidroponik, lahan terbatas bisa untuk menanam sayur-sayuran mulai dari sawi, seledri, bayam, kangkung, pagoda, dan lainnya. Misalnya dengan lahan 1,5 m kali 6 meter atau 9 m2 saja sudah bisa untuk menanam 270 sayuran (lobang) dan 6 kolam lele (buis beton).

Lahan 9 m2 dipasang 7 pipa dengan 270 lobang. Lobang-lobang ini ditanami berbagai tanaman sayuran, mulai dari sawi, bayam, pagoda, kangkung, seledri, dan lainnya. Kemudian di bawahnya diletakkan 6 buis beton untuk ternak lele. Setiap buis beton dengan diameter 80 cm diisi 300 lele. “Setiap 30 hari, kita panen sayur dan lele,” ujar Mardiarto.

Budidaya Magot

Selain usaha pertanian terpadu dengan sistem hidroponik, Dewi Mapan juga membudidayakan Magot, sejenis belatung. Tempat telur dan indukan sudah terbangun di sisi area lahan hidroponik. Sedangkan untuk produksi sedang dibangun dengan cukup modern di lahan milik usaha bersama Dewi Pangan.

Baca Juga  UGM Bagikan 3 Ekor Sapi Kurban pada Iduladha 1441 H

Tempatnya dibuat terkotak-kotak dengan bangunan beton. Setiap kotak berukuran 2 kali 50 meter. Diperkirakan setiap kotak akan menghasilkan 1 ton Magot. Pakan Magot didapatkan dari limbah penyamaan kulit Budi Makmur Jaya Murni pimpinan Ibu Min. Harga Magot sekitar Rp6.000 sampai Rp9.000 per kilogram. Untuk Magot kering harganya Rp60.000 sampai Rp100.000 per kilogram, Magot tepung Rp130.000 per kilogram, dan minyak Magot harganya Rp270.000 per liter.

Pendiri Joglo Tani, TO Suprapto, sangat mendukung upaya warga Ketingan untuk mandiri pangan. Menurutnya ada tiga tahapan soal pangan, pertama ketahanan pangan, kedua kemandirian pangan, dan ketiga kedaulatan pangan. “Kalau ketahanan pangan itu tersedia pangan, entah dari mana pangan tersebut,” ujar TO Suprapto. Sedangkan kemandirian pangan itu masyarakat bisa memenuhi pangannya sendiri. Makan apa yang ditanam, menanam apa yang dimakan. Kedaulatan pangan itu menanam dengan bibit sendiri, pupuk sendiri, dan mampu juga menciptakan pasar sendiri.

Sedangkan Agustinus Hari Sutantya dari STIE Mitra Indonesia mengungkapkan pasar Magot sangat terbuka dan banyak. Permintaan sangat banyak, tetapi produksinya masih terbatas atau sedikit. “Jadi upaya budidaya Magot oleh Dewi Mapan sangat prospektif dengan masa depan yang cerah dari sisi bisnis. Selain itu juga baik untuk pemberdayaan masyarakat, karena setiap rumah bisa membudidayakan Magot sendiri,” papar Agustinus Hari Sutantya, CEO & Founder Mitra Desa Indonesia.

Baca Juga  Syawalan, Warga Buluspesantren Gelar Tradisi Gerobakan

Pada kesempatan kunjungan lapangan, Ibu Min, pengusaha penyamaan kulit Budi Makmur Jaya Murni sudah madep mantep untuk menyalurkan limbahnya ke Dewi Mapan. Limbah dari sesetan kulit ternak, terdapat sisa daging, gajih, dan bulu sangat cocok untuk pakan Magot. Budi Makmur bersama STIE Mitra Indonesia sudah melakukan uji coba, hasilnya dengan pakan limbah kulit, pertumbuhan Magot cepat besar. “Melihat kesiapan lahan dan SDM, kami sudah madep mantep menyalurkan limbah kulit ke Dewi Mapan Ketingan,” tegas Ibu Min.

Usaha bersama Dewi Mapan untuk mengatasi pengangguran di dusunnya mendapat dukungan dari berbagai pihak. Semoga contoh usaha yang dilakukan Mardiarto dan kawan-kawan menjadi contoh bagi warga sekitar. Diharapkan warga juga melaksanakan sendiri menanam sayuran dan beternak lele dengan sistem hidroponik serta budidaya Magot. Dewi Mapan siap untuk menampung dan menjualnya di pasar yang sudah dirancang bersama. (Ono/wiradesa.co)

Komentar

News Feed